Buka konten ini

Kembali ke Batam lebih cepat dari jadwal cuti yang diajukan. Di balik kepulangan awal, tersimpan kisah-kisah sederhana yang justru paling membekas selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Ia juga membawa pulang serangkaian pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang kehidupan, pelayanan, dan arti sebuah kemudahan.
KETIKA pesawat yang membawanya mendarat kembali di Indonesia, Amsakar Achmad pulang bukan hanya dengan status sebagai haji. Ia juga membawa pulang serangkaian pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang kehidupan, pelayanan, dan arti sebuah kemudahan.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam itu kembali ke Batam pada Selasa (9/6), lebih cepat dari jadwal cuti yang sebelumnya diajukan. Namun di balik kepulangan tersebut, tersimpan kisah-kisah sederhana yang justru paling membekas selama menjalankan ibadah di Tanah Suci
Bagi Amsakar, perjalanan haji kali ini bukan semata tentang menunaikan rukun Islam kelima. Ia merasa perjalanan tersebut dipenuhi pertolongan-pertolongan kecil yang datang pada saat yang tepat, seolah menjadi jawaban atas doa yang dipanjatkannya sebelum berangkat.
Sebelum meninggalkan Batam, hampir di setiap kesempatan ia selalu meminta doa kepada masyarakat agar diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah haji. Doa-doa itulah yang menurutnya benar-benar terasa menyertai langkahnya selama berada di Makkah dan Madinah.
”Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Batam. Setiap pertemuan sebelum berangkat, saya selalu memohon doa agar perjalanan ibadah ini dimudahkan Allah SWT. Dan apa yang saya harapkan itu benar-benar saya rasakan di Tanah Suci,” ujarnya.
Kemudahan itu hadir dalam berbagai bentuk. Hal-hal yang tampak sederhana justru meninggalkan kesan mendalam. Saat bangun pagi, misalnya, selalu ada teman yang telah menyiapkan secangkir kopi. Saat waktu makan tiba, ada saja yang membantu mengambilkan makanan.
Di tengah jutaan manusia yang berkumpul untuk tujuan yang sama, ia merasakan kehangatan dan kepedulian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
”Rasanya luar biasa. Banyak hal yang seperti dipermudah tanpa saya minta,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi saat menuju lokasi lempar jumrah. Di tengah lautan manusia yang bergerak menuju tujuan yang sama, beberapa jemaah yang bahkan tidak dikenalnya tiba-tiba membantu membuka jalan.
Mereka datang dari berbagai negara, dengan bahasa dan latar belakang yang berbeda. Namun saat itu, yang terasa hanyalah semangat saling membantu sesama muslim
”Saat berjalan ramai-ramai menuju jumrah, tiba-tiba ada teman-teman dari luar yang membantu memberikan jalan. Saya merasa itu pengalaman yang luar biasa,” kenangnya.
Di balik pengalaman spiritual yang khusyuk, terselip pula sejumlah kejadian yang mengundang tawa.
Pada hari kedua berada di Tanah Suci, Amsakar sempat dibuat panik karena merasa kehilangan handuk. Ia mondar-mandir dari kamar menuju kamar mandi, mencari ke sana kemari tanpa hasil.
Rekan-rekannya mulai heran melihat tingkahnya.
”Ada apa, Pak Wali?” tanya mereka.
Barulah beberapa saat kemudian ia menyadari sesuatu yang membuat semua orang tertawa.
Handuk yang dicari ternyata masih terikat di pinggangnya sebagai kain ihram.
”Saya bolak-balik mencari handuk. Ternyata yang dicari masih saya pakai,” katanya sambil tertawa mengenang peristiwa tersebut.
Pengalaman lain yang membuatnya takjub terjadi ketika ia meninggalkan telepon genggam di sebuah area duduk dekat hotel. Setelah hampir satu jam berlalu, ia baru menyadari ponselnya tertinggal.
Dengan perasaan waswas, ia kembali ke lokasi tersebut. Namun apa yang ditemukannya justru membuatnya terharu. Ponsel itu masih berada di tempat semula, tidak bergeser sedikit pun.
”Saya tinggal hampir satu jam. Ketika kembali, ponsel itu masih ada dan aman,” ujarnya.
Kejadian serupa juga dialami istrinya yang sempat kehilangan jam tangan di Madinah. Jam tersebut sempat dianggap hilang selamanya. Padahal benda itu memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada nilai materinya karena merupakan hadiah ulang tahun dari anak mereka.
Keesokan harinya, pihak hotel berhasil menemukan dan mengembalikan jam tersebut.
”Harganya mungkin tidak seberapa, tapi itu hadiah ulang tahun dari anak kami.
Alhamdulillah bisa ditemukan kembali,” katanya.
Namun dari seluruh rangkaian perjalanan haji, ada satu pengalaman yang paling membekas di hati Amsakar, yakni kesempatan untuk mendampingi sang istri selama menjalankan ibadah.
Kesibukan sebagai kepala daerah selama ini membuat waktu kebersamaan mereka sangat terbatas. Karena itu, sejak awal keberangkatan ia telah meniatkan satu hal: memberikan waktunya sepenuhnya untuk sang istri.
Niat tersebut diwujudkannya dengan cara yang sederhana, tetapi penuh makna.
Hampir seluruh rangkaian thawaf dan sa’i dijalaninya sambil mendorong kursi roda istrinya.
Tujuh putaran thawaf mengelilingi Ka’bah. Tujuh kali perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah. Semua dilaluinya dengan mendampingi perempuan yang selama ini setia berada di sisinya.
”Saya thawaf tujuh putaran, sa’i tujuh kali dari Shafa ke Marwah sambil mendampingi istri. Justru saya merasa banyak kemudahan ketika mendorong istri,” katanya.
Baginya, ibadah haji kali ini tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan untuk melayani dan mengungkapkan kasih sayang kepada keluarga.
”Di Batam sangat sedikit waktu kami untuk berkomunikasi dan bersama. Karena itu saya niatkan selama di Tanah Suci untuk melayani istri sebaik mungkin,” ujarnya.
Perjalanan fisik yang berat pun terasa ringan. Ia mengaku menempuh puluhan kilometer selama rangkaian haji, mulai dari Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat hingga kembali ke Masjidil Haram untuk menjalankan thawaf ifadah.
Jika dihitung secara logika, ia sendiri tidak menyangka memiliki kekuatan sebesar itu. Namun di Tanah Suci, segala keterbatasan seakan digantikan oleh semangat yang datang dari dalam diri.
”Biasanya saya tidak menyangka bisa sekuat itu. Tapi di sana rasanya semua dimudahkan,” katanya.
Selain menunaikan ibadah wajib, Amsakar juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Madinah. Ia mengunjungi Universitas Islam Madinah, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, hingga museum yang menyimpan mushaf Al-Qur’an kuno peninggalan masa awal Islam.
Di tempat itu, ia berdiri memandangi lembaran Al-Qur’an yang telah berusia lebih dari 14 abad.
”Tulisannya masih Arab gundul, belum ada tanda baca dan hukum bacaannya seperti sekarang. Itu pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.
Ia juga mengunjungi kawasan Wakaf Utsman bin Affan yang hingga kini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi umat. Dari sana, ia belajar tentang pengorbanan, kebermanfaatan, dan bagaimana sebuah kebaikan dapat terus hidup bahkan setelah ratusan tahun berlalu.
Salah satu momen spiritual yang paling membekas terjadi saat ia berada di Masjid Qiblatain. Usai melaksanakan salat sunnah tahiyatul masjid, seorang imam sekaligus guru agama setempat meminta bertemu dengannya.
Melalui seorang penerjemah, imam tersebut menyampaikan keinginannya untuk mendoakan Amsakar secara khusus.
Di tengah suasana yang hening, Amsakar hanya bisa mengangkat tangan dan mengamini setiap doa yang dipanjatkan.
”Saya hanya bisa mengamini doa beliau. Itu menjadi pengalaman spiritual yang sangat berkesan bagi saya,” katanya.
Meski masih memiliki waktu cuti yang lebih panjang, Amsakar akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia lebih cepat. Selain karena seluruh rukun dan wajib haji telah selesai dilaksanakan, ia juga harus menghadiri agenda penting sebagai Kepala BP Batam, yakni Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI.
Atas pertimbangan tersebut, ia mengajukan permohonan untuk pulang lebih awal dan kembali menjalankan tugas pemerintahan.
Namun sebelum meninggalkan Tanah Suci, ia merasa telah memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar perjalanan ibadah.
Ia menemukan pelajaran sederhana yang menurutnya menjadi inti dari seluruh pengalaman selama berhaji.
”Saya sampai pada satu kesimpulan. Mudahkan urusan orang lain, maka insya Allah pada waktunya Allah akan memudahkan urusan kita,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Amsakar, maknanya lahir dari pengalaman nyata yang ia rasakan sendiri di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci.
Tentang tangan-tangan yang membantu tanpa diminta. Tentang barang yang hilang lalu kembali ditemukan. Tentang kesempatan melayani orang yang dicintai. Dan tentang doa-doa yang datang dari banyak orang, lalu menjelma menjadi kemudahan di setiap langkah perjalanan.
Dari Tanah Suci, Amsakar pulang membawa keyakinan baru: bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk kembali.(*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO