Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pekerjaan sebagai aktris kerap menuntut totalitas, bahkan tak jarang membawa konsekuensi fisik maupun mental. Hal itu juga dialami Rachel Amanda saat terlibat dalam film terbarunya, Monster Pabrik Rambut.
Dalam film garapan sutradara Edwin ini, Amanda memerankan Putri, anak seorang pekerja pabrik rambut yang berusaha mengungkap misteri di balik kematian ibunya. Demi mendukung suasana cerita, lokasi syuting dibuat semirip mungkin dengan pabrik sungguhan.
“Lokasi syuting kami benar-benar diatur supaya menyerupai pabrik asli,” ujar Amanda, Senin (20/4), di kantor Palari Films, Kemang, Jakarta Selatan.
Tim produksi bahkan mengubah sebuah ruangan besar yang sudah lama tak terpakai menjadi set pabrik. Ruangan itu dibersihkan, lalu sengaja dibuat berdebu dan dipenuhi properti agar terasa autentik.
“Waktu lihat set-nya aku sampai mikir, ini sih asli banget. Ada mess di belakang, terus ada foto-foto pemilik pabrik juga,” kata Amanda.
Kondisi set yang terlalu realistis itu memang membantu pendalaman karakter, tetapi di sisi lain juga membawa dampak bagi para pemain. Amanda mengaku sempat mengalami iritasi pada mata akibat debu yang memenuhi lokasi syuting.
“Mata aku sampai merah dan sakit. Sampai harus berobat dulu, setelah itu jadi lebih hati-hati sama tempat kotor,” tuturnya.
Tantangan lain muncul saat pengambilan gambar adegan malam. Demi menghindari jam kerja berlebih, tim produksi menyiasatinya dengan menutup gedung menggunakan kain hitam agar suasana tetap gelap. Namun, cara itu membuat sirkulasi udara menjadi kurang baik.
“Itu bikin udara jadi pengap,” ujarnya.
Tak hanya di lokasi syuting, pengalaman intens juga dialami saat proses workshop. Para pemain diajak merasakan kondisi kerja di pabrik yang panas, termasuk penggunaan rambut palsu dalam durasi lama.
Dari proses itu, Amanda mengaku mendapat perspektif baru tentang dunia kerja, terutama soal isu keselamatan dan tekanan pada pekerja. “Kami jadi lebih paham soal isu keselamatan kerja, apalagi yang berhubungan dengan bahan kimia. Banyak pekerja yang sampai overworked demi kebutuhan ekonomi,” katanya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO