Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Seiring bertambahnya usia, banyak orang mengira kebahagiaan datang dari pencapaian yang lebih besar, harta yang lebih banyak, atau pengakuan dari orang lain. Padahal, menurut berbagai kajian psikologi, salah satu tanda kedewasaan emosional yang paling nyata justru adalah kemampuan seseorang merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
Perasaan nyaman dengan diri sendiri bukan berarti menganggap diri sempurna. Sebaliknya, kondisi ini muncul ketika seseorang mampu menerima kelebihan dan kekurangannya tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Mereka tidak lagi menghabiskan energi untuk memenuhi ekspektasi semua orang, melainkan lebih fokus menjalani hidup sesuai nilai dan tujuan pribadinya.
Orang-orang seperti ini biasanya terlihat lebih tenang, lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan sosial.
Dilansir dari Hack Spirit pada Senin (13/7), dalam psikologi, hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya penerimaan diri (self-acceptance), regulasi emosi, serta berkembangnya identitas yang lebih matang.
Lalu, perilaku apa saja yang biasanya muncul pada seseorang yang semakin nyaman dengan dirinya sendiri seiring bertambahnya usia? Berikut empat tandanya.
1. Tidak Terobsesi Mendapatkan Validasi dari Orang Lain
Salah satu perubahan terbesar yang terjadi ketika seseorang mulai menerima dirinya adalah berkurangnya kebutuhan akan pengakuan eksternal.
Saat masih muda, tidak sedikit orang yang merasa harus disukai semua orang. Mereka khawatir terhadap penilaian orang lain, takut dikritik, bahkan rela mengorbankan kenyamanan demi memperoleh persetujuan.
Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, banyak orang menyadari bahwa menyenangkan semua orang adalah sesuatu yang mustahil.
Dalam psikologi, kondisi ini menunjukkan meningkatnya motivasi intrinsik, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri, bukan dari pujian atau penghargaan orang lain.
Mereka tetap menghargai masukan, tetapi tidak menjadikan komentar orang lain sebagai penentu harga dirinya.
2. Lebih Mudah Mengatakan “Tidak”
Orang yang nyaman dengan dirinya sendiri memahami bahwa menjaga batasan pribadi bukanlah tindakan egois.
Mereka tidak merasa harus menerima setiap permintaan hanya karena takut mengecewakan orang lain.
Kemampuan mengatakan “tidak” menunjukkan adanya batasan psikologis (healthy boundaries) yang sehat.
Alih-alih merasa bersalah, mereka memahami bahwa waktu, tenaga, dan kesehatan mental adalah sumber daya yang perlu dijaga.
Sikap ini membuat mereka lebih mampu menjaga keseimbangan antara membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan diri sendiri.
3. Tidak Terlalu Membandingkan Hidupnya dengan Orang Lain
Media sosial membuat kebiasaan membandingkan diri semakin mudah terjadi.
Namun seseorang yang telah menemukan kenyamanan dalam dirinya menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Mereka tidak lagi merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain.
Sebaliknya, mereka lebih fokus membandingkan dirinya dengan versi dirinya di masa lalu.
Dalam psikologi, orientasi seperti ini dikenal mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis karena perhatian diarahkan pada pertumbuhan pribadi, bukan kompetisi sosial yang tidak ada habisnya.
4. Mampu Menikmati Waktu Sendirian
Banyak orang menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Padahal, orang yang benar-benar nyaman dengan dirinya justru mampu menikmati waktu sendirian tanpa merasa kesepian.
Mereka menggunakan momen tersebut untuk membaca, berjalan santai, menulis, berolahraga, atau sekadar menikmati ketenangan.
Psikologi membedakan antara solitude (kesendirian yang dipilih) dan loneliness (kesepian yang menyakitkan).
Orang yang memiliki penerimaan diri tinggi biasanya mampu menjadikan waktu sendiri sebagai kesempatan mengisi ulang energi. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI