Buka konten ini

BATAM (BP) – Nama Ramadhan Sananta kini tidak lagi sekadar identik dengan Timnas Indonesia. Penyerang asal Kepulauan Riau itu mulai dipandang sebagai simbol bahwa talenta dari daerah pun mampu menembus panggung sepak bola nasional bahkan internasional.
Semangat itulah yang melatarbelakangi rencana penyelenggaraan BP Batam International Football Festival 2026, turnamen sepak bola usia dini yang akan mempertandingkan kelompok umur U-8, U-10, dan U-12. Ajang tersebut tengah dipersiapkan BP Batam sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan sepak bola usia muda di Kepulauan Riau.
Rencana itu mengemuka dalam pertemuan antara Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, dengan Ramadhan Sananta di Batam beberapa waktu lalu. Bagi BP Batam, festival tersebut bukan sekadar turnamen akhir pekan, melainkan wadah pembinaan yang diharapkan mampu memberikan pengalaman kompetisi berjenjang bagi pemain-pemain muda.
Fary menilai Kepulauan Riau memiliki banyak talenta sepak bola potensial. Namun, keterbatasan kompetisi dan pembinaan yang berkesinambungan kerap menjadi penghambat perkembangan mereka.
“Sananta menjadi contoh bahwa anak daerah bisa bersaing di level tertinggi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menciptakan ruang agar lebih banyak talenta muda mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Fary.
Menurutnya, pembinaan sepak bola tidak bisa dilakukan secara instan. Kompetisi yang rutin sejak usia dini dibutuhkan untuk membentuk kemampuan teknis, mental bertanding, serta karakter pemain.
Karena itu, BP Batam merancang festival tersebut dengan melibatkan akademi sepak bola dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Selain menjadi ajang kompetisi, pertemuan pemain muda dari tiga negara itu diharapkan dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas persaingan sejak dini.
Ramadhan Sananta menyambut baik inisiatif tersebut. Ia mengaku memahami tantangan yang dihadapi pemain muda di daerah karena pernah merasakan perjalanan yang sama sebelum menembus level profesional.
“Saya berasal dari daerah yang sama. Yang penting disiplin, terus berlatih, dan jangan mudah menyerah ketika gagal,” kata Sananta.
Penyerang Timnas Indonesia itu menegaskan bahwa pembinaan usia dini merupakan fondasi utama untuk melahirkan lebih banyak pemain profesional dari Kepulauan Riau. Menurutnya, banyak talenta potensial yang gagal berkembang bukan karena minim kemampuan, melainkan kurangnya kesempatan dan wadah pembinaan.
“Jangan pernah berpikir anak daerah tidak bisa bersaing. Siapa tahu beberapa tahun ke depan ada pemain dari Batam atau Kepri yang memperkuat Timnas Indonesia,” ujarnya.
Selain aspek pembinaan olahraga, BP Batam juga melihat potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari penyelenggaraan festival tersebut. Letak strategis Batam yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia dinilai menjadi modal kuat untuk mengembangkan sport tourism melalui event olahraga usia muda berskala internasional.
Kehadiran peserta, pelatih, ofisial, dan keluarga dari negara tetangga diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga pelaku usaha mikro di Batam.
Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan investasi, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia.
“Batam harus tumbuh sebagai kota yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu melahirkan talenta-talenta muda yang berprestasi,” kata Amsakar.
Ia menilai event olahraga internasional dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan Batam kepada dunia sekaligus memperkuat citra kota sebagai pusat pertumbuhan di kawasan perbatasan.
Senada dengan itu, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, berharap festival tersebut mampu memberikan manfaat berlapis bagi daerah, baik dari sisi pembinaan atlet maupun penggerakan ekonomi lokal.
“Kita ingin Batam dikenal sebagai kota yang nyaman untuk tinggal, bekerja, dan tumbuh. Kehadiran peserta, pelatih, dan keluarga dari negara tetangga akan membawa energi positif bagi Batam,” ujarnya.
Melalui BP Batam International Football Festival 2026, Batam tidak hanya ingin mencetak pemain-pemain muda berbakat, tetapi juga membangun ekosistem sepak bola yang sehat dan berkelanjutan. Dari kota perbatasan ini, mimpi melahirkan lebih banyak Ramadhan Sananta di masa depan mulai disiapkan. (*)
Reporter : SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO