Buka konten ini

Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga
CITRA peneliti Indonesia tercoreng di forum internasional. Alih-alih menghasilkan temuan penelitian yang inovatif, sejumlah peneliti abal-abal ternyata memanfaatkan forum ilmiah sekadar untuk mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri tanpa harus mengeluarkan dana dari kantong pribadi.
Skandal pemalsuan riset oleh sekelompok peserta Indonesia dalam forum International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, bukan sekadar pelanggaran etik. Kasus itu benar-benar merusak reputasi para peneliti tanah air. Sebagai presenter makalah ilmiah, mereka tidak hanya memalsukan identitas dengan cara berganti baju, jilbab, dan nametag, lebih dari itu, mereka juga ditengarai memalsukan data dengan akal imitasi (AI).
Data yang seharusnya digali dari kajian ilmiah yang metodologis justru dengan serampangan diambil begitu saja dari hasil kerja AI. Sejauh ini, diduga kuat data yang dipaparkan dalam forum seminar internasional di Denmark tersebut adalah hasil fabrikasi. Afiliasi lembaga yang ditampilkan juga fiktif. Klaim penelitian di berbagai negara seperti Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Nepal, Kenya, hingga Bangladesh sangat mungkin juga palsu.
Konsekuensi
Sungguh memilukan sekaligus memalukan karena ternyata semua upaya tipu-tipu dan rekayasa data berkedok ilmiah tersebut dilakukan hanya untuk tujuan sederhana, yakni mendapatkan travel grant sekaligus menikmati kesempatan jalan-jalan ke berbagai negara. Selain di Denmark, peneliti abal-abal tersebut konon pernah melakukan hal yang sama di Taiwan pada 2025.
Skandal itu seolah menjadi antitesis kerja keras para peneliti yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para peneliti yang sungguh-sungguh melakukan riset untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan?
Nama-nama peneliti seperti Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti di bidang kedokteran klinis dari Universitas Oxford, dan Ida Bagus Mandhara Brasika, akademisi Universitas Udayana, adalah peneliti dari dunia kampus yang curiga, kemudian membongkar kejanggalan sejumlah peneliti palsu dari Indonesia tersebut. Di tengah forum yang mempertemukan ribuan ahli dari 86 negara tersebut, mereka menemukan serangkaian anomali yang mencengangkan sekaligus memalukan.
Ada sejumlah konsekuensi yang timbul dari skandal tersebut. Pertama, konsekuensi aib memalukan itu tentu tidak hanya berhenti pada sanksi individu pelaku seperti pembatalan hibah dan pencabutan hak partisipasi oleh panitia. Lebih jauh, kasus tersebut dikhawatirkan memicu kerusakan reputasi yang luar biasa bagi ekosistem peneliti Indonesia di mata komunitas global. Kepercayaan internasional terhadap akademisi dan peneliti Indonesia bukan tidak mungkin merosot drastis. Ibaratnya, nila setitik yang merusak susu sebelanga atas reputasi seluruh peneliti Indonesia.
Kedua, bagi panitia seminar internasional, mereka tentu akan bersikap ekstrahati-hati menyikapi peneliti dari Indonesia. Bukan tidak mungkin, proses seleksi bakal lebih ketat. Di berbagai forum internasional, panitia dan editor jurnal internasional cenderung memiliki ingatan kolektif. Ketika terjadi kecurangan mencolok yang membawa nama institusi atau negara tertentu, para reviewer jurnal bisa saja bersikap skeptis atau lebih ’’protektif’’ terhadap setiap naskah yang datang dari negara tersebut. Akibatnya, para peneliti dari Indonesia yang benar-benar melakukan penelitian dengan benar dan metodologi jujur berpotensi terkena getahnya. Kerugian moral dan profesional itu jelas tak ternilai harganya.
Ketiga, meski para peneliti Indonesia harus kembali berjuang membangun reputasi pasca-skandal itu, aspek positifnya, dunia penelitian di Indonesia bisa tumbuh lebih baik. Berbagai kasus fabrikasi dalam penelitian, pemanfaatan joki untuk seminar internasional, dan orientasi penulisan jurnal internasional yang lebih pada kuantitas daripada kualitas, cepat atau lambat, akan makin ditinggalkan. Skandal di Denmark tersebut bisa menjadi refleksi atas penyakit kronis di dunia pendidikan kita: obsesi berlebihan terhadap kuantitas publikasi atau partisipasi, tetapi mengabaikan substansi dan nilai apa yang diteliti.
Reputasi
Skandal peneliti abal-abal itu tentu menjadi tamparan keras bagi ekosistem akademik nasional. Untuk memulihkan kembali reputasi peneliti nasional pasca kejadian, tentu bukan hal mudah. Investigasi mendalam mengenai asal-muasal afiliasi, keabsahan institusi yang dicatut, hingga evaluasi komite etik mutlak dilakukan. Namun, di luar itu, kasus tersebut sesungguhnya menjadi momentum penting untuk menakar kembali orientasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Regulasi penggunaan AI dalam riset dan publikasi harus dipertegas. AI semestinya diposisikan sebagai asisten atau alat bantu untuk memverifikasi referensi dan mempercepat pekerjaan teknis. Bukan dijadikan mesin pembuat data fiktif yang tidak pernah ada di dunia nyata. Pendidikan tinggi tidak boleh hanya mencetak lulusan yang mahir bersandiwara atau memanipulasi sistem untuk mendapatkan dana hibah.
Institusi pendidikan tinggi perlu menanamkan budaya kejujuran sejak bangku kuliah, membekali mahasiswa dengan pemahaman anti-plagiarisme, serta mengajarkan etika penggunaan teknologi. Sanksi tegas, baik secara etik maupun akademik, harus diterapkan secara transparan kepada siapa pun yang terbukti memalsukan karya ilmiah demi menjaga kepercayaan internasional. (*)