Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) Biodiesel 50 persen (B50) dapat terealisasi secara menyeluruh atau 100 persen pada Oktober 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan penyaluran dan implementasi B50 ke seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) akan memakan waktu tiga bulan dari awal penerapan.
“Target saya adalah 1 Oktober sudah full (tersalurkan) B50 di semua titik,” ujar Eniya saat ditemui di sela acara Pekan Riset Sawit, di Jakarta, Senin (20/7).
Eniya mengatakan, setelah dimulai pada 1 Juli 2026, program mandatori B50 akan dilakukan secara bertahap sebelum dilakukan evaluasi pada Desember 2026. Ia menjelaskan, sampai dengan saat ini realisasi penyaluran B50 sudah tersalurkan sebanyak 67 persen.
Ia menyebut, masa transisi tiga bulan itu diperlukan, agar perusahaan punya waktu untuk menghabiskan stok B40 sekaligus menyesuaikan proses pencampuran (blending) ke B50.
“Nanti di Desember yang selama empat bulan ini, pertama kita lihat transisi, apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Apakah semua bisa dalam waktu tiga bulan itu menyelesaikan semua full B50,” ujarnya.
Eniya melanjutkan, pemerintah menetapkan volume biodesel akan bertambah sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu, pemerintah menerapkan sitem kisaran angka untuk implementasi biodiesel di level 16 hingga 18 juta kilo liter (KL).
Untuk itu, kedepannya Kementerian ESDM akan membuat aturan dalam bentuk keputusan Menteri (Kepmen) ESDM yang memungkinkan total volume nasional per tahunnya bisa ikut direvisi dan disesuaikan.
“Ke depan, revisi volume dalam satu tahun itu bisa dilakukan. Jadi kita mulai pakai range lah seperti yang sekarang kita tetapkan 16-18 juta kan. Nah ke depan mungkin 18 sampai sekian juta. Jadi ada range-nya,” ucapnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI
