Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyoroti dinamika geopolitik global yang belakangan semakin tidak stabil.
Ia mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) Jilid II sebagai upaya mencari solusi atas berbagai gejolak dunia saat ini. Menurutnya, kondisi global membutuhkan pendekatan baru untuk menciptakan perdamaian yang berkeadilan.
Megawati menilai semangat KAA 1955 masih relevan sebagai landasan dalam menjawab tantangan kesetaraan antarnegara di tengah situasi global yang kompleks.
Dalam pidatonya pada peringatan 71 tahun KAA di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, ia menyebut pemikiran geopolitik Presiden pertama RI, Soekarno, dapat menjadi panduan bagi masa depan dunia.
Ia juga mengingatkan bahwa praktik neokolonialisme dan imperialisme masih berlangsung, meski dengan bentuk dan pola yang berbeda di era modern. Karena itu, KAA Jilid II dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan negara-negara berkembang.
Selain mendorong forum internasional baru, Megawati turut menyerukan perlunya reformasi menyeluruh terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, struktur organisasi tersebut sudah tidak lagi relevan karena dibentuk berdasarkan situasi pasca-Perang Dunia II.
Ia kembali mengangkat gagasan Soekarno terkait penghapusan hak veto negara tertentu yang dinilai menciptakan ketimpangan global. Bahkan, Megawati mengusulkan perubahan Piagam PBB dengan memasukkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar internasional.
Tak hanya itu, ia juga mendorong pembenahan Dewan Keamanan PBB hingga wacana pemindahan markas besar organisasi tersebut ke negara yang netral, agar tidak terpengaruh kepentingan kekuatan besar.
Megawati menilai reformasi ini mendesak mengingat situasi dunia yang terus bergejolak, ditandai dengan konflik dan dinamika politik di berbagai negara yang menunjukkan sistem internasional saat ini tengah mengalami tekanan serius. (***)
Laporan : MOHAMAD ISMAIL
Editor : PUTUT ARIYO