Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Sinyal meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai terlihat. Setelah beberapa hari terakhir diwarnai saling serang dan ancaman eskalasi militer, kedua negara kini sama-sama mengisyaratkan kemajuan signifikan dalam proses negosiasi.
Iran menyatakan sebagian besar teks kesepahaman dengan Amerika Serikat telah diselesaikan. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim perjanjian untuk mengakhiri konflik secara permanen telah memasuki tahap finalisasi dan berpeluang ditandatangani pada akhir pekan ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembahasan substansi utama kesepakatan telah selesai, meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan sikap yang perlu diselesaikan.
“Bagian utama dari teks kesepahaman telah diselesaikan,” kata Baghaei dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Kamis (11/6).
Namun, ia menuding Washington beberapa kali mengubah posisi dan mengajukan tuntutan baru yang dinilai menghambat jalannya diplomasi.
Menurut Baghaei, Iran telah menegaskan tidak akan menerima syarat-syarat yang dianggap melanggar kepentingan nasionalnya. Meski demikian, jalur komunikasi melalui negara-negara mediator masih terus berjalan.
“Para mediator tetap aktif dan posisi Iran telah kami sampaikan dengan sangat jelas,” ujarnya.
Pernyataan Iran tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump menyampaikan optimisme serupa dari Gedung Putih.
Dalam keterangannya di Ruang Oval, Trump menyebut proses penyusunan dokumen perdamaian sudah hampir selesai dan tinggal menunggu tahap akhir sebelum ditandatangani.
“Kami baru saja menyelesaikan perang dengan Iran dengan baik, dan kami akan tunduk pada finalisasi dokumen yang seharusnya selesai dalam beberapa hari ke depan,” kata Trump.
Ia bahkan menyebut penandatanganan berpotensi dilakukan di Eropa pada akhir pekan ini. Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner disebut akan mewakili Amerika Serikat apabila proses tersebut terealisasi.
Trump juga mengklaim Iran telah menyetujui komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir di masa mendatang, yang menurutnya menjadi tujuan utama operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat.
“Saya mengerti jawabannya adalah ya,” ujar Trump saat ditanya mengenai persetujuan pihak Iran terhadap kesepakatan tersebut.
Selain itu, Trump menyebut tercapainya kesepakatan damai akan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan militer dan ancaman terhadap distribusi energi dunia.
Meski optimisme mulai muncul, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat dan Iran masih terlibat aksi saling serang.
Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran setelah sebuah helikopter Apache miliknya ditembak jatuh di kawasan Selat Hormuz. Sebaliknya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Menariknya, hanya beberapa jam sebelum mengumumkan kemajuan negosiasi, Trump sempat mengancam akan meningkatkan operasi militer terhadap Iran, termasuk opsi penguasaan Pulau Kharg yang menjadi salah satu pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Namun nada pernyataannya berubah setelah perkembangan diplomatik menunjukkan kemajuan.
“Jika kita menandatangani perjanjian ini, itu akan terjadi,” kata Trump ketika ditanya mengenai kelanjutan opsi militer tersebut.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington mulai mengedepankan jalur diplomasi dibandingkan konfrontasi bersenjata.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai proses menuju perdamaian permanen masih menghadapi tantangan. Perbedaan kepentingan terkait program nuklir Iran, keamanan kawasan, hingga keberadaan kelompok-kelompok sekutu Teheran di Timur Tengah masih menjadi isu yang berpotensi memengaruhi implementasi kesepakatan.
Apabila perjanjian benar-benar ditandatangani dalam beberapa hari ke depan, perkembangan tersebut dapat menjadi titik balik penting bagi stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus membantu meredakan kekhawatiran pasar global terhadap gangguan pasokan energi dunia. (*)
Laporan : JP GROUP – ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK