Buka konten ini

NEW DELHI (BP) – Hari kerja di sebuah pabrik garmen di pinggiran Delhi dimulai seperti biasa. Mesin jahit berdengung, kain menumpuk di atas meja, dan para pekerja bersiap menyelesaikan target produksi.
Namun, ada yang berbeda. Sebelum mulai bekerja, manajemen meminta setiap pekerja mengenakan kamera kecil di kepala mereka. Tidak ada penjelasan rinci mengenai tujuan perangkat tersebut.
Awalnya, para pekerja mengira kamera itu hanya digunakan untuk pengawasan internal.
”Cara orang memasang kamera CCTV di dinding, seperti itulah mereka memasangnya pada kami,” ujar Lalita, salah seorang pekerja.
Kamera tersebut merekam seluruh aktivitasnya, mulai dari gerakan tangan saat menjahit, kecepatan bekerja, tingkat ketelitian, hingga percakapan singkat dengan rekan kerja.
Pada awalnya, keberadaan kamera justru memancing tawa.
”Semua orang tertawa karena tampilan kami memakai alat itu,” kenangnya.
Namun, suasana itu tidak berlangsung lama. Para pekerja mulai merasa diawasi setiap saat. Percakapan berkurang, gerakan menjadi lebih kaku, dan setiap kesalahan terasa seolah tidak lagi bisa disembunyikan.
Rekaman Ternyata Digunakan untuk Melatih Robot AI
Belakangan terungkap, kamera tersebut bukan sekadar alat pengawasan.
Berdasarkan investigasi The Guardian, rekaman yang dihasilkan para pekerja menjadi bagian dari proyek pengumpulan data untuk melatih sistem kecerdasan buatan (AI) dan robot industri generasi berikutnya.
Data yang dikumpulkan berupa rekaman sudut pandang orang pertama (first-person recordings) atau dikenal sebagai data egosentris.
Jenis data ini dianggap sangat berharga karena memungkinkan sistem AI mempelajari secara langsung bagaimana manusia bergerak, mengambil keputusan, memegang benda, hingga berinteraksi dengan lingkungan kerja.
Rekaman tersebut kemudian digunakan untuk mengembangkan robot humanoid yang mampu meniru cara kerja manusia di lini produksi.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa rekaman sudut pandang manusia menjadi komponen penting untuk melatih robot agar memahami aktivitas dunia nyata yang suatu hari berpotensi menggantikan tenaga kerja manusia.
Permintaan terhadap data semacam ini berkembang pesat dan melahirkan industri baru di India.
Sejumlah perusahaan teknologi, seperti EgoLab, Humyn AI, FPV Labs, Scale AI, hingga Labellerr AI, membangun jaringan pengumpulan data yang memasok kebutuhan perusahaan teknologi global.
Investigasi tersebut menyebut Tesla menjadi salah satu pelanggan EgoLab.
Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk pernah menyatakan bahwa sekitar 80 persen nilai masa depan Tesla diyakini akan berasal dari robot humanoid, bukan lagi kendaraan listrik.
Menurut Puneet Jindal dari Labellerr AI, Asia Selatan menjadi lokasi strategis karena masih menjadi pusat industri padat karya dengan jumlah pekerja dan variasi aktivitas yang sulit ditandingi kawasan lain.
”Asia Selatan masih menjadi bengkel dunia untuk industri padat karya, dengan skala dan keragaman tenaga kerja yang sulit ditandingi negara lain,” ujarnya.
Pekerja Tidak Mendapat Bagian dari Nilai Datanya
Di balik pertumbuhan industri AI tersebut, muncul persoalan mengenai kepemilikan data dan hak para pekerja.
Investigasi menemukan bahwa perusahaan pengumpul data umumnya menjalin kontrak dengan pabrik. Sebagai imbalannya, pihak pabrik menerima kompensasi.
Namun, para pekerja yang tubuh, keterampilan, dan aktivitasnya direkam justru tidak memperoleh pembayaran tambahan.
Dalam banyak kasus, data dikumpulkan dalam skala besar tanpa adanya kompensasi langsung kepada individu yang menjadi sumber data tersebut.
Persetujuan Dipertanyakan
Sejumlah peneliti menilai praktik tersebut menimbulkan persoalan etika yang serius.
Peneliti Work Fair and Free Foundation, Geeta Thatra, menilai persetujuan pekerja sulit dianggap benar-benar sukarela.
”Seorang pekerja mungkin tampak menyetujui penggunaan kamera saat bekerja, tetapi pada praktiknya akan sangat sulit menolak tanpa takut kehilangan pekerjaan,” katanya.
Menurutnya, hubungan kerja yang timpang membuat pekerja tidak memiliki posisi tawar untuk menolak kebijakan perusahaan.
Nilai Ekonomi Data Dinikmati Pihak Lain
Akademisi Universitas Negeri Ohio, Madhumita Dutta, mengatakan persoalan utama bukan hanya mengenai upah, melainkan siapa yang menikmati nilai ekonomi dari data tersebut.
Ia menilai para pekerja tidak pernah benar-benar memahami bahwa gerakan tubuh,
keterampilan, hingga rutinitas kerja mereka telah diubah menjadi aset digital bernilai tinggi bagi industri AI global.
”Jika pekerja tidak memahami bahwa gerakan, keterampilan, dan rutinitas mereka diubah menjadi data, maka mereka tidak memiliki ruang untuk menegosiasikan kompensasi atau menolak penggunaan lanjutan,” ujarnya.
Bagi Lalita, kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Setiap hari ia kembali duduk di depan mesin jahit, menyelesaikan target produksi seperti sebelumnya.
Yang berbeda, setiap gerakannya kini telah menjadi bagian dari kumpulan data yang digunakan untuk melatih teknologi masa depan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO