Buka konten ini

PALESTINA (BP) – Krisis pangan di Jalur Gaza kian memburuk. Wilayah tersebut membutuhkan sekitar 450 ton tepung per hari, namun pasokan yang tersedia saat ini hanya sekitar 200 ton.
Kantor media pemerintah Gaza menyebut keterbatasan pasokan terjadi akibat pembatasan distribusi bantuan. Mereka menuding Israel memperketat akses masuk bantuan, termasuk tepung.
Meski terdapat kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan 600 truk bantuan masuk setiap hari, realisasinya hanya sekitar 38 persen dari jumlah sebelum konflik.
Kondisi semakin memburuk setelah World Central Kitchen menghentikan distribusi tepung yang sebelumnya mencapai 20 hingga 30 ton per hari.
Selain itu, Program Pangan Dunia juga mengurangi pasokan dari 300 ton menjadi 200 ton per hari. Sejumlah organisasi lain bahkan dilaporkan menghentikan program roti dan tepung di wilayah tersebut.
Saat ini, sekitar 1,9 juta warga dari total 2,4 juta penduduk Gaza hidup mengungsi dalam kondisi memprihatinkan, sebagian besar tinggal di tenda-tenda darurat setelah rumah mereka hancur akibat konflik yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, kondisi kemanusiaan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Bantuan pangan, medis, dan kebutuhan dasar lainnya masih sangat terbatas.
Konflik yang berlangsung telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sekitar 172.000 lainnya, serta merusak sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY