Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Kota Batam masih menjadi daerah dengan jumlah kasus tuberkulosis (TB) tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Hingga 2026, tercatat sebanyak 2.096 kasus TB ditemukan di Batam atau sekitar 32,7 persen dari total 6.352 kasus di Kepri. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Batam memperkuat upaya pengendalian penyakit melalui pembentukan Kelurahan Siaga TB sebagai ujung tombak pencegahan dan penemuan kasus di tingkat masyarakat.
Komitmen itu ditandai dengan deklarasi Kelurahan Siaga TB yang digelar Puskesmas Tanjung Buntung di Kelurahan Tanjung Buntung dan Kelurahan Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, Selasa (15/7). Kegiatan tersebut melibatkan kader kesehatan, Tim Penggerak PKK, tenaga medis, perangkat kelurahan, serta unsur pemerintah sebagai bentuk penguatan kolaborasi dalam mendukung target eliminasi TB pada 2030.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batam, Erlita Amsakar, mengatakan keberhasilan menekan angka kasus TB tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan tenaga kesehatan. Peran aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam memutus mata rantai penularan penyakit tersebut.
Menurut Erlita, tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui percikan droplet di udara ketika penderita TB aktif yang belum menjalani pengobatan batuk, bersin, atau berbicara.
”Karena penularannya sangat mudah melalui udara, kita semua harus waspada. Namun yang paling penting, penderita TB jangan dijauhi atau dikucilkan. Mereka justru membutuhkan dukungan agar semangat menjalani pengobatan sampai sembuh,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pesan tersebut juga menjadi salah satu penekanan Menteri Kesehatan saat Rapat Kerja Nasional PKK beberapa waktu lalu. Menurutnya, stigma terhadap penderita TB masih menjadi tantangan besar dalam upaya eliminasi penyakit tersebut.
Karena itu, Erlita berharap kader PKK, Posyandu, serta Kelurahan Siaga TB dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai dari tingkat RT hingga RW.
”Kami siap bergerak bersama Dinas Kesehatan. Kalau hanya pemerintah yang bekerja, tentu tidak akan selesai. Harus ada gerakan bersama masyarakat agar Batam benar-benar bisa bebas TB,” katanya.
Indonesia Masih Peringkat Kedua Dunia
Dalam sesi diskusi, dokter spesialis paru dr. Widya Sri Hastuti mengungkapkan Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia setelah India. Secara global, diperkirakan terdapat sekitar 10 juta kasus baru TB setiap tahun.
”TBC masih menjadi penyebab kematian nomor satu akibat penyakit infeksi di dunia. Karena itu Indonesia menargetkan eliminasi TB pada tahun 2030,” ujarnya.
Widya menjelaskan sekitar 80 hingga 85 persen kasus TB menyerang paru-paru. Namun, bakteri penyebab penyakit tersebut juga dapat menyebar ke berbagai organ tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, ginjal, kulit, mata, hingga organ reproduksi.
”Ini bukan penyakit keturunan ataupun penyakit karena hal mistis. Penyebabnya jelas, yaitu bakteri,” tegasnya.
Ia menambahkan, kelompok yang paling rentan terserang TB meliputi lansia, balita, penderita diabetes, HIV/AIDS, gizi buruk, maupun orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Faktor lingkungan, seperti rumah dengan ventilasi buruk, hunian padat, kebiasaan merokok, serta kontak erat dengan penderita juga meningkatkan risiko penularan.
Widya juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap seseorang bebas TB hanya karena hasil pemeriksaan dahaknya negatif. Dalam kondisi tertentu, dokter tetap dapat menegakkan diagnosis berdasarkan gejala klinis, seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, disertai hasil pemeriksaan penunjang lainnya.
Libatkan 31 Kader TB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, Meldasari, mengatakan pembentukan Kelurahan Siaga TB merupakan implementasi Gerakan Bersama Mengakhiri Tuberkulosis (Geber TB) yang menjadi program nasional.
Sebanyak 31 kader TB dari Kelurahan Tanjung Buntung dan Bengkong Laut dikukuhkan sebagai pelopor edukasi masyarakat, penemuan kasus, pendampingan pasien hingga tuntas menjalani pengobatan, sekaligus menghapus stigma terhadap penderita TB.
”Deklarasi ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi awal penguatan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan warga dalam mewujudkan Batam bebas tuberkulosis pada 2030,” ujar Melda.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak malu mengenakan masker ketika mengalami batuk atau gejala TB. Menurutnya, penggunaan masker merupakan bentuk kepedulian untuk melindungi orang lain dari risiko penularan.
”Kalau sedang batuk, gunakan masker. Jangan malu. Justru yang sedang sakit wajib memakai masker agar tidak menularkan kepada orang lain,” katanya.
Melda juga meminta kader kesehatan tidak memberikan stigma kepada warga yang diduga mengidap TB. Sebaliknya, mereka harus menjadi pendamping sekaligus pelaksana investigasi kontak terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien.
”Kalau ada warga yang batuk, jangan dijauhi atau ditakut-takuti. Rangkul mereka, berikan pemahaman, lalu lakukan investigasi kontak sesuai prosedur,” ujarnya.
Ia menegaskan TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menginfeksi organ lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, hingga organ reproduksi. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul.
Selain itu, Melda menyoroti pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB. Meski hasil pemeriksaan masih negatif, bakteri TB dapat berada dalam kondisi laten sehingga berpotensi berkembang menjadi penyakit aktif apabila tidak ditangani.
”Kalau ada anggota keluarga yang positif TB, anggota keluarga lainnya harus diperiksa. Bila diperlukan akan diberikan terapi pencegahan agar bakteri yang masih laten tidak berkembang menjadi penyakit aktif,” jelasnya.
Menurut Melda, dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, Batam menghadapi tantangan besar dalam pengendalian TB. Saat ini Dinas Kesehatan telah bekerja sama dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperluas layanan pemeriksaan dan pengobatan.
Khusus penanganan TB Resisten Obat (TB RO), layanan kini tersedia di enam fasilitas kesehatan, terdiri atas tiga rumah sakit dan tiga puskesmas, termasuk puskesmas yang melayani wilayah kepulauan.
”Melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat, kami optimistis target eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai,” pungkasnya.
Kader RW Diterjunkan
Sementara itu, Lurah Tanjung Buntung, Edi Supardi, menegaskan deklarasi Kelurahan Siaga TB tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pihaknya akan menindaklanjutinya dengan pembentukan kader kesehatan di setiap RW sebagai ujung tombak edukasi, pendampingan pasien, dan penemuan kasus secara dini.
”Kami akan mengoptimalkan kader Posyandu di setiap RW. Mereka akan dibekali pengetahuan tentang TB sehingga mampu memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus membantu menemukan kasus lebih dini,” ujarnya.
Selain memperkuat peran kader, kelurahan juga akan melakukan pendataan dan penyisiran dari rumah ke rumah untuk mengidentifikasi warga yang memiliki gejala TB. Data tersebut akan menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan dan penanganan secara cepat.
Edi mengakui masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena khawatir dikucilkan apabila dinyatakan mengidap TB. Padahal, sikap tersebut justru berpotensi memperluas penyebaran penyakit.
”TB memang penyakit menular, tetapi bisa disembuhkan. Yang berbahaya justru kalau penyakit ini disembunyikan. Karena itu kami mengajak masyarakat tidak takut memeriksakan diri dan jangan memberikan stigma kepada penderita,” katanya.
Ia memastikan pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan TB secara gratis. Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan atau gejala mengarah ke TB diminta segera melapor kepada ketua RT, kader kesehatan, kelurahan, maupun puskesmas agar dapat segera menjalani pemeriksaan. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO
