Buka konten ini

CALIFORNIA (BP) – Penampilan The Strokes di Coachella 2026 mendadak jadi sorotan dunia setelah mereka menutup set dengan visual bernuansa politik yang menyinggung konflik di Timur Tengah.
Tampil di akhir pekan kedua, band yang digawangi Julian Casablancas cs ini membawakan lagu Oblivius—yang terakhir kali mereka tampilkan secara live pada 2016. Namun bukan hanya lagunya yang bikin heboh, melainkan visual montage yang diputar di layar panggung.
Dalam tayangan tersebut, ditampilkan cuplikan kehancuran di Gaza dan Iran yang dikaitkan dengan serangan militer Israel dan Amerika Serikat. Visual ini juga disertai narasi kritik yang langsung memicu reaksi luas di media sosial dan publik internasional.
Lirik reffrain lagu tersebut pun terasa makin relevan dengan situasi global saat ini: “What side are you standing on?”—sebuah pertanyaan yang seolah menantang penonton untuk merefleksikan posisi mereka di tengah konflik dunia.
Respons publik pun terbelah. Banyak netizen memuji aksi The Strokes sebagai bentuk keberanian dan solidaritas terhadap isu kemanusiaan. Dukungan bahkan datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang ramai menyanjung pesan yang dibawa band tersebut.
Namun di sisi lain, tak sedikit yang menganggap langkah ini terlalu politis untuk panggung hiburan global. Beberapa pihak menilai aksi tersebut sensitif dan berpotensi memicu perdebatan yang lebih luas.
Terlepas dari kontroversi, penampilan The Strokes memang jadi salah satu yang paling dinanti di Coachella tahun ini. Mereka tampil di panggung utama dengan membawakan deretan hits seperti Last Nite, Reptilia, Someday, You Only Live Once, hingga The Adults Are Talking. Mereka juga memperkenalkan single terbaru berjudul Going Shopping.
Fenomena musisi yang menyuarakan isu Palestina atau konflik kemanusiaan di panggung internasional sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak artis menjadikan konser sebagai medium untuk menyampaikan sikap sosial dan politik.
Namun, dengan skala Coachella yang begitu besar, aksi The Strokes kali ini punya gaung yang jauh lebih luas—nggak cuma di kalangan pecinta musik, tapi juga masuk ke diskursus global.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan lanjutan dari pihak band terkait kontroversi tersebut. Meski begitu, satu hal jelas, panggung musik kini bukan sekadar hiburan, tapi juga jadi ruang ekspresi yang semakin berani menyuarakan isu-isu dunia. (***)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO