Buka konten ini

SRILANGKA (BP) – Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menargetkan pertumbuhan ekonomi negaranya mencapai 7 hingga 8 persen dalam beberapa tahun ke depan. Target tersebut akan didorong melalui penguatan sektor teknologi informasi (TI), kelistrikan, dan elektronik sebagai motor pertumbuhan baru.
Pernyataan itu disampaikan Dissanayake saat bertemu para investor dan pelaku industri sektor TI, kelistrikan, serta elektronik di Sekretariat Kepresidenan Sri Lanka, Rabu (1/7), sebagaimana dikutip Divisi Media Presiden (President’s Media Division/PMD).
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah Sri Lanka berencana mengalokasikan belanja modal sebesar 2 triliun rupee Sri Lanka, atau sekitar 6 miliar dolar AS, pada 2027 guna mempercepat pembangunan ekonomi.
Menurut pemerintah, sektor TI saat ini menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar ketiga di Sri Lanka dan memiliki potensi menghasilkan pendapatan ekspor hingga 5 miliar dolar AS per tahun.
Sementara itu, sektor kelistrikan dan elektronik yang saat ini menyumbang sekitar 500 juta dolar AS dari ekspor diproyeksikan mampu meningkat hingga 2 miliar dolar AS per tahun.
Wakil Menteri Ekonomi Digital Sri Lanka Eranga Weeraratne mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mendukung pengembangan kedua sektor tersebut.
Langkah itu antara lain membangun Zona Ekonomi Khusus Virtual dan pusat data, menerapkan mekanisme Green Lane (Jalur Hijau) untuk mempercepat proses impor peralatan elektronik bagi kegiatan riset dan pengembangan, serta mengatasi kendala pembayaran internasional yang selama ini memengaruhi layanan komputasi awan dan Software as a Service (SaaS).
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan skema insentif baru guna mempertahankan tenaga profesional berkeahlian tinggi sekaligus menekan arus migrasi talenta ke luar negeri. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY