Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas mulai mengarahkan pembangunan kehutanan berbasis perhutanan sosial sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Langkah ini ditandai dengan digelarnya Workshop Inisiasi Pembangunan Integrated Area Developmen (IAD).
Kegiatan tersebut menjadi titik awal untuk menyatukan berbagai pihak dalam mengelola potensi daerah secara terpadu dan berkelanjutan.
Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, mengatakan workshop ini penting sebagai fondasi awal dalam merumuskan arah pembangunan kehutanan di Anambas.
“Ini menjadi langkah awal memperkuat pembangunan kehutanan yang berkelanjutan di Anambas,” ujarnya, Selasa (28/4).
Ia menjelaskan, pendekatan IAD tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan mengintegrasikan berbagai potensi dari hulu hingga hilir.
“Pendekatan ini menggabungkan pembangunan dari hulu sampai hilir, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, perhutanan sosial bukan hanya soal menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Perhutanan sosial dapat membuka akses ekonomi dan mendorong kemandirian masyarakat,” katanya.
Raja Bayu menilai, Anambas memiliki keunggulan geografis yang unik karena terdiri dari wilayah daratan dan laut yang saling terhubung. Kondisi ini dinilai ideal untuk pengembangan model pembangunan terpadu yang inovatif. Melalui workshop tersebut, pemerintah daerah mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
“Kami berharap semua pihak bisa duduk bersama dan menyusun strategi pembangunan yang tepat,” ujarnya.
Ia juga menekankan agar hasil workshop tidak berhenti sebagai wacana semata, melainkan dapat diimplementasikan secara nyata dan berkelanjutan.
“Harus ada langkah konkret yang bisa langsung dijalankan,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan di Anambas. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kawasan wisata bunga Rafflesia di Desa Tarempa Selatan.
“Kawasan hutan, termasuk lokasi Rafflesia, harus dijaga dengan baik,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi praktik penebangan liar yang dapat merusak ekosistem.
“Jangan sampai ada penebangan liar yang merusak kawasan hutan,” pungkasnya. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY