Buka konten ini

DINAS Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang mengakui masih menemukan pedagang yang menjual minyak goreng bersubsidi merek Minyakita di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Kepala Disdagin Tanjungpinang, Riany, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap distribusi maupun harga jual Minyakita di pasaran. Dari hasil pengawasan tersebut, masih ditemukan sejumlah pedagang yang menjual di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah.
”Ada kami temukan pedagang yang menjual di atas HET. Nanti akan dilakukan pembinaan bersama Satgas Pangan,” kata Riany, Jumat (17/7).
Ia mengimbau masyarakat agar tidak membeli Minyakita dari pedagang yang menjual dengan harga lebih tinggi dari ketentuan. Menurutnya, konsumen sebaiknya mencari penjual yang mematuhi HET.
”Kami minta masyarakat tidak membeli Minyakita yang dijual mahal,” ujarnya.
Riany menjelaskan, dalam beberapa pekan terakhir pasokan Minyakita di Tanjungpinang sempat menipis. Kondisi itu dipicu gangguan transportasi pengiriman dari Medan dan Dumai.
Namun, saat ini pasokan mulai kembali normal. Menurutnya, distributor telah memiliki stok sekitar 12 ribu dus atau setara 144 ribu liter Minyakita di gudang.
”Dalam waktu dekat juga akan masuk lagi sekitar 30 ribu karton, sehingga stok Minyakita dipastikan aman,” katanya.
Meski demikian, Disdagin belum dapat memastikan secara rinci jumlah distribusi Minyakita yang masuk ke Tanjungpinang setiap bulan. Riany menyebut kebutuhan konsumsi minyak goreng di Kota Tanjungpinang diperkirakan mencapai sekitar 30 ribu liter per bulan.
Di sisi lain, pedagang mengaku sempat kesulitan memperoleh pasokan Minyakita sehingga harga jual ikut terdongkrak.
Sabil, salah seorang pedagang sembako di Tanjungpinang, mengatakan kelangkaan pasokan membuat harga beli dari distributor meningkat sehingga berpengaruh terhadap harga jual ke konsumen.
”Sejak saat itu pasokan tidak ada lagi. Memang susah. Biasanya kami jual Rp17 ribu per liter, tetapi karena harga modal naik, terpaksa dijual Rp19 ribu. Pembeli memang protes, tetapi barang memang sulit masuk ke Tanjungpinang,” katanya.
Ia menegaskan kenaikan harga bukan untuk meraup keuntungan lebih besar, melainkan karena terbatasnya pasokan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY
