Buka konten ini

KASUS keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas, berbuntut panjang. Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pangan Intan Permata resmi dihentikan sementara operasionalnya.
Langkah ini diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) guna mempermudah proses investigasi menyeluruh terhadap penyebab keracunan yang dialami 155 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMP.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, membenarkan penghentian operasional dapur tersebut. Ia menyebut, dapur MBG yang menjadi sumber distribusi makanan kini telah disuspensi.
“Dapurnya sudah di-suspend,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Kamis (16/4).
Menurut Nanik, penghentian sementara ini penting agar proses penelusuran dapat dilakukan secara komprehensif. Investigasi mencakup seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan di dapur, hingga distribusi kepada para pelajar.
Tak hanya itu, BGN juga menyoroti adanya dugaan kelalaian dalam pelaksanaan standar operasional, khususnya terkait peran tenaga ahli gizi. Ahli gizi bernama Eryanti disebut tidak terlibat dalam proses memasak, dan baru diketahui aktif setelah kasus mencuat ke publik.
“Kami masih menyelidiki semuanya. Semua masih dalam proses,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian ini. Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Kami sangat prihatin terhadap kondisi siswa-siswa yang terindikasi keracunan akibat mengonsumsi MBG. Masyarakat diharapkan tidak termakan isu yang belum jelas,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan menyampaikan hasil investigasi secara terbuka setelah proses selesai dilakukan.
Sampel Makanan Diuji, Puluhan Pelajar masih Dirawat
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Anambas, Feri Oktavia, menyebutkan jumlah korban keracunan mencapai 155 pelajar hingga Kamis (16/4).
Para korban telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Rinciannya, 114 orang dirawat di RSUD Palmatak dan 41 orang di Puskesmas Siantan Tengah.
“Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang. Total 136 orang sudah kembali ke rumah, sementara 19 lainnya masih dalam perawatan,” jelas Feri.
Meski telah pulang, kondisi para pelajar tetap dipantau oleh petugas kesehatan. Pihak Dinkes juga terus berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk memastikan perkembangan kondisi mereka.
Feri menjelaskan, para korban berasal dari sejumlah sekolah berbeda di wilayah Siantan Tengah. Namun, makanan yang mereka konsumsi berasal dari satu dapur SPPG yang sama, yakni milik Yayasan Pangan Intan Permata.
Selain pelajar, sejumlah orang dewasa juga dilaporkan mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak atau anggota keluarga.
“Namun, kondisi orang dewasa tidak separah pelajar,” tambahnya.
Untuk mengungkap penyebab pasti, Dinas Kesehatan telah mengambil berbagai sampel makanan yang dikonsumsi saat kejadian. Sampel tersebut meliputi tumis sawi, wortel, buncis, telur sambal kecap, tempe goreng, nasi putih, hingga buah kelengkeng.
Sampel kini sedang diuji menggunakan peralatan yang tersedia, serta dikirim ke BPOM dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Batam.
Warga Lapor Polisi
Kasus ini juga telah resmi dilaporkan ke Polres Kepulauan Anambas oleh perwakilan warga, Cely.
Cely menegaskan, laporan tersebut bukan ditujukan untuk menghentikan program MBG yang merupakan bagian dari kebijakan nasional, melainkan untuk mengusut tata kelola dapur yang dinilai bermasalah.
“Kami bukan melaporkan programnya, tetapi pengelolaan dapurnya yang menyebabkan anak-anak keracunan,” ujarnya.
Ia menilai pengelola dapur harus bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut. Tidak hanya memberikan santunan, tetapi juga mempertanggungjawabkan secara menyeluruh.
Menurutnya, dugaan kelalaian muncul dari tidak adanya pengawasan ahli gizi saat proses memasak. Selain itu, ia juga mendapat informasi bahwa juru masak yang terlibat tidak memiliki sertifikasi keahlian yang memadai.
“Informasi yang kami terima, sudah ada tiga orang dari dapur yang diperiksa. Kami ingin kasus ini diusut tuntas,” tegasnya.
Kapolres Kepulauan Anambas, I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, membenarkan pihaknya telah menerima laporan tersebut. Saat ini, polisi masih dalam tahap awal penyelidikan.
“Kami masih melakukan pengumpulan bahan keterangan. Mohon waktu untuk proses ini,” ujarnya.
DPRD Apresiasi Tenaga Medis
Di tengah penanganan kasus, Anggota DPRD Anambas, Hino Faisal, turut menjenguk para korban di RSUD Palmatak.
Ia menyempatkan diri menyapa para pelajar yang dirawat serta berbincang dengan keluarga mereka. Suasana ruang perawatan terlihat cukup padat, meski sebagian pasien sudah mulai menunjukkan kondisi membaik.
“Bagaimana kondisinya sekarang? Sudah mendingan? Tetap semangat ya,” ujar Hino saat menyemangati salah satu pelajar.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari pihak rumah sakit, kondisi para korban secara umum sudah berangsur pulih. “Alhamdulillah sudah mulai membaik. Tinggal pemulihan saja,” katanya.
Hino juga memberikan apresiasi kepada tenaga medis RSUD Palmatak yang dinilai sigap menangani ratusan pasien dalam waktu bersamaan.
“Dengan jumlah korban yang banyak, tentu bukan hal mudah. Tapi tenaga medis menunjukkan profesionalisme yang luar biasa,” ujarnya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY