Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Kebijakan Presiden Donald Trump yang mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Iran memicu lonjakan tajam harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global melonjak lebih dari 8 persen hingga menembus 103 dolar Amerika (USD) per barel pada Minggu (12/4), menandai kembali tekanan serius di pasar energi global.
Langkah tersebut diambil setelah gagalnya pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan memblokir kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Meski demikian, Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian memberikan klarifikasi bahwa pembatasan hanya berlaku bagi kapal yang terkait dengan Iran. Lalu lintas internasional lainnya tetap diupayakan berjalan guna meredam dampak lebih luas terhadap perdagangan global.
“Bisa jadi, atau sama, atau mungkin sedikit lebih tinggi; tetapi seharusnya sekitaran sama,” kata Trump kepada Fox News terkait proyeksi harga minyak dan bensin di tengah konfli k yang terus berlanjut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada fluktuasi harga energi dunia.
Data intelijen maritim menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan tersebut turun drastis. Dari sekitar 130 kapal per hari dalam kondisi normal, hanya 17 kapal yang melintas pada Sabtu (11/4). Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun ke bawah 92 dolar Amerika per barel setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, situasi kembali memanas setelah ketegangan meningkat dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menurun drastis.
Dampak kebijakan tersebut juga merambat ke pasar keuangan. Bursa saham utama di Asia dibuka melemah pada Senin (13/4), dengan indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,9 persen dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi lebih dari 1 persen. Kontrak berjangka saham AS juga mengalami tekanan.
Sementara itu, Pemerintah Inggris menyatakan tidak akan bergabung dalam rencana blokade tersebut. London menegaskan komitmennya terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
“Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan,” kata juru bicara pemerintah Inggris, menegaskan pentingnya jalur tersebut bagi stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memperingatkan dampak lanjutan terhadap harga energi. Ia bahkan menyindir warga AS terkait potensi kenaikan harga bahan bakar.
“Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’ itu, tak lama lagi Anda akan merindukan harga bensin menjadi 4–5 dolar AS,” ujarnya.
Ketegangan ini muncul setelah perundingan antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Upaya diplomatik yang dimediasi Pakistan belum mampu meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas harga energi dan pasar global.
Balas Blokade AS, IRGC Ancam Pelabuhan di Teluk dan Laut Oman
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kian memanas setelah blokade maritim diberlakukan di kawasan Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa dampak kebijakan tersebut tidak hanya terbatas pada Iran.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, IRGC menegaskan bahwa tidak ada pelabuhan di kawasan Teluk maupun Laut Oman yang akan benar-benar aman jika blokade terus berlanjut.
“Tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman. Keamanan harus berlaku bagi semua pihak atau tidak sama sekali,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip dari Anadolu Agency, Senin (13/4).
IRGC menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki kewajiban untuk mempertahankan hak hukum negara, termasuk menjaga kedaulatan atas perairan teritorial. Dalam konteks itu, Iran juga memberi sinyal akan memperketat pengawasan lalu lintas maritim.
“Kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh akan dilarang melintasi Selat Hormuz,” tegas pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa kapal lain masih diperbolehkan melintas sesuai aturan yang ditetapkan Iran.
Lebih jauh, IRGC menyebut Iran akan menerapkan mekanisme permanen untuk mengendalikan Selat Hormuz, bahkan setelah konflik berakhir. Langkah ini menjadi sinyal bahwa ketegangan di jalur vital energi dunia tersebut berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.
“Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap pergerakan maritim di perairan internasional adalah ilegal dan setara dengan pembajakan,” lanjut pernyataan IRGC.
Sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan akan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran mulai Senin (13/4) pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB. Kebijakan tersebut diambil setelah pembicaraan langsung antara kedua negara di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan.
Eskalasi ini memperbesar risiko gangguan terhadap jalur distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK