Buka konten ini

UPAYA mempercantik wajah Kota Batam kembali tercoreng oleh keberadaan tempat pembuangan sementara (TPS) di tepi jalan utama yang ramai dilalui warga. Kondisi tersebut menuai sorotan, salah satunya TPS di Jalan Yos Sudarso, Batuampar, yang melayani wilayah Bengkong.
TPS yang berada di jalur protokol utama itu setiap hari dilintasi kendaraan logistik, pekerja industri, investor, hingga wisatawan. Namun, pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah terlihat jelas dari badan jalan, bahkan sebagian ceceran sampah tampak berserakan di sekitar kontainer.
Kondisi tersebut dinilai mengurangi estetika kota sekaligus menimbulkan kesan kumuh di salah satu koridor utama menuju kawasan industri dan pelabuhan.
Sejumlah warga menilai keberadaan TPS di lokasi strategis itu sudah lama menjadi perhatian. Selain mengganggu pemandangan, posisi TPS di tepi jalan utama dianggap tidak sejalan dengan upaya pemerintah menjadikan Batam sebagai kota investasi, industri, dan pariwisata.
Dadang Irwansyah, warga yang kerap melintas di kawasan tersebut, mengatakan tumpukan sampah sangat mudah terlihat pengguna jalan.
“Kalau orang luar datang lewat sini, yang pertama dilihat justru tumpukan sampah. Padahal ini jalan protokol dan salah satu wajah Batam,” ujarnya, Senin (1/6).
Ia berharap pemerintah segera mencari solusi jangka panjang agar TPS tidak lagi berada di tepi jalan utama. Selain faktor estetika, warga juga mengkhawatirkan potensi bau serta sampah yang tercecer saat volume meningkat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Dohar Mangalondo Hasibuan, menegaskan bahwa TPS di Jalan Yos Sudarso hanya bersifat sementara.
Ia menjelaskan, Pemko Batam tengah menyiapkan program “satu perumahan satu TPS” agar ke depan tidak lagi diperlukan TPS di jalan protokol. “Itu cuma sementara. Kami sedang menyiapkan satu perumahan satu TPS,” kata Dohar.
Menurut dia, volume sampah di TPS tersebut cukup besar sehingga membutuhkan lokasi penampungan sementara sebelum diangkut ke tempat pemrosesan akhir. Meski demikian, pengangkutan tetap dilakukan setiap hari untuk mencegah penumpukan berlebihan.
“Volume sampah di situ memang banyak. Karena itu pengangkutan kami lakukan setiap hari,” ujarnya.
Dohar menambahkan, keberadaan TPS di Jalan Yos Sudarso akan dihapus setelah program penyediaan TPS di kawasan perumahan terealisasi. “Kalau program itu sudah selesai, TPS di Jalan Yos Sudarso akan kita tiadakan lagi,” tegasnya.
DLH berharap penataan sistem persampahan tersebut dapat membuat pengelolaan sampah di Batam lebih tertata sekaligus mengurangi TPS di lokasi yang mengganggu estetika kota.
“Dengan itu, wajah Batam sebagai kota industri, investasi, dan pariwisata bisa semakin terjaga,” katanya.
Sementara itu, persoalan serupa juga terjadi di kawasan Sadai, Kecamatan Bengkong. Tumpukan sampah rumah tangga di wilayah tersebut dilaporkan menumpuk hampir sebulan terakhir akibat tidak terangkut secara rutin.
Kondisi itu membuat tong-tong sampah meluap hingga ke badan jalan dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu warga sekitar. Situasi diperburuk oleh tingginya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir yang mempercepat pembusukan sampah organik.
“Bau sampah sudah sangat menyengat. Apalagi sering hujan, sampah jadi cepat busuk. Kami sampai tidak nyaman berada di luar rumah,” kata Riki, warga Sadai, Minggu (31/5). Ia menyebut keterlambatan pengangkutan sampah bukan hal baru dan sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, bahkan sebelum Idulfitri.
Dalam kondisi normal, sampah seharusnya diangkut secara berkala, namun pelayanan dinilai tidak berjalan optimal.
“Kadang lebih dari sebulan baru diangkut. Banyak warga akhirnya mencari lokasi lain untuk membuang sampah karena tempat sudah penuh,” ujarnya.
Akibatnya, hampir seluruh tong sampah di kawasan permukiman terlihat meluber. Selain mencemari lingkungan, kondisi tersebut juga memicu munculnya lalat dalam jumlah besar dan kekhawatiran akan dampak kesehatan.
Keluhan warga disebut sudah berulang kali disampaikan melalui RT hingga kelurahan, namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan.
“Kami sudah beberapa kali menyampaikan, tapi belum ada perubahan di lapangan,” kata Riki.
Warga lain, Yanto, meminta pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk. Ia khawatir warga akan terpaksa membuang sampah sembarangan jika pengangkutan terus tersendat.
“Kalau tidak segera diangkut, bisa-bisa warga buang sampah sembarangan,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Batam, Iqbal, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan warga dengan melakukan pengecekan di lapangan.
“Kami akan berkoordinasi dengan pengawas untuk mengecek kondisi di lokasi,” kata Iqbal.
Ia mengakui layanan pengangkutan sampah di sejumlah kawasan belum sepenuhnya normal, salah satunya karena keterbatasan armada. Selain itu, keberadaan TPS liar juga menambah beban operasional petugas.
“Jumlah armada terbatas dan ada TPS liar yang menambah beban,” ujarnya.
DLH berjanji akan mempercepat penanganan dan memastikan pengangkutan segera dilakukan. Persoalan sampah, kata dia, masih menjadi tantangan klasik di Batam seiring pertumbuhan penduduk dan kawasan permukiman yang terus meningkat.
Bagi warga Bengkong Sadai, harapan mereka tetap sederhana: layanan pengangkutan sampah yang rutin, konsisten, dan tidak menimbulkan penumpukan berkepanjangan. (***)
Reporter : M SYA’BAN – AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO