Buka konten ini

Kenaikan berat badan yang terjadi secara terus-menerus tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Di balik kondisi tersebut, terdapat risiko gangguan metabolik yang dapat memicu berbagai penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.

FENOMENA meningkatnya kasus obesitas dan diabetes pada usia produktif menjadi perhatian serius kalangan medis. Perubahan pola hidup masyarakat modern yang cenderung serba praktis dinilai menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya gangguan metabolik dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu disampaikan dr. Dhinar Kemas Ariawidjaja, SpPD, Subsp.EMD (K) FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dalam siaran langsung Instagram Hallo Awal Bros, Kamis (7/5/2026).
Menurut dr. Dhinar, kemudahan teknologi dan layanan digital membuat aktivitas fisik masyarakat semakin berkurang. Di sisi lain, makanan cepat saji dan minuman tinggi gula semakin mudah diperoleh hanya melalui aplikasi daring.
“Sekarang semuanya serba cepat dan mudah. Orang jadi lebih sedikit bergerak, sementara makanan tinggi kalori sangat gampang didapat. Kondisi seperti ini membuat berat badan mudah naik dan akhirnya memicu gangguan metabolisme,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat sering kali menganggap tubuh gemuk sebagai tanda kemakmuran atau kesehatan. Padahal, berat badan berlebih belum tentu menunjukkan kondisi tubuh yang sehat.
“Selama ini masih ada anggapan kalau tubuh gemuk itu berarti sehat atau makmur. Padahal belum tentu. Orang dengan berat badan berlebih tetap harus diperiksa apakah metabolisme tubuhnya baik atau justru sudah terganggu,” katanya.
Risiko Obesitas dan Gangguan Metabolik
dr. Dhinar menerangkan, salah satu cara sederhana untuk mengetahui kondisi berat badan adalah melalui penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Perhitungan dilakukan dengan membagi berat badan menggunakan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.
Menurutnya, seseorang masuk kategori overweight apabila nilai IMT berada di atas 23,9. Sementara obesitas dimulai dari angka di atas 25.
“Kalau sudah obesitas, risiko terjadinya gangguan metabolik menjadi lebih tinggi. Mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, asam urat, sampai penyakit jantung,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengatakan tidak semua orang dengan tubuh besar pasti mengalami gangguan metabolik. Dalam dunia medis terdapat istilah metabolically healthy obese, yakni kondisi seseorang dengan berat badan besar tetapi metabolisme tubuhnya masih baik.
“Contohnya pada atlet binaraga atau pegulat sumo yang metabolisme tubuhnya tetap dijaga dengan baik. Tapi untuk mengetahui seseorang sehat atau tidak, tetap harus dilakukan screening,” ujarnya.
Menurut dr. Dhinar, masyarakat perlu memahami bahwa penumpukan lemak, terutama di area perut, menjadi salah satu faktor risiko paling berbahaya.
“Lemak di area perut sangat berisiko karena berkaitan dengan organ-organ penting seperti hati dan pankreas. Kondisi inilah yang sering memicu diabetes dan gangguan metabolik lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, seseorang yang tampak tidak terlalu gemuk tetap berisiko mengalami diabetes apabila memiliki lingkar perut berlebih atau faktor risiko lain seperti genetik dan kebiasaan merokok.
“Tubuh terlihat normal belum tentu aman. Ada orang yang badannya tidak terlalu besar, tetapi perutnya buncit. Nah, kondisi itu juga berisiko terhadap diabetes,” ujarnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes di RS Awal Bros Batam
Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros Batam
Tanda Awal yang Sering Tidak Disadari
dr. Dhinar mengatakan, gangguan metabolik sering berkembang tanpa disadari masyarakat. Gejala awalnya pun kerap dianggap sepele.
“Tanda paling mudah dilihat biasanya lingkar perut mulai membesar, berat badan terus naik, tekanan darah meningkat, kadar gula darah dan kolesterol mulai tidak normal,” katanya.
Selain itu, perubahan fisik tertentu juga dapat menjadi tanda adanya gangguan metabolisme. Salah satunya perubahan warna kulit menjadi lebih gelap di area leher atau tengkuk.
“Ada juga tanda berupa kulit menghitam di tengkuk atau muncul skin tag seperti daging tumbuh kecil di area leher dan bawah mata. Itu bisa menjadi sinyal metabolisme tubuh mulai terganggu,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan minimal satu kali dalam setahun untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini.
“Minimal medical check-up setahun sekali. Dari situ kita bisa melihat tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, dan kondisi metabolisme tubuh secara umum,” ujarnya.
Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu
Menurut dr. Dhinar, pola hidup masyarakat modern sangat memengaruhi meningkatnya kasus obesitas dan diabetes. Aktivitas bekerja dari rumah atau work from anywhere membuat sebagian orang semakin jarang bergerak.
“Sekarang banyak orang kerja di depan komputer seharian. Makan tinggal pesan, aktivitas fisik minim. Kalau tidak diimbangi olahraga, risiko gangguan metabolik semakin tinggi,” katanya.
Selain kurang bergerak, konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis juga berkontribusi besar terhadap kenaikan berat badan.
“Tubuh memang butuh gula, tetapi kalau berlebihan akan disimpan menjadi lemak. Minuman kekinian dengan tambahan krimer, susu, dan topping itu kalorinya tinggi sekali,” ujarnya.
Ia menegaskan, masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari makanan atau minuman manis, tetapi perlu lebih bijak dalam mengonsumsinya.
“Bukan berarti tidak boleh minum manis, tetapi harus cerdas memilih dan membatasi konsumsinya,” katanya.
Kurang Tidur dan Stres Berpengaruh Besar
Selain pola makan, kurang tidur dan stres berkepanjangan juga memiliki pengaruh besar terhadap metabolisme tubuh.
dr. Dhinar menjelaskan, tubuh memiliki hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketika seseorang sering begadang atau mengalami stres, keseimbangan hormon tersebut dapat terganggu.
“Begadang dan stres membuat hormon tubuh tidak seimbang. Akibatnya metabolisme terganggu dan berat badan lebih mudah naik,” ujarnya.
Ia menilai penerapan work-life balance menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan.
“Tidur cukup, olahraga teratur, dan mengelola stres sangat penting. Kalau gaya hidup tidak diperbaiki, risiko penyakit kronis akan meningkat dalam jangka panjang,” katanya.
Diet Ekstrem Tidak Dianjurkan
Dalam kesempatan tersebut, dr. Dhinar juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diet ekstrem demi menurunkan berat badan secara cepat.
Menurutnya, penurunan berat badan yang terlalu drastis dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan, termasuk pembentukan batu empedu dan hilangnya massa otot.
“Diet ekstrem memang bisa menurunkan berat badan cepat, tetapi tubuh juga bisa mengalami efek samping. Salah satunya risiko batu empedu dan kehilangan massa otot,” ujarnya.
Ia menyarankan penurunan berat badan dilakukan secara bertahap dan realistis.
“Penurunan berat badan yang aman sekitar 10 persen dari berat badan awal dalam enam bulan. Jangan dua minggu langsung turun drastis,” katanya.
Pola Makan Seimbang Kunci Cegah Gangguan Metabolik
Menurut dr. Dhinar, menerapkan pola makan sehat sebenarnya tidak sulit selama dilakukan secara konsisten dan realistis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat kerap tergoda oleh tampilan iklan makanan yang menarik sehingga lebih memilih makanan tinggi kalori dan rendah gizi.
“Pola makan sehat sebenarnya cukup mudah diterapkan. Tantangannya sekarang adalah banyak makanan yang tampilannya menggoda, sehingga orang sering memilih makanan yang kurang sehat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, komposisi makanan dalam satu piring harus seimbang. Makanan sehari-hari sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak dalam jumlah yang proporsional.
“Komponen makanan harus lengkap. Ada karbohidrat, protein, serat dari sayur dan buah, serta lemak dalam jumlah sedikit,” katanya.
dr. Dhinar menyarankan masyarakat mulai membiasakan pola makan teratur tiga kali sehari. Selain itu, setiap porsi makan perlu memperhatikan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi.
“Langkah awal yang paling penting adalah mengubah pola makan menjadi lebih teratur. Makan tiga kali sehari dengan komposisi yang seimbang,” jelasnya.
Ia mengatakan sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari nasi, tetapi juga bisa diganti dengan kentang, ubi, atau jagung. Sementara sumber protein dapat diperoleh dari protein hewani maupun nabati.
“Protein bisa didapat dari ikan, ayam, daging, telur, tempe, dan tahu. Sedangkan serat berasal dari sayur dan buah,” ujarnya.
Menurutnya, konsumsi makanan berminyak juga perlu dibatasi. Dalam satu porsi makan, makanan yang digoreng sebaiknya tidak berlebihan.
“Kalau sudah ada lauk yang digoreng, sebaiknya sayurnya jangan ikut digoreng juga. Jadi jumlah minyak yang masuk ke tubuh tidak terlalu banyak,” katanya.
Selain makan utama, masyarakat tetap diperbolehkan mengonsumsi camilan. Namun, jenis camilan yang dipilih harus lebih sehat dan tidak tinggi gula maupun lemak.
“Kalau masih lapar di sela waktu makan, boleh mengonsumsi snack sehat pada pagi atau sore hari. Misalnya buah, rebusan, atau makanan kukus,” ujarnya.
Olahraga Harus Konsisten
Untuk membantu memperbaiki metabolisme tubuh, dr. Dhinar menganjurkan olahraga aerobik dilakukan secara rutin minimal 150 menit per minggu.
“Olahraga seperti jalan kaki, jogging, berenang, atau bersepeda sangat baik untuk metabolisme tubuh. Yang penting konsisten,” ujarnya.
Selain latihan kardio, latihan kekuatan seperti angkat beban juga dianjurkan untuk menjaga massa otot selama proses penurunan berat badan.
“Kalau berat badan turun, massa otot juga bisa ikut turun. Karena itu perlu ditambah latihan kekuatan secara bertahap,” katanya.
Diabetes Bisa Dicegah dan Dikendalikan
dr. Dhinar menegaskan bahwa diabetes dan gangguan metabolik pada dasarnya dapat dicegah bahkan diperbaiki melalui perubahan gaya hidup.
Ia mengungkapkan, sejumlah pasien yang rutin menjaga pola hidup sehat mengalami perbaikan kondisi hingga penggunaan obat dapat dikurangi.
“Ada pasien yang setelah memperbaiki pola makan, rutin olahraga, dan menjaga berat badan, kebutuhan obatnya berkurang bahkan ada yang bisa berhenti obat tertentu,” ujarnya.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai diabetes remission, yakni kadar gula darah kembali stabil tanpa pengobatan intensif.
“Diabetes remission itu kondisi ketika pasien diabetes bisa menjaga gula darah tetap normal tanpa obat-obatan tertentu karena pola hidupnya sudah sangat baik,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut tetap membutuhkan disiplin menjaga gaya hidup sehat agar penyakit tidak kembali kambuh.
“Kalau pola hidup kembali buruk, risiko diabetes muncul lagi tetap ada,” katanya.
dr. Dhinar berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak usia muda. Menurutnya, umur panjang akan lebih bermakna apabila dijalani dalam kondisi sehat dan produktif.
“Sehat itu pilihan dan bisa diusahakan. Yang penting mulai dari hal sederhana, jaga makan, rutin bergerak, tidur cukup, dan hindari stres berlebihan,” tuturnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL MANURUNG