Buka konten ini
BATAM (BP) – Sebanyak 743 jemaah calon haji (JCH) asal Kota Batam dipastikan siap berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun 2025. Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam, Syahbudi, mengatakan, para jemaah akan diberangkatkan dalam tiga kelompok terbang (kloter) berbeda.
“Alhamdulillah, untuk tahun ini, Batam mendapatkan kuota 743 calon jemaah haji. Semua telah melalui tahapan persiapan, baik administrasi, kesehatan, hingga manasik haji,” ujar Syahbudi, Senin (28/4).
Ia menjelaskan, Kloter 1 terdiri dari 112 JCH. Mereka dijadwalkan masuk Asrama Haji pada 1 Mei 2025 dan berangkat ke Tanah Suci pada 2 Mei 2025.
Kloter ini akan kembali ke Indonesia pada 12 Juni 2025.
Untuk Kloter 2, sebanyak 238 jemaah akan masuk asrama pada 2 Mei 2025 dan diberangkatkan pada 3 Mei 2025. “Kepulangan Kloter 2 ke Tanah Air dijadwalkan pada 13 Juni 2025,” kata Syahbudi.
Sementara Kloter 17 merupakan kloter terbanyak, yakni 393 JCH. Mereka akan masuk Asrama Haji pada 19 Mei 2025 dan berangkat menuju Arab Saudi pada 20 Mei 2025. Kloter ini diperkirakan pulang pada 30 Juni 2025.
Selain kuota reguler tersebut, Batam juga mengakomodasi 80 JCH cadangan yang kini telah dipastikan berangkat. “Tahun ini porsi cadangan cukup besar. Artinya, banyak yang dari daftar tunggu bisa diberangkatkan lebih cepat dari prediksi,” ucapnya.
Syahbudi mengungkapkan, para jemaah calon haji ini berasal dari berbagai kecamatan di Kota Batam. Kecamatan Batam Kota tercatat sebagai penyumbang jemaah terbanyak dengan 230 orang, disusul Sekupang dengan 130 orang, dan Sagulung sebanyak 92 orang. Sementara dari Galang dan Bulang masing-masing hanya 2 dan 3 orang.
Dari total 743 JCH , jumlah perempuan tercatat lebih banyak dibanding laki-laki. Sebanyak 408 jemaah adalah perempuan, sedangkan laki-laki berjumlah 334 orang.
Syahbudi mengatakan, fakta ini sudah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir, dimana animo perempuan untuk berhaji sangat tinggi. “Fenomena ini menggambarkan bahwa kesadaran spiritual di kalangan perempuan Batam sangat luar biasa. Mereka sangat antusias untuk memenuhi panggilan Allah,” ucapnya.
Menurut Syahbudi, seluruh calon jemaah telah mengikuti bimbingan manasik haji yang dilaksanakan di tingkat kota maupun kecamatan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membekali jemaah tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji, mulai dari rukun, wajib, hingga sunnah-sunnahnya.
Selain manasik, seluruh JCH juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan secara ketat. Pemeriksaan ini untuk memastikan jemaah dalam kondisi prima saat melaksanakan ibadah haji yang membutuhkan fisik kuat.
“Pembinaan manasik dan pemeriksaan kesehatan ini bagian dari upaya kami memberikan pelayanan terbaik. Karena di Tanah Suci, stamina dan kesiapan mental menjadi kunci utama,” jelasnya.
Syahbudi mengimbau seluruh calon jemaah untuk terus menjaga kesehatan menjelang keberangkatan. Ia juga meminta jemaah memperhatikan ketentuan barang bawaan serta disiplin terhadap aturan yang telah disosialisasikan.
“Semoga seluruh jemaah Kota Batam bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar, menjadi haji mabrur, dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat,” harap Syahbudi.
Sementara itu, antrean JCH di Kota Batam terus meningkat setiap tahunnya. Hingga kini, tercatat sekitar 17.500 orang yang masih harus menunggu untuk berangkat ke Tanah Suci. Angka ini mencerminkan tingginya antusiasme warga Batam dalam menjalankan ibadah haji, namun juga menunjukkan tantangan yang harus dihadapi dalam memenuhi kuota keberangkatan.
Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Kota Batam, Syahbudi, mengungkapkan bahwa untuk musim haji tahun 2025, Batam mendapatkan kuota sebanyak 721 jamaah. Angka ini menyumbang sekitar 55 persen dari total kuota haji untuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang berjumlah 1.291 orang. Meskipun kuota keberangkatan untuk Batam relatif tetap setiap tahunnya, jumlah pendaftar terus mengalami peningkatan signifikan.
“Di daftar tunggu saat ini terdapat sekitar 17.500 orang. Tahun ini kami memberangkatkan 721 jamaah dari total kuota Kepri. Kuota ini bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan dari pemerintah pusat,” ujar Syahbudi, Senin (28/4).
Syahbudi juga menekankan bahwa meski jumlah kuota haji tetap, JCH harus memenuhi beberapa persyaratan administrasi dan kesehatan sebelum dapat diberangkatkan. Salah satu persyaratan penting adalah pemeriksaan kesehatan untuk memastikan JCH memiliki kondisi fisik yang cukup untuk menjalankan ibadah haji yang berat. Proses ini disebut sebagai istitha’ah kesehatan.
“Jamaah yang masuk dalam daftar tunggu, khususnya yang berada di posisi cadangan, wajib melengkapi pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan keterangan bahwa mereka layak berangkat. Keterangan tersebut sangat penting untuk memastikan kesiapan fisik jamaah,” ujar Syahbudi.
Selain itu, JCH juga diingatkan untuk segera menyelesaikan administrasi terkait biaya haji. Setelah pelunasan, bukti pembayaran harus segera diserahkan ke Kemenag Kota Batam agar proses pemberangkatan dapat berjalan lancar.
Kemenag Kota Batam juga mengimbau masyarakat yang telah terdaftar untuk mempersiapkan diri secara matang, baik dari segi administrasi maupun kesehatan. Hal ini dilakukan agar jamaah tidak kehilangan kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci pada saat jadwal keberangkatan mereka tiba.
“Kami berharap JCH yang sudah terdaftar dapat mempersiapkan segala persyaratan dengan baik. Jangan sampai mereka terhambat karena masalah administrasi atau kesehatan,” ujar Syahbudi.
1.300 JCH Berangkat Melalui Embarkasi Batam
Sebanyak 1.300 jemaah calon haji (JCH) Kepri bakal diberangkatkan ke tanah suci Mekkah melalui embarkasi Kota Batam. Ribuan JCH tersebut dibagikan tiga kelompok terbang atau (kloter).
Kepala Bidang (Kabid) Pelaksanaan Haji dan Umroh Kementerian Agama (Kemenag) Kepri, Syafii mengatakan, ada tiga kloter yang akan diberangkatkan dari Embarkasi Batam. Yakni kloter satu, dua dan 17.
“Yang berangkat itu 3 kloter. Kloter 1,2, dan 17 dari embarkasi Batam,” kata Syafii, Senin (28/4).
Ia menerangkan, jumlah JCH kloter satu saat ini berjumlah 445 jemaah. Sementara kloter dua berjumlah 445 jemaah, dan kloter 17 ada sebanyak 410 jemaah.
“Jadwal keberangkatan juga beda-beda, kloter satu itu tanggal dua Mei, untuk kloter 2 diberangkatkan pada tanggal 3 Mei. Tapi yang kloter 17 saya lupa,” tambahnya.
Syafii mengakui, kesiapan petugas sudah hampir 100 persen dan tinggal menunggu rapat koordinasi terakhir. Ia memastikan, bahwa sejauh ini belum ada JCH yang membatalkan diri untuk berangkat.
“Insyaallah petugas sudah siap. Tinggal menunggu keberangkatan jamaah. Tapi sejauh ini belum ada yang membatalkan karena sakit,” urainya.
Slot Terbatas, Pemulangan Dialihkan dari Bandara Jeddah ke Madinah
Sementara itu, keterbatasan slot penerbangan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, membuat puluhan kelompok terbang (kloter) jemaah Indonesia menjalani rute tidak sesuai skenario. Mereka akan masuk Arab Saudi dari Bandara Madinah dan pulang kembali ke tanah air dari Madinah. Padahal, skenario awal, mereka pulang ke tanah air dari bandara Jeddah.
Perkembangan tersebut disampaikan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief dalam rapat bersama Komisi VIII DPR, Senin (28/4). ”Ada 36 kloter gelombang satu yang akan pulang (ke tanah air) dari bandara Madinah,” katanya.
Perinciannya, rombongan dari Embarkasi Lombok (LOP) kloter 1, 2, 4, 5, 6, dan 7. Kemudian Embarkasi Makassar (UPG) kloter 1, 9, 12, 13, dan 16. Berikutnya, Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 1, 2, 5, 7, 8, dan 9. Lalu, kloter 11, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 22, 23, 24, 27, dan 28.
Seperti diketahui, skema baku yang selama ini berjalan adalah jemaah haji gelombang I mengambil rute pemberangkatan dari Indonesia ke Madinah. Kemudian pulangnya dari Jeddah ke Indonesia. Khusus untuk 36 kloter tadi, setelah menunaikan ibadah haji di Makkah, mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar 5-6 jam ke Madinah.
”Segala biaya yang timbul menjadi tanggung jawab maskapai,” kata Hilman.
Dalam rapat itu, Hilman juga menyampaikan soal persiapan asrama haji. Sesuai jadwal, jemaah akan masuk asrama haji mulai 1 Mei. Pelepasan secara resmi dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Rencananya, jemaah diberangkatkan pukul 00.30 WIB pada 2 Mei.
Kemenag sudah menyiapkan skema penerimaan jemaah selama di asrama haji. ”Kami menggunakan skema one stop service,” jelas Hilman.
Nantinya jemaah ditempatkan di ruangan besar. Mereka akan menjalani pemeriksaan kesehatan final. Kemudian penyerahan surat perintah masuk asrama (SPMA), bukti lunas, sampai penyerahan kartu makan dan kunci kamar di asrama haji. Jemaah sekaligus akan menerima gelang haji, paspor, visa, dan uang saku (living cost). ”Diharapkan lebih cepat dan efisien,” jelasnya.
Hilman mengatakan, rata-rata lama tinggal di Saudi adalah 41 hari. Karena dalam praktiknya nanti ada yang 40 hari dan 42 hari. Menyesuaikan pengaturan di lapangan. Sedangkan masa operasional pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji masing-masing 30 hari.
”Satu hal yang juga dipesankan oleh pemerintah Saudi. Yaitu Kemenag, pemerintah Indonesia, diminta sosialisasi terkait kesadaran tidak menggunakan visa nonhaji,” katanya.
Pemerintah Saudi benar-benar berpesan jangan sampai ada masyarakat Indonesia yang nekat berhaji tanpa menggunakan visa haji. Pengalaman tahun lalu, masih ada warga Indonesia yang digerebek di hotel karena menggunakan visa nonhaji. Selain dideportasi, ada juga yang sampai menjalani proses hukum di sana.
Sementara itu, Konsul Jenderal (Konjen) RI di Jeddah Yusron B. Ambary mengungkapkan, pihaknya akan membentuk tim khusus dalam pelaksanaan haji 2025. Tim ini bakal disiagakan selama 1 x 24 jam di Makkah maupun Madinah. Mereka bertugas melayani dan melindungi jemaah Indonesia.
Hal ini juga sebagai langkah antisipasi atas kasus-kasus yang banyak dihadapi jemaah haji selama di Saudi. Mulai paspor hilang, sidik jari tidak terbaca, berfoto di tempat-tempat yang dilarang, hingga kasus WNI yang berhaji dengan cara nonprosedural.
”Kasus yang banyak kita hadapi adalah ketidaktahuan jemaah terhadap aturan setempat sehingga banyak kejadian seperti mereka ditangkap karena foto sembarangan atau berfoto bersama menggunakan banner atau atribut tertentu,” paparnya.
KJRI Jeddah juga membuka call center atau Hotline Gardu Peduli yang bisa dihubungi melalui +966 50 360 9667. Jemaah haji ataupun WNI yang menghadapi kondisi darurat selama di Saudi bisa menghubungi nomor tersebut. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – MOHAMAD ISMAIL – JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG