Buka konten ini

JAKARTA (BP) – UMKM Indonesia kini kian percaya diri menembus pasar global di tengah ketatnya persaingan dagang internasional. Dari dapur kecil di Padang, Sumatra Barat, Eva Milza memulai usahanya pada awal 2003. Pemilik Rendang Asese itu dulu berbelanja bahan sendiri, memasak sendiri, lalu menitipkan dagangannya ke toko oleh-oleh.
Dua dekade berlalu, rendang buatannya kini melangkah jauh. Produk tersebut tak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga pernah dipamerkan di Malaysia dan Korea Selatan, serta mulai merambah peluang ekspor ke berbagai negara.
Kisah Eva bukan satu-satunya. Di Jakarta, desainer tunarungu, Rafi Abdurrahman Ridwan, juga menapaki jalan serupa melalui usaha fesyen Rafi Ridwan x ManZieRa. Keduanya berbeda latar belakang, tetapi memiliki kesamaan: keterbatasan akses pasar yang kini mulai terbuka.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD 25,30 miliar, naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, Januari–April 2026 mencapai USD 92,15 miliar.
Angka tersebut menunjukkan peluang pasar yang terus terbuka. Namun, bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menembus pasar global tidak mudah tanpa dukungan jaringan dan pendampingan.
Eva mengaku mendapat dukungan itu melalui berbagai program PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), terutama dalam hal promosi dan pemasaran.
“Kami sering difasilitasi ikut bazar dan pameran, bahkan sampai ke Malaysia dan Korea,” ujarnya.
Menurut dia, dukungan BNI sangat membantu perluasan pasar. Dampaknya, omzet usaha meningkat dan kini mempekerjakan sekitar 40–50 orang.
Eva juga mulai mengikuti program business matching yang difasilitasi BNI untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari luar negeri seperti Korea, Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Sementara itu, Rafi memulai usaha sejak usia sembilan tahun dengan belajar menjahit di Sekolah Luar Biasa (SLB). Ia mengandalkan kemampuan menggambar dan desain untuk mengembangkan usaha fesyen.
“Saya mulai dari membuat baju sendiri. Semua karena anugerah Allah, saya bisa menggambar dan mendesain,” ujarnya melalui pesan singkat.
Perjalanan Rafi tidak selalu mulus. Ia pernah kehilangan tempat usaha akibat banjir besar dan menghentikan aktivitas saat pandemi Covid-19. Ia juga sempat kehilangan anggota timnya.
Usahanya vakum sejak 2020 hingga 2024 sebelum kembali bangkit pada 2024.
Dalam kebangkitannya, dukungan BNI menjadi salah satu faktor penting, terutama melalui kesempatan mengikuti pameran tanpa biaya.
“Alhamdulillah saya bisa ikut pameran seperti BNI Expo, Dhawafest, dan bazar di Ditjen Pajak serta Bea Cukai,” katanya.
Menurut Rafi, kesempatan tersebut sangat berarti karena membantu memperluas pasar dan memperkenalkan produknya ke publik yang lebih luas.
Ia mengaku optimistis usahanya akan terus berkembang seiring terbukanya akses pasar.
Kisah Eva dan Rafi menunjukkan bahwa tantangan utama UMKM bukan hanya pada kualitas produk, tetapi juga pada akses pasar, jaringan, dan promosi.
Di tengah tren ekspor nasional yang terus meningkat, pelaku UMKM dinilai membutuhkan dukungan lebih dari sekadar pembiayaan.
Direktur Treasury & International Banking BNI, Abu Santosa Sudradjat, mengatakan peran bank kini tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai mitra strategis pelaku usaha.
“BNI berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku usaha nasional dengan pasar global, melalui pembiayaan, transaksi internasional, hingga business matching,” ujarnya.
BNI juga memperkuat dukungan kepada UMKM melalui program BNI Xpora untuk meningkatkan kapasitas usaha, digitalisasi, dan peluang ekspor. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI