Buka konten ini

Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
MUNGKIN banyak di antara kita yang belum familier dengan hantavirus. Penyakit itu merupakan infeksi zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Jangan anggap remeh. Ini bukan sekadar infeksi biasa. Dalam kasus yang parah, tingkat kematiannya dapat mencapai 50 persen.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, ada 10 ribu hingga lebih dari 100 ribu infeksi setiap tahun. Kasus terbanyak terjadi di wilayah Asia dan Eropa.
Hantavirus kali pertama menyita perhatian dunia pada masa Perang Korea (1950–1953). Saat itu lebih dari 3 ribu tentara PBB terinfeksi penyakit demam berdarah yang disertai gangguan ginjal. Namun, virus pemicunya, yaitu virus Hantaan (HTNV), baru berhasil diisolasi pada 1976 oleh ilmuwan bernama Lee Ho-wang.
Dunia kembali digemparkan pada 1993 ketika muncul sindrom pernapasan misterius di wilayah Four Corners, AS. Temuan tersebut mengarah pada identifikasi jenis hantavirus baru yang diberi nama Sin Nombre. Sejak saat itu, berbagai jenis hantavirus telah ditemukan di hampir seluruh benua.
Inang Utama
Berbeda dengan virus lain yang mungkin ditularkan lewat gigitan nyamuk, inang alami hantavirus adalah hewan pengerat (rodensia) seperti tikus dan celurut. Virus itu bersarang di dalam tubuh tikus tanpa membuat hewan tersebut jatuh sakit. Namun, tikus tersebut secara terus-menerus membuang virus itu melalui urine (air kencing), feses (kotoran), dan air liurnya. Manusia biasanya tertular melalui cara-cara seperti, pertama, pernapasan (inhalasi). Manusia menghirup udara yang telah tercemar partikel virus dari urine, feses, atau air liur tikus.
Kedua, kontak langsung, yakni menyentuh kotoran tikus, lalu tanpa sengaja memegang mulut atau hidung dengan tangan kotor. Ketiga, gigitan tikus. Walaupun sangat jarang terjadi, gigitan tikus juga bisa menularkan virus.
Target utama hantavirus adalah sel endotel, yakni sel-sel yang melapisi pembuluh darah kapiler manusia. Uniknya, virus itu tidak langsung membunuh sel-sel tersebut. Kerusakan justru terjadi karena virus mengganggu fungsi pelindung pembuluh darah sehingga memicu kebocoran cairan dari pembuluh darah ke jaringan di sekitarnya.
Bergantung pada jenis virusnya, kebocoran cairan itu paling sering terjadi pada ginjal yang bisa berujung pada gagal ginjal. Jika terjadi pada paru-paru, kebocoran itu menyebabkan penumpukan cairan yang membuat pasien sesak napas. Respons kekebalan tubuh yang bereaksi terlalu berlebihan (’’badai sitokin’’) menjadi pemicu utama parahnya gejala penyakit itu.
Sitokin –yang sejatinya merupakan protein pembawa pesan dalam sistem imun– justru memicu demam tinggi, syok, meracuni tubuh secara sistemik, dan memperburuk kondisi pasien. Badai sitokin tersebut memperparah kebocoran cairan di kantong udara paru-paru sehingga memicu gagal napas dan syok pada jantung dan kerusakan serupa pada organ ginjal.
Deteksi Dini
Infeksi hantavirus memicu dua bentuk sindrom utama pada organ yang diserangnya. Yaitu, pertama, haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Sindrom itu paling banyak ditemukan di kawasan Eropa dan Asia. Gejalanya meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri punggung, hingga menurunnya fungsi ginjal dan timbulnya perdarahan.
Kedua, hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS). Sindrom itu mendominasi wilayah benua Amerika. Penyakit tersebut berkembang sangat cepat. Berawal dari gejala mirip flu biasa, lalu dalam hitungan jam memburuk menjadi sesak napas parah, batuk, dan syok jantung karena paru-paru dipenuhi cairan.
Masa inkubasi virus itu cukup lama, biasanya 1–8 minggu sejak pasien terpapar tikus. Karena gejala awalnya sangat mirip penyakit lain seperti influenza, Covid-19, atau demam berdarah, diagnosis hantavirus menuntut ketelitian tinggi dari tenaga medis. Dokter akan memeriksa riwayat pasien, terutama memastikan apakah mereka baru saja beraktivitas di area yang banyak tikusnya atau sehabis bepergian ke daerah rawan.
Konfirmasi laboratorium dilakukan melalui: (1) tes serologi untuk mendeteksi antibodi khusus dalam darah yang melawan hantavirus dan (2) tes molekuler (RT-PCR) untuk melacak materi genetik virus pada fase awal terjadinya infeksi.
Hingga saat ini, belum ada obat antivirus khusus maupun vaksin berlisensi yang mampu menyembuhkan infeksi hantavirus.
Kunci utama untuk menyelamatkan nyawa pasien adalah deteksi dini dan perawatan pendukung di rumah sakit. Pasien HCPS dalam kondisi parah sering kali membutuhkan bantuan ventilator atau alat oksigenasi darah (ECMO) agar jantung dan paru-parunya tetap berfungsi. Sementara pasien HFRS mungkin membutuhkan prosedur cuci darah (dialisis) jika ginjalnya mengalami kegagalan akut.
Karena terbatasnya langkah pengobatan, pencegahan menjadi senjata terbaik kita. Cara yang paling efektif adalah memutus total kontak dengan tikus melalui langkah-langkah berikut: (1) menutup lubang di rumah yang bisa menjadi jalan masuk tikus. (2) Menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat. (3) Jangan pernah menyapunya dalam kondisi kering saat membersihkan area yang dicurigai sebagai sarang tikus. Sebba, partikel virus dapat beterbangan ke udara dan terhirup.
Hantavirus mengingatkan kita bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar urusan kenyamanan, melainkan benteng pertahanan utama kita dalam melawan ancaman penyakit mematikan yang tak kasatmata. (*)