Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Rencana pendirian sekolah rakyat menuai banyak respons dan kritik. Pakar pendidikan menilai program tersebut tidak urgen. Kemensos mengebut dimulainya program itu pada tahun ajaran baru Juli mendatang.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf ditugasi membangun 100 sekolah khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Targetnya, sekolah-sekolah untuk jenjang SD hingga SMA tersebut sudah berjalan di tahun ajaran baru 2025–2026. Artinya, tinggal tiga bulan lagi kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang dinamai sekolah rakyat ini sudah harus dimulai.
Awalnya, program pengentasan kemiskinan dan kemis-kinan ekstrem lewat jalur pendidikan ini masih terdengar realistis. Hanya dibuka beberapa sebagai pilot project. Namun, dalam sebulan terakhir instruksi berubah. Presiden Prabowo Subianto meminta agar dibangun 100 sekolah rakyat di tahap awal. Bahkan targetnya mencapai 200 sekolah dengan separuhnya akan dikolaborasikan bersama pihak swasta.
Proyek ini pun ibarat legenda Bandung Bondowoso saat membangun candi. Mengingat sekolah tak cuma sebatas bangunan. Ada sistem yang harus berjalan. Kurikulum, siswa, guru, bahkan dengan konsep boarding school, tentu akan lebih kompleks lagi.
Gus Ipul, sapaan Saifullah, menggandeng mantan Menteri Pendidikan Nasional (2009–2014) Mohammad Nuh sebagai ketua tim formatur sekolah rakyat untuk memetakan konsep sekolah rakyat lebih detail lagi.
Pembentukan sekolah rak-yat ini menggunakan tiga pendekatan. Pertama, menggunakan aset gedung yang telah ada, baik milik Kemensos maupun pemerintah daerah. Kedua, merevitalisasi aset, yaitu menggunakan aset eksisting yang representatif, milik pemerintah pusat maupun daerah.
Karena itu, dalam beberapa minggu terakhir, Gus Ipul safari ke daerah-daerah untuk melakukan pendekatan dengan pemda-pemda. ”Misalnya Jawa Timur itu hampir seluruh kabupaten/kota mengajukan. Kita tunggu dari beberapa provinsi yang lain juga,” ungkapnya ditemui setelah buka bersama Kemensos di Jakarta, Jumat (14/3) malam.
Pendekatan ketiga melalui pembangunan gedung baru. Sekolah rakyat akan dibangun di atas lahan minimal 5–10 hektare. Tim-tim kecil dibentuk untuk mematangkan konsep boarding school, kurikulum, seleksi guru, dan penjaringan murid.
Terkait kurikulum, rencananya memadukan kurikulum nasional dan kurikulum khusus yang dirancang tim Kemendikdasmen bersama Kemendiktisaintek. Termasuk penguatan pendidikan karakter di dalamnya. Di tahap awal ada sesi orientasi bagi para siswa.
”Nanti ada matrikulasi untuk mengenalkan proses belajar-mengajar di sekolah rakyat,” ungkapnya.
Belum dipastikan berapa lama proses matrikulasi ini berlangsung dan mata pelajaran apa yang bakal diajarkan terlebih dulu dalam masa tersebut. Kabarnya, lebih kepada penguatan pelajaran bahasa seperti bahasa Inggris.
Mengenai rekrutmen guru, mantan Wagub Jatim itu mengungkapkan prosesnya telah berlangsung. Dia memercayakan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Mene-ngah (Kemendikdasmen). Tenaga pendidik diambil dari lulusan pendidikan profesi guru (PPG).
Namun, ada seleksi kembali. Bagi yang lolos akan diberikan pendidikan khusus sebelum mereka mengajar di sekolah rakyat. ”Nanti dites lagi dan penempatan disesuaikan dengan tempat tinggal mereka,” paparnya.
Lalu, bagaimana dengan siswa? Gus Ipul mengatakan, ada mekanisme khusus dalam penjaringan calon siswa sekolah rakyat ini. Mengingat, perlu pendekatan khusus pada mereka meski nantinya sekolah ini gratis, bahkan untuk seragam, tempat tinggal, hingga makan. Pendekatan ini bukan hanya untuk calon siswa, tapi juga orangtua (ortu).
Dia tak memungkiri jika ada anak-anak usia sekolah yang terpaksa bekerja membantu keluarga. Karena itu, akan dilakukan pendekatan khusus pada ortu untuk mau memasukkan buah hati mereka ke sekolah rakyat. Belum lagi, menghidupkan kembali semangat belajar anak-anak yang mungkin mulai terkikis. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Ryan Agung