Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Nilai tukar rupiah akhirnya kembali menembus level psikologis di bawah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6), rupiah menguat 129 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.860 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.989 per dolar AS.
Penguatan mata uang nasional tersebut berlangsung bersamaan dengan kebangkitan pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berhasil kembali menembus level psikologis 6.000, menandakan pulihnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang mampu meredakan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal nasional.
Menurut dia, koordinasi yang semakin kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI), kenaikan suku bunga acuan, tingginya imbal hasil aset rupiah, serta kondisi APBN Mei yang relatif sehat menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah.
“Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat,” ujarnya.
Josua menjelaskan, kenaikan BI-Rate memberikan bantalan bagi rupiah di tengah tekanan global. Pada saat yang sama, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) kembali menarik minat investor asing, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Senada, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan aliran modal asing mulai kembali masuk pasca penguatan bauran kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral.
“Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI serta mulai kembalinya investor asing ke pasar SBN,” kata Ramdan.
Menguatnya rupiah ternyata diikuti pergerakan positif pasar saham nasional. IHSG berhasil bangkit dan kembali menembus level 6.000 setelah mendapat dorongan kuat dari saham-saham sektor perbankan, pertambangan, dan telekomunikasi.
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyebut capaian tersebut sebagai sinyal kuat bahwa investor masih menaruh kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Ini adalah bukti nyata bahwa investor global maupun domestik menaruh kepercayaan penuh pada ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, khususnya pada portofolio BUMN kita,” ujarnya.
Menurut Dony, penguatan saham-saham BUMN menjadi salah satu motor utama kebangkitan IHSG. Kinerja tersebut mencerminkan hasil transformasi yang selama ini dijalankan perusahaan-perusahaan pelat merah.
Ia menilai stabilitas pasar keuangan sangat penting karena akan berdampak langsung terhadap ekonomi riil, mulai dari masuknya investasi baru hingga terbukanya lapangan kerja.
“Momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Iklim investasi yang stabil adalah kunci menarik kemitraan strategis bernilai tinggi,” katanya.
Meski demikian, sejumlah risiko eksternal masih membayangi pergerakan pasar. Penguatan dolar AS, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, fluktuasi harga minyak dunia, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
“Karena belum ada kesepakatan final, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati,” ujarnya.
Bank Indonesia dijadwalkan kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Juni mendatang. Hasil rapat tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk melihat arah kebijakan lanjutan dalam menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan momentum pemulihan pasar keuangan nasional. (*)
Laporan : JP GROUP – ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK