Buka konten ini

Di sebuah bengkel tambal ban sederhana, seorang ayah menambal kebocoran roda sambil menambal harapan bagi keluarganya. Dari penghasilan yang tak pernah pasti, ia tetap menjaga mimpi agar ketiga putrinya tak berhenti mengenyam pendidikan. Kini, ketika langkah anak-anaknya berlabuh di Sekolah Rakyat, ada rindu yang harus ditahan, ada masa depan yang sedang dipersiapkan.
LANGIT pagi belum sepenuhnya terang ketika Syafri Efendi, 46 tahun, memulai harinya. Di sebuah bengkel tambal ban sederhana di pinggir Jalan WR Supratman Kilometer 12, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), suara kompresor tua perlahan memecah kesunyian pagi.
Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya terlihat sebagai lapak kecil yang dipenuhi ban bekas dan peralatan seadanya. Namun bagi Syafri, bangunan beratap seng dan berdinding kayu itu adalah segalanya. Di situlah ia mencari nafkah.
Di situ pula ia membesarkan keluarga. Dan dari situ juga ia merawat mimpi-mimpi ketiga putrinya.
Syafri memiliki tiga anak perempuan. Dua di antaranya adalah anak kembar, Desta Syafitri dan Desti Syafitri yang kini berusia 19 tahun. Sementara si bungsu, Meilani, berusia 15 tahun.
Selama bertahun-tahun, hidup mereka berputar di tempat yang sama. Rumah sekaligus tempat usaha itu menjadi saksi perjalanan keluarga kecil tersebut menghadapi kerasnya kehidupan.
Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Syafri membuka lapak tambal bannya dengan satu harapan sederhana: ada pelanggan yang datang hari itu.
Penghasilannya tidak pernah pasti. Kadang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kadang harus berhemat hingga malam tiba.
”Saya ini cari rezeki pagi untuk sore, sore untuk malam,” kata Syafri sembari mengisi angin kendaraan pelanggannya, Kamis (18/6).
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan cerita panjang tentang perjuangan seorang kepala keluarga yang hidup dari hari ke hari.
Uang yang diperoleh dari menambal ban sering kali langsung habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pada hari yang sama. Tak ada tabungan besar. Tak ada jaminan penghasilan tetap. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa esok harus tetap diperjuangkan.
Meski demikian, Syafri menyimpan satu kebanggaan yang selalu membuatnya tersenyum.
”Tapi gini-gini saya mampu menyekolahkan anak dari TK hingga SMA kok. Jadi anak-anak tidak sampai putus sekolah,” katanya.
Bagi Syafri, pendidikan adalah jalan yang harus diperjuangkan, meski dirinya harus berjalan tertatih di tengah keterbatasan ekonomi.
Karena itu, di sela kesibukan mencari nafkah, ia selalu menyediakan waktu untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sekolah.
Jarak sekolah yang mencapai tiga hingga empat kilometer ditempuh menggunakan sepeda motor tua miliknya. Setelah mengantar, ia kembali ke lapak tambal ban. Ketika sore menjelang, ia kembali menjemput.
Begitulah rutinitas yang dijalani bertahun-tahun. Ada hari-hari ketika anak-anaknya harus mengikuti jam tambahan. Ada saat-saat ketika ia harus menunggu lebih lama, meninggalkan pekerjaan yang mungkin mendatangkan rezeki.
Namun sebagai ayah, ia tak pernah mengeluh.
”Memang setiap hari sekolah saya antar jemput. Tidak tahannya kalau ada jam tambahan, saya harus menunggu. Namun demi anak, tetap saya jemput,” tuturnya.
Sebab bagi Syafri, pendidikan bukan sekadar soal sekolah. Pendidikan adalah harapan agar anak-anaknya kelak tidak menjalani kehidupan yang sama berat seperti yang ia rasakan hari ini.
Harapan itu datang pada sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Suatu hari, Syafri mendengar kabar mengenai pendaftaran Sekolah Rakyat di Tanjungpinang. Program pendidikan berasrama yang digagas pemerintah itu menawarkan sesuatu yang selama ini sulit ia berikan kepada anak-anaknya: pendidikan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Awalnya, ia hanya tertarik karena sekolah itu tidak memungut biaya.
Namun setelah mengetahui lebih jauh tentang program tersebut, Syafri melihat sesuatu yang lebih besar.
Ia melihat peluang.
Peluang agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik. Peluang agar mereka tumbuh dalam lingkungan yang disiplin. Peluang agar mereka memiliki masa depan yang lebih cerah.
”Saya memang mau mencari yang gratis. Apalagi di sana ada asramanya. Jadi saya fokus untuk mencari nafkah,” ujarnya.
Maka dimulailah proses perpindahan sekolah ketiga putrinya. Mereka meninggalkan sekolah lama dan memulai lembaran baru di Sekolah Rakyat Tanjungpinang.
Namun keputusan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika hari pertama anak-anaknya resmi tinggal di asrama.
Malam yang biasanya dipenuhi suara tawa, obrolan, dan aktivitas ketiga putrinya mendadak terasa sunyi.
Rumah kecil yang selama ini menjadi tempat berkumpul keluarga tiba-tiba terasa lebih lengang.
Di sela wajah yang tampak lelah karena bekerja seharian, mata Syafri berkaca-kaca mengingat momen itu.
Bukan karena ia menyesal.
Bukan karena ia tak rela.
Tetapi karena seorang ayah sedang belajar menahan rindu demi masa depan anak-anaknya.
Baginya, kehilangan kebersamaan setiap malam adalah pengorbanan yang layak dilakukan jika itu bisa membuka jalan yang lebih baik bagi masa depan ketiga putrinya.
Kini, Desta, Desti, dan Meilani menjalani hari-hari mereka di Sekolah Rakyat. Di sana, sang ayah menitipkan harapan yang selama ini ia jaga dari balik suara kompresor dan bau karet tambalan.
Harapan agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berpendidikan, dan mampu mengubah nasib keluarga.
Menempa Mimpi dalam Ritme Asrama
Pukul 04.15 WIB, kehidupan di Sekolah Rakyat Tanjungpinang mulai bergerak. Suara pembina asrama membangunkan para siswa dari tidur mereka. Udara pagi yang masih dingin menjadi saksi awal perjalanan anak-anak ini dalam menata masa depan.
Hari-hari mereka diisi dengan jadwal yang teratur. Bangun pagi, beribadah, berolahraga, merapikan tempat tidur, mengikuti apel, belajar di kelas, hingga kembali ke asrama untuk menjalani pembinaan karakter dan kegiatan keagamaan.
Kepala Sekolah Rakyat Tanjungpinang, Reni Putri Rahmadani, menjelaskan bahwa seluruh aktivitas dirancang untuk membentuk kebiasaan baik dan kedisiplinan.
”Proses belajar mengajar SD hingga pukul 11.30 WIB. Untuk yang SMP dan SMA hingga pukul 15.00 WIB. Namun, tetap ada istirahat makan siang bersama dan salat berjemaah,” ujarnya.
Ketika malam tiba dan sebagian remaja seusia mereka menghabiskan waktu di luar rumah atau di depan layar gawai, para siswa Sekolah Rakyat justru menghabiskan waktu untuk belajar, mengaji, dan mengikuti pembinaan.
Pukul 22.00 WIB, seluruh siswa sudah harus beristirahat. Hari demi hari berjalan dalam ritme yang sama. Namun, dari ritme itulah perubahan mulai tumbuh.
Desta, sang anak dari tukang tambal ban, mengaku merasakan sendiri perubahan tersebut. Menurutnya, kehidupan di Sekolah Rakyat sangat berbeda dibandingkan sekolah sebelumnya. Ia belajar hidup lebih mandiri. Ia belajar mengatur waktu. Ia juga belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
”Kalau ada apa-apa tinggal lapor ke guru. Karena guru kita juga tinggal di asrama,” katanya.
Di balik semua itu, Desta memahami satu hal yang paling penting. Keberadaannya di Sekolah Rakyat telah membantu meringankan beban kedua orang tuanya.
Ayahnya tidak lagi harus tergesa-gesa menutup pekerjaan demi mengantar dan menjemput sekolah. Ibunya tidak lagi harus memikirkan bekal setiap pagi.
Kini, yang perlu ia lakukan hanyalah belajar dengan sungguh-sungguh. Karena ia tahu, ada mimpi besar yang sedang dititipkan kepadanya.
”Sebentar lagi mau naik kelas 12. Semoga cepat agar bisa bekerja atau kuliah untuk menyenangkan orang tua,” ujarnya sambil tersenyum.
Perubahan itu juga dirasakan Syafri. Setiap kali membesuk anak-anaknya, ia melihat sesuatu yang berbeda. Mereka menjadi lebih mandiri. Lebih percaya diri. Lebih disiplin.
”Semenjak sekolah di sana, pola pikirnya banyak berubah. Pola pikirnya bagus. Saya merasakan ada perubahan anak-anak saya,” ungkapnya.
Bagi banyak keluarga, Sekolah Rakyat mungkin dikenal sebagai sekolah gratis. Namun, bagi keluarga seperti Syafri, maknanya jauh lebih besar dari sekadar bebas biaya.
Sekolah itu menghadirkan rasa aman. Di mana, anak-anak tetap mendapatkan pendidikan, mereka tumbuh dalam lingkungan yang terarah, dan bahwa kemiskinan tidak harus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Sekolah Rakyat, anak-anak yang selama ini nyaris luput dari perhatian keadaan, mendapatkan kesempatan untuk memulai kembali.
Mereka yang pernah putus sekolah diberi ruang untuk bangkit. Bagi yang pernah kehilangan arah, dibimbing menemukan tujuan. Sementara mereka yang tumbuh dalam keterbatasan, diberikan kesempatan yang sama untuk bermimpi.
”Kita awasi terus. Karena tidak boleh bawa handphone (ponsel) ke sekolah. Apalagi yang merokok, kami terus awasi hingga benar-benar berhenti,” kata Reni.
Perubahan demi perubahan pun mulai terlihat. Anak-anak yang dahulu sulit disiplin kini mampu mengatur dirinya sendiri. Yang sebelumnya bebas tanpa arah, kini memiliki cita-cita yang ingin diperjuangkan.
Sekolah Rakyat tidak hanya mengajarkan pelajaran di ruang kelas. Ia mengajarkan harapan, karakter dan keyakinan bahwa masa depan bisa berubah ketika ada kesempatan yang diberikan dan diperjuangkan.
Di balik kisah Syafri dan ketiga putrinya, tersimpan cerita yang lebih besar tentang ribuan anak lain di Kepulauan Riau.
Data Dinas Sosial Kepri menunjukkan terdapat 73.026 keluarga yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2, kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Mereka tersebar di Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, hingga Anambas. Di setiap angka itu, ada anak-anak yang sedang bermimpi. Ada anak-anak yang ingin sekolah tetapi terhalang biaya. Ada anak-anak yang ingin mengubah nasib keluarganya tetapi belum menemukan jalannya.
Karena itulah, rencana pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah Kepri menjadi lebih dari sekadar proyek pembangunan fisik. Hal tersebut adalah investasi harapan. Sekaligus, menegaskan bawah negara hadir untuk mereka yang selama ini berjalan paling jauh dengan bekal yang paling sedikit.
Sebab sejatinya, kemiskinan tidak pernah lahir karena seseorang tidak memiliki mimpi. Kemiskinan sering kali hadir karena mimpi tidak diberi kesempatan untuk tumbuh.
Dan di sebuah bengkel tambal ban sederhana di pinggir jalan, seorang ayah telah membuktikan bahwa mimpi bisa tetap hidup, bahkan ketika kehidupan berjalan pas-pasan.
Setiap hari ia menambal ban yang bocor. Namun tanpa banyak orang sadari, selama bertahun-tahun ia juga sedang menambal harapan keluarganya agar tidak pernah kempes oleh keadaan.
Kini, harapan itu telah dititipkan kepada tiga anak perempuannya. Di ruang-ruang kelas, di lorong asrama, dan di setiap langkah yang mereka tempuh menuju masa depan.
Bukan Sekadar Gratis
Sejak diresmikan pada 30 September 2025 lalu, Sekolah Rakyat Tanjungpinang tidak hanya menerima anak-anak kurang mampu saja. Sebagian di antaranya datang untuk mendaftar, dengan latar belakang kehidupan yang beragam. Ada yang putus sekolah, hingga ada yang telah bekerja untuk membantu orangtua.
Mereka datang ke Sekolah Rakyat Tanjungpinang, tanpa harus memikirkan biaya pendidikan. Sejak menyentuh halaman sekolah tersebut, para murid bakal diberikan fasilitas gratis, mulai dari seragam, alat tulis untuk belajar, makanan, tempat tinggal, hingga biaya sekolah yang sama sekali tidak dikeluarkan dari kocek orangtua.
Dibalik fasilitas yang gratis, terselip rasa aman yang selama ini sulit diperoleh keluarga kurang mampu. Puluhan murid yang terdaftar sebagai keluarga Desil I (Sangat Miskin, red) dan Desil II (Miskin, red) tersebut tidak lagi mengalami keterbatasan, yang kerap menghantui malam dan pagi mereka.
Memang, sebagian besar murid datang karena terabaikan oleh orang tua yang sebagian besar sibuk mencari nafkah. Kebanyakan anak, sudah terbiasa bebas tanpa memperhatikan masa depan. Namun, sejak berstatus di Sekolah Rakyat Tanjungpinang, kebebasan itu tak lagi berlaku di sekolah tersebut.
Guru dan penjaga sekolah yang mengganti tugas sebagai orang tua dan sama sekali tak kenal lelah untuk mengawasi para siswa.
Seiring waktu, sekolah gratis dari pemerintah Indonesia tersebut menuai bibit anak-anak yang cemerlang. Murid yang dulunya tidak disiplin, bandel, hingga merokok berubah selama beberapa bulan, menjadi murid dengan kedisiplinan yang tinggi.
Dari situlah, mimpi-mimpi yang awalnya tampak jauh, kini berlahan menemukan jalan untuk tumbuh. Sekolah Rakyat, bukan hanya tempat menimba ilmu secara gratis, melainkan tempat di mana anak-anak yang nyaris tidak terlihat oleh keadaan, mendapatkan kesempatan untuk membingkai ulang masa depannya. ”Jadi anak-anak sudah disiplin semua. Bahkan yang dewasa, dapat menjaga adik-adiknya yang kecil,” tambah sang kepala sekolah sembari tersenyum.
Kepulauan Riau Butuh Sekolah Rakyat
Dibalik deretan angka dalam lembar data kesejahteraan sosial, terselip ribuan mimpi anak-anak Kepulauan Riau yang masih menunggu untuk mengubah nasibnya. Di sejumlah kabupaten di Kepulauan Riau, mulai dari Lingga, Karimun, Anambas, hingga Natuna masih menunggu pembangunan Sekolah Rakyat serupa.
Dinas Sosial Kepulauan Riau mencatat, setidaknya terdapat 73.026 keluarga yang berstatus Desil 1 dan Desil 2, merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang terendah. Puluhan ribu keluarga itu tersebar di tujuh kabupaten/kota.
Di Kabupaten Bintan, total keluarga yang tingkat kesejahteraannya rendah ada sebanyak 6.171 keluarga. Kemudian Karimun ada 9.680 keluarga, Natuna ada 4.540 keluarga, Lingga ada 8.017 keluarga, Kepulauan Anambas ada 2.340 keluarga, Kota Tanjungpinang ada 11.766 keluarga dan paling banyak di Kota Batam sebanyak 30.512 keluarga.
Program Sekolah Rakyat yang menyasar keluarga dari desil-desil terendah tersebut membuka peluang bagi anak-anak di Provinsi Kepri, terutama yang nyaris putus sekolah untuk memperoleh pendidikan, tanpa dibayangi biaya sekolah.
Kesadaran dengan kebutuhan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berencana membangun Sekolah Rakyat tingkat provinsi, yang dirancang menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak desil terendah yang ada di provinsi kepulauan tersebut.
Bangunan Sekolah Rakyat permanen direncanakan akan berdiri di atas lahan yang berada di Dompak, berdekatan dengan Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang. Berkas demi berkas persyaratan tengah digesa oleh Dinas Sosial.
Jika seluruh tahapan berjalan dengan mulus, pembangunan Sekolah Rakyat Pemprov Kepri ditargetkan dibangun pada penghujung tahun 2026, atau paling lambat awal 2027. Namun, pembangunan itu, perlu restu dari Kementerian Sosial.
”Semoga disetujui Kemensos, anggaran pembangunan kurang lebih Rp250 miliar, semuanya ditanggung APBN,” ujar Kepala Dinsos Kepulauan Riau, Mahadi Rahman.
Berdirinya Sekolah Rakyat di Dompak, bukan hanya bangunan yang bernilai ratusan miliar rupiah saja. Lebih dari itu, Sekolah Rakyat menjadi simbol yang membuktikan anak-anak kurang mampu tidak berjalan sendirian, melainkan diperhatikan oleh Pemerintah.
Sementara di Kabupaten Lingga, alat berat mulai bekerja membersihkan lahan di Desa Mepar. Hamparan tanah yang dulunya kosong, kini berlahan dipersiapkan untuk menjadi lokasi berdirinya Sekolah Rakyat satu-satunya di daerah berjuluk ”Bunda Tanah Melayu”.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Lingga juga sibuk melakukan pertemuan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, agar angan-angan adanya Sekolah Rakyat dapat terwujud.
”Lelang tender pembangunan Sekolah Rakyat akan dilakukan pada Oktober 2026. Target pembangunan akhir 2026,” tambah Sekretaris Daerah Lingga, Armia.
Hadirnya Sekolah Rakyat digadang-gadang dapat menjadi harapan baru bagi jutaan anak dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Terlebih, latar belakang pembangunan sekolah tersebut berangkat dari realitas banyaknya anak kurang mampu yang sulit mendapatkan pendidikan layak.
”Ketika Presiden membangun Sekolah Rakyat khusus untuk masyarakat miskin, harapan itu muncul kembali. Yang sebelumnya tidak punya kesempatan, kini bisa kembali bersekolah,” kata Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono dikutip dari Kemensos.go.id. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : RATNA IRTATIK