Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pasar gudang dan logistik modern di kawasan Greater Jakarta terus menunjukkan kinerja solid pada awal 2026. Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, sektor ini justru memiliki daya tahan tinggi. Hal ini didukung oleh terbatasnya pasokan baru serta permintaan yang terus meningkat dari berbagai sektor industri.
Berdasarkan laporan Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 untuk sektor pergudangan dan logistik Jakarta, tingkat hunian gudang modern mencapai 95,8 persen. Angka ini menunjukkan pasar yang semakin ketat, dengan ketersediaan ruang yang makin terbatas, sementara kebutuhan tetap tinggi. Hingga akhir 2026, tingkat okupansi diperkirakan mendekati kapasitas maksimum.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyatakan bahwa sektor logistik menjadi salah satu segmen properti dengan kinerja terbaik saat ini. Peran penting logistik dalam mendukung distribusi domestik serta kompleksitas rantai pasok menjadi faktor utama yang menjaga permintaan tetap kuat. “Pasar logistik terus mencatat kinerja lebih unggul dibandingkan segmen properti lainnya, seiring meningkatnya kebutuhan distribusi dan transformasi rantai pasok,” ujarnya dilansir propertynbank.
Dari sisi lokasi, koridor timur Jakarta masih menjadi pusat pengembangan gudang modern. Kawasan ini menyumbang sekitar 72,8 persen dari total pasokan, didukung oleh infrastruktur yang memadai, kedekatan dengan kawasan industri, serta akses langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok. Keunggulan tersebut menjadikan wilayah ini sebagai pusat aktivitas logistik utama di Greater Jakarta.
Secara keseluruhan, total pasokan kumulatif gudang modern di Jakarta Raya mencapai sekitar 3 juta meter persegi hingga kuartal I 2026. Namun, pengembang cenderung lebih selektif dalam menambah pasokan baru. Pada periode 2026–2029, pertumbuhan diperkirakan melambat dengan tambahan rata-rata sekitar 186.000 meter persegi per tahun.
Permintaan Terus Meluas
Dari sisi permintaan, perkembangan juga terlihat signifikan. Jika sebelumnya didominasi perusahaan logistik pihak ketiga (3PL) dan e-commerce, kini permintaan meluas ke berbagai sektor. Industri barang konsumsi (FMCG), elektronik, farmasi, hingga sektor baru seperti kendaraan listrik dan energi terbarukan mulai menjadi kontributor penyerapan ruang gudang.
Diversifikasi ini mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat serta strategi baru dalam pengelolaan rantai pasok nasional. Sebagai salah satu negara dengan nilai transaksi e-commerce terbesar di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan fasilitas logistik yang memadai, mulai dari pusat distribusi, fulfillment center, hingga jaringan last-mile di dekat pusat konsumsi.
Dengan tingkat hunian tinggi, pertumbuhan sewa yang relatif stabil, serta permintaan yang terus berkembang, prospek pasar logistik di Greater Jakarta sepanjang 2026 diperkirakan tetap positif.
Dalam kondisi ini, pengembang perlu fokus membangun gudang dengan spesifikasi tinggi di lokasi strategis agar tetap kompetitif. Sementara itu, pengguna disarankan lebih proaktif dalam mengamankan ruang sewa, terutama di kawasan utama, mengingat ketersediaan yang semakin terbatas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI