Buka konten ini

ISRAEL (BP) – Peta politik Israel mulai bergerak dinamis jelang pemilu yang diperkirakan digelar akhir tahun ini. Dua tokoh oposisi utama, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi menyatukan kekuatan politik untuk menantang dominasi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Keduanya mengumumkan penggabungan partai dalam satu aliansi baru bernama Together, Minggu waktu setempat. Bennett, yang berhaluan kanan, akan memimpin koalisi tersebut bersama Lapid yang dikenal berada di spektrum tengah.
Dalam pernyataan bersama yang disiarkan televisi, Bennett menyebut langkah ini sebagai keputusan penting bagi masa depan Israel.
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama sahabat saya Yair Lapid, kami mengambil langkah paling Zionis dan patriotik untuk negara kami,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Lapid menegaskan, meski berasal dari latar politik berbeda, keduanya memiliki kesamaan tujuan dan saling percaya.
“Bennett adalah politisi sayap kanan, tetapi seorang yang jujur. Ada kepercayaan di antara kami,” kata Lapid.
Ia menambahkan, aliansi ini dibentuk untuk menyatukan kekuatan oposisi yang selama ini terpecah.
“Langkah ini untuk mengakhiri perpecahan dan memfokuskan seluruh upaya pada kemenangan dalam pemilu mendatang,” lanjutnya.
Selain agenda politik elektoral, Bennett juga menjanjikan pembentukan komisi penyelidikan nasional jika terpilih. Komisi itu akan mengusut dugaan kegagalan pemerintah menjelang serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, isu yang hingga kini ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.
Keduanya memang dikenal sebagai pengkritik keras Netanyahu, terutama terkait penanganan konflik pasca-serangan tersebut. Lapid bahkan menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai bencana politik.
Ini bukan kali pertama Bennett dan Lapid bekerja sama. Pada 2021, keduanya berhasil mengakhiri 12 tahun kekuasaan Netanyahu, meski koalisi yang mereka bangun hanya bertahan sekitar 18 bulan.
Kini, mereka mencoba mengulang momentum tersebut dengan pendekatan yang lebih solid.
Netanyahu sendiri kembali berkuasa setelah memenangkan pemilu November 2022 dan membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Namun, serangan Hamas pada Oktober 2023 serta respons militer Israel di Gaza dinilai telah menggerus kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan posisi Netanyahu mulai terancam. Jajak pendapat N12 News pada 23 April mencatat Bennett berpotensi meraih 21 kursi di Knesset, sementara partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan memperoleh 25 kursi.
Sementara itu, partai Lapid, Yesh Atid, diprediksi hanya meraih tujuh kursi turun signifikan dari 24 kursi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY