Buka konten ini
BATAM (BP) – Reformasi tata kelola dan penyesuaian tarif di Pelabuhan Batu Ampar Batam dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing logistik Indonesia di kawasan ASEAN. Kebijakan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai kenaikan biaya layanan, tetapi merupakan bagian dari transformasi menuju pelabuhan modern yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala Program Studi Logistik Perdagangan Internasional Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Dian Mulyaningtyas. Menurutnya, kebijakan pelabuhan harus dilihat dari perspektif pembangunan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan efisiensi dan konektivitas.
“Dalam perspektif ekonomi pelabuhan modern, penyesuaian tarif dan perubahan pola operasi pelabuhan tidak dapat dinilai semata-mata sebagai kenaikan biaya jangka pendek, tetapi harus dipahami sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas, konektivitas, dan daya saing jangka panjang,” tulis Dian dalam kajiannya.
Ia menjelaskan, transformasi Pelabuhan Batu Ampar telah menunjukkan hasil yang positif. Volume peti kemas Batam meningkat dari 624.061 TEUs pada 2023 menjadi 673.343 TEUs pada 2024 atau tumbuh sekitar delapan persen. Bahkan, layanan direct call internasional di Batu Ampar melonjak 212 persen pada periode Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, disertai pertumbuhan volume peti kemas sebesar 125 persen.
Menurut Dian, data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan justru mendapat respons positif dari pasar. Ia juga menegaskan bahwa daya saing pelabuhan di tingkat regional tidak hanya ditentukan oleh murahnya tarif. Faktor seperti keandalan pelayanan, frekuensi pelayaran, waktu tunggu kapal yang rendah, hingga konektivitas global menjadi penentu utama dalam menarik aktivitas perdagangan dan investasi.
Dian menilai strategi BP Batam memperkuat kapasitas dan efisiensi operasional melalui penyesuaian tarif sejalan dengan praktik terbaik pelabuhan internasional.
“Jika reformasi ini dijalankan secara konsisten, Batam berpotensi mengikuti jejak pelabuhan-pelabuhan transhipment dan gateway terkemuka di ASEAN,” pungkasnya.
Sebelumnya, BP Batam telah memulai transformasi Pelabuhan Peti Kemas Batu Ampar lewat penerapan sistem direct billing (pembayaran langsung kepada operator terminal). Langkah ini didukung penuh oleh pelaku usaha karena memotong mata rantai birokrasi transaksi.
Efisiensi Sistem Baru
Ketua ALFI Batam, Yasser Hadeka Daniel, menyebutkan bahwa direct billing memangkas keterlibatan pihak kedua sehingga mampu menekan biaya logistik hingga 30 persen tanpa menaikkan tarif dasar layanan. Selain itu, penggunaan alat modern seperti Ship to Shore (STS) Crane ikut mendongkrak kecepatan bongkar muat berstandar internasional.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, menegaskan skema baru ini mengedepankan transparansi dan akuntabilitas bagi pengguna jasa.
Upaya pembenahan ini pun mulai membuahkan hasil empiris yang positif. Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, memaparkan sejumlah capaian operasional positif hingga akhir Juni 2026:
Realisasi Penerimaan: Mencapai Rp226,95 miliar atau tumbuh 3% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kunjungan Kapal: Menyentuh 54.876 call (naik 15%) dengan total bobot tumbuh 18% menjadi 34,87 juta GT.
Volume Peti Kemas: Mencapai 359.944 TEUs (naik 15%), di mana aktivitas ekspor-impor mendominasi sebesar 273.004 TEUs.
Arus Barang Umum & Penumpang: General cargo naik 12% menjadi 5,42 juta ton, sementara penumpang feri naik 8% mencapai 4,64 juta orang.
Ke depan, BP Batam optimistis modernisasi dan digitalisasi ini akan terus meningkatkan daya saing Batam, dengan target pengembangan kapasitas Terminal Batu Ampar hingga mencapai 2 juta TEUs untuk mengakomodasi pertumbuhan perdagangan internasional. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : MUHAMMAD NUR