Buka konten ini

MENJALANI puasa di bulan Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan haus. Di balik ibadah tersebut, tubuh juga melakukan penyesuaian karena harus beraktivitas tanpa asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Agar tetap bugar, tubuh perlu menjaga keseimbangan cairan dan energi.
Karena itu, pemenuhan cairan menjadi salah satu kunci utama agar puasa tetap nyaman dijalani. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal-hipertensi dari Siloam Hospital Jakarta, Dina Nilasari, menjelaskan bahwa menjaga asupan cairan saat sahur dan berbuka sangat penting untuk mencegah dehidrasi.
Menurutnya, selama Ramadan masyarakat perlu memastikan kebutuhan minum tetap terpenuhi. Waktu terbaik untuk mencukupi cairan adalah saat sahur dan berbuka puasa.
Kebutuhan cairan orang dewasa umumnya sekitar dua liter per hari atau setara dengan delapan gelas air. Namun, cara meminumnya sebaiknya tidak sekaligus dalam jumlah banyak ketika berbuka karena dapat membuat perut terasa penuh dan kembung.
Sebaliknya, air sebaiknya diminum secara bertahap, misalnya saat berbuka puasa, setelah salat tarawih, dan saat sahur. Pola tersebut membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih baik sekaligus menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik karena lebih mudah diserap tubuh dibandingkan minuman manis atau berperisa.
Batasi Kopi dan Teh Saat Sahur
Sebagian orang terbiasa minum kopi atau teh saat sahur agar tidak mengantuk. Namun, minuman berkafein memiliki efek diuretik yang dapat merangsang produksi urine sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Karena itu, konsumsi kopi saat sahur sebaiknya dihindari. Jika tetap ingin menikmatinya, minuman tersebut lebih baik dikonsumsi saat berbuka puasa dan dalam jumlah yang tidak berlebihan.
Buah Lebih Baik Dikonsumsi Utuh
Selain air putih, cairan juga bisa diperoleh dari buah-buahan. Namun, cara mengonsumsinya juga perlu diperhatikan. Mengonsumsi buah secara utuh dinilai lebih baik dibandingkan jus yang telah disaring.
Serat yang terdapat pada buah membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah tidak melonjak secara tiba-tiba. Sebaliknya, jus yang telah disaring kehilangan sebagian seratnya sehingga gula lebih cepat diserap tubuh.
Hal ini juga perlu diperhatikan pada produk jus kemasan yang sering mengklaim tidak mengandung tambahan gula. Tanpa serat, kandungan gula tetap dapat diserap tubuh dengan cepat.
Jika ingin mengonsumsi jus, sebaiknya dibuat sendiri di rumah tanpa tambahan gula agar manfaat buah tetap maksimal.
Bijak Mengonsumsi Pemanis
Tren penggunaan pemanis rendah kalori saat ini semakin populer. Namun, penggunaannya tetap perlu dibatasi. Beberapa pemanis buatan sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan, terutama dalam jangka panjang.
Sebagai alternatif, pemanis alami dapat menjadi pilihan, meskipun jumlahnya tetap perlu dikontrol agar tidak berlebihan.
Boleh Makan Manis Saat Berbuka
Saat waktu berbuka tiba, banyak orang memilih makanan manis untuk mengembalikan energi. Kurma menjadi salah satu pilihan yang umum dikonsumsi dan masih tergolong aman jika dimakan dua hingga tiga butir.
Namun, kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak makanan manis, gorengan, atau makanan berbahan tepung sebaiknya dihindari karena dapat membuat tubuh terasa berat dan kurang nyaman.
Hal serupa juga berlaku pada madu atau campuran susu dengan kurma. Meski alami, kandungan gulanya tetap tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dengarkan Kondisi Tubuh
Pada dasarnya, puasa aman dijalani oleh orang yang sehat selama kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi. Namun, bagi yang memiliki riwayat penyakit tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalankan ibadah puasa.
Dengan pola makan dan minum yang tepat, tubuh tetap segar, energi terjaga, dan ibadah puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman hingga akhir Ramadan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO