Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Di tengah terus merosotnya angka kelahiran di Singapura, muncul fenomena yang menarik perhatian. Meski mayoritas pasangan memilih memiliki satu atau dua anak, sebagian kecil keluarga justru memutuskan memiliki lima anak atau lebih.
Jumlahnya memang masih sangat sedikit. Namun, data terbaru menunjukkan tren tersebut perlahan meningkat di tengah rendahnya tingkat fertilitas nasional.
Berdasarkan data Department of Statistics Singapore, sebanyak 2,1 persen bayi yang lahir pada 2025 merupakan anak kelima atau lebih dalam keluarganya. Angka ini naik dibandingkan 1,5 persen pada 2005 dan 1,4 persen pada 2015.
Secara jumlah, terdapat 614 bayi yang lahir sebagai anak kelima atau berikutnya pada 2025. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut mencapai 558 bayi pada 2005 dan 587 bayi pada 2015.
Meski kontribusinya terhadap total kelahiran masih kecil, data tersebut menunjukkan masih ada kelompok keluarga yang mengambil keputusan berbeda dibandingkan mayoritas masyarakat Singapura.
Agama dan Nilai Keluarga Menjadi Faktor Utama
Sejumlah akademisi menilai keputusan memiliki banyak anak umumnya dipengaruhi kombinasi antara keyakinan agama, nilai-nilai keluarga, serta adanya sistem dukungan yang kuat dari pasangan maupun keluarga besar.
Direktur Social Sciences di A*STAR Institute for Human Development and Potential, Jean Yeung, mengatakan keluarga religius cenderung memandang anak sebagai anugerah sehingga lebih terbuka terhadap kemungkinan memiliki banyak anak.
Menurutnya, kelompok tersebut biasanya memiliki pandangan yang lebih kuat mengenai pentingnya pernikahan, keberlanjutan keluarga, serta tidak terlalu menekankan pembatasan kelahiran.
Sementara itu, peneliti senior Institute of Policy Studies (IPS), Kalpana Vignehsa, menjelaskan bahwa sebagian besar pasangan di Singapura saat ini mempertimbangkan secara matang kondisi keuangan, karier, biaya pendidikan, hingga pengasuhan sebelum memutuskan jumlah anak. ”Menjadi orang tua kini merupakan keputusan yang sangat diperhitungkan,” ujarnya.
Namun, pasangan yang memiliki keyakinan agama kuat cenderung menyerahkan urusan jumlah anak kepada kehendak Tuhan sehingga lebih siap menerima konsekuensi finansial maupun tantangan dalam membesarkan keluarga besar. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO