Buka konten ini

BATAM (BP) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dievaluasi untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para penerima manfaat, khususnya siswa sekolah. Memanfaatkan masa libur sekolah, pemerintah melakukan berbagai pembenahan guna meningkatkan kualitas pelaksanaan program, mulai dari aspek gizi, keamanan pangan, distribusi, hingga sarana pendukung.
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, mengatakan perbaikan dilakukan secara berjenjang dari tingkat pusat hingga satuan pelayanan di daerah. Menurutnya, penghentian sementara distribusi MBG selama masa libur sekolah menjadi momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“BGN terus melakukan perbaikan dari segala aspek, baik di tingkat pusat, daerah, hingga satuan pelayanan. Sesuai Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 dari Kepala Badan Gizi Nasional, selama periode libur sekolah pendistribusian MBG dihentikan sementara untuk seluruh penerima manfaat. Ini menjadi waktu terbaik untuk berbenah, baik dari sisi kualitas makanan maupun sarana dan prasarana pendukung,” ujar Defri, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan, selama program berjalan, setiap satuan pelayanan menerapkan standar ketat dalam penyediaan makanan.
Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan diawasi secara berlapis untuk memastikan kualitas, kebersihan, dan kandungan gizi sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
Meski demikian, pelaksanaan program di Batam masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketergantungan terhadap pasokan bahan baku dari luar daerah yang membuat ketersediaan bahan sangat bergantung pada kelancaran distribusi.
“Kendala kita di Batam masih sama sejak awal program berjalan. Sebagian besar bahan baku masih berasal dari luar daerah sehingga sangat bergantung pada kelancaran distribusi dan pasokan,” katanya.
Selain pasokan bahan baku, pengelolaan limbah juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Defri menyebut setiap satuan pelayanan menghasilkan limbah makanan atau food waste dalam jumlah cukup besar setiap harinya, yakni sekitar 50 hingga 100 kilogram.
Menurut dia, apabila tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan lain seperti pakan ternak atau diolah kembali melalui mekanisme tertentu, limbah tersebut berpotensi menimbulkan penumpukan sampah dan mencemari lingkungan.
“Jika tidak dimanfaatkan untuk kebutuhan lain seperti pakan ternak atau pengolahan lanjutan, limbah makanan ini berpotensi menjadi sampah yang menumpuk dan mencemari lingkungan,” ujarnya.
Tak hanya limbah makanan, limbah cair dari proses produksi juga menjadi perhatian pengelola. Di sisi lain, proses pengangkutan sampah setiap hari masih menghadapi kendala karena ketersediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang belum merata di seluruh wilayah Batam.
“Pengangkutan sampah harus dilakukan setiap hari. Namun ketersediaan TPS yang belum merata di setiap kelurahan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola,” tambahnya.
Terkait dampak program MBG terhadap kesehatan dan peningkatan kualitas pendidikan siswa, Defri menilai hasilnya belum dapat diukur dalam waktu singkat. Menurutnya, diperlukan evaluasi berkala dengan rentang waktu yang cukup untuk memperoleh hasil yang objektif dan terukur.
“Dampak MBG tidak bisa diukur dalam waktu relatif pendek. Idealnya dilakukan pengukuran secara periodik, misalnya setiap enam bulan atau satu tahun sekali, sehingga hasilnya lebih objektif,” jelasnya.
Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, Defri meyakini program MBG telah memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Selain mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah, program tersebut juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
“Selain peningkatan gizi, jangan lupakan multiplier effect-nya.
Program ini menciptakan lapangan kerja baru, melibatkan pelaku usaha lokal, serta mendorong perputaran ekonomi yang cukup besar di daerah,” tutupnya.
Melalui evaluasi dan pembenahan yang terus dilakukan, pemerintah berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat semakin optimal sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh siswa sebagai penerima utama, tetapi juga oleh masyarakat dan pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem program tersebut. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO