Buka konten ini

Siang itu, langit Letung tampak kelabu. Angin laut membawa aroma asin, menyapu lapak-lapak seadanya di sekitar Pelabuhan Berhala. Di antara deru ombak dan suara kapal yang bersandar, beberapa pedagang terlihat sibuk menata dagangan mereka.
JUNAI, satu di antara para pedagang di kawassan Pelabuhan Letung, berdiri di pinggir Pelabuhan Berhala, Letung.
“Saya ni jual makanan berat dan aneka kerupuk untuk penumpang kapal,” ujarnya sambil merapikan wadah kerupuk yang mulai lembap. “Kalau hujan, ya basah kuyup kami.” jelasnya.
Bagi Junai dan pedagang lain, hujan bukan hanya soal air yang turun dari langit, tapi juga ujian kesabaran. Setiap kali langit menumpahkan hujan deras, dagangan mereka basah, pembeli menepi, dan rezeki ikut menguap. Mereka tak punya pilihan selain bertahan berjualan di ruang terbuka tanpa atap, berharap cuaca bersahabat.
Selama ini, para pedagang asongan di Pelabuhan Berhala menjadikan pelataran pelabuhan sebagai tempat menggantungkan hidup. Mereka hadir setiap kapal bersandar, menawarkan makanan, minuman, dan camilan kepada penumpang yang baru tiba atau hendak berangkat. Meski sederhana, usaha itu menjadi penopang ekonomi keluarga.
Namun, tanpa tempat bernaung yang layak, kenyamanan menjadi kemewahan. Panas menyengat di siang hari, hujan mengguyur di sore hari, tapi roda ekonomi kecil di pelabuhan itu tak pernah berhenti. “Kalau pun basah, ya tetap dijual. Sayang kalau dibuang,” kata Junai lirih.
Harapan sederhana mereka: sebuah kios. Tempat yang bisa melindungi dagangan dari panas dan hujan, sekaligus membuat kawasan pelabuhan lebih tertata. “Kalau ada kios, enak. Penumpang pun bisa beli dengan nyaman,” tambahnya.
Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, mengakui persoalan itu bukan hal baru. Ia menyebut pemerintah daerah sebenarnya sudah menyiapkan rencana pembangunan kios bagi pedagang asongan di Pelabuhan Berhala. Namun, realisasi proyek tersebut terkendala status kepemilikan lahan.
“Pelabuhan itu milik Kementerian Perhubungan, jadi kami belum bisa langsung membangun,” jelas Aneng.
Meski begitu, ia memastikan pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari solusi. “Kami ingin pedagang bisa berjualan dengan layak tanpa mengganggu aktivitas pelabuhan,” ujarnya.
Sementara itu, sore kembali datang di Pelabuhan Berhala. Junai menatap laut yang mulai tenang setelah hujan reda. Di balik kelelahan dan pakaian yang masih lembap, terselip harapan besar: semoga suatu hari nanti, mereka tak lagi harus berjualan sambil menantang hujan. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY