Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kebutuhan transformasi digital di industri tekstil dan garmen Indonesia terus meningkat, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong modernisasi sektor manufaktur dan mendorong daya saing ekspor. Menurut data Kementerian Perindustrian RI yang dipaparkan dalam ajang Indo Intertex–Inatex 2026 pada Mei lalu, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional berhasil menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun serta menyerap 3,96 juta tenaga kerja.
Angka tersebut menunjukkan bahwa industri tekstil tetap memiliki daya tarik investasi yang kuat dan memainkan peran penting dalam menopang aktivitas manufaktur nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Guna mendukung industri tekstil, sejumlah produsen berlomba menginisiasi manufaktur cerdas yang memadukan AI, otomatisasi, dan konektivitas skala pabrik untuk membantu pelaku industri tekstil dan garmen meningkatkan produktivitas, serta merespons perubahan pasar dengan lebih cepat.
”Transformasi menuju manufaktur cerdas semakin relevan bagi industri tekstil dan garmen di kawasan Asia Tenggara, termasuk di sejumlah negara seperti Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, misalnya, pemerintah setempat bertekad merevitalisasi industri tekstil dan garmen,” kata CEO Jack Technology, Moli dalam keterangannya, dikutip Rabu (24/6).
Menurutnya, prospek industri tekstil Indonesia juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam jangka panjang. Laporan terbaru dari IMARC Group, perusahaan riset pasar dan konsultan global asal India, nilai pasar manufaktur tekstil Indonesia mencapai sekitar USD42 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD64,2 miliar pada 2034.
IMARC Group memperkirakan industri ini akan melaju dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 4,84 persen pada periode 2026–2034.
Moli mengatakan, proyeksi tersebut mencerminkan peran Indonesia yang semakin penting dalam rantai pasok tekstil dan garmen regional. Pertumbuhan pasar yang berkelanjutan, didukung oleh permintaan domestik maupun ekspor, mendorong pihak produsen untuk terus meningkatkan daya saing melalui modernisasi proses produksi dan pemanfaatan teknologi yang lebih terintegrasi.
”Sejalan dengan perkembangan industri, perusahaan tekstil dan garmen tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kapasitas produksi, namun juga mampu beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan kebutuhan pelanggan dan dinamika pasar. Karena itu, penerapan teknologi digital dan otomatisasi kelak menentukan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan operasional yang lebih optimal,” ujar Moli.
Dalam hal ini, Moli mengungkapkan peluncuran SmartLink Master menandai transformasi strategis Jack Technology dari produsen peralatan jahit menjadi penyedia solusi manufaktur cerdas terpadu untuk sistem produksi yang fleksibel dan responsif terhadap perubahan pasar.
Teknologi ini dirancang dengan Polaris AI Intelligent System dan platform Mendix milik Siemens, serta mengintegrasikan sejumlah teknologi mutakhir seperti SkyFox AI Vision, Spirit-Ape AI Kitting, dan Lightning AI Distribution.
Dengan menyatukan perangkat lunak, peralatan, dan proses produksi, SmartLink Master dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan manufaktur garmen.
”Kami mengembangkan solusi manufaktur cerdas yang dapat disesuaikan dengan beragam lingkungan produksi dan membantu produsen merespons perubahan permintaan pasar dengan lebih efektif,” pungkasnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI