Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Upaya digitalisasi arsip sejarah kini memasuki babak baru. Perusahaan rintisan Historiq meluncurkan platform kecerdasan buatan (AI) bernama Una untuk mempercepat proses pengarsipan yang selama ini terkendala metode manual.
Selama ini, perpustakaan, universitas, hingga lembaga sejarah dihadapkan pada persoalan klasik berupa penumpukan arsip fisik yang belum terdigitalisasi. Banyak dokumen tersimpan tanpa katalog memadai, sehingga sulit diakses dan berisiko hilang seiring waktu.
Mengutip laporan Forbes, proses pengarsipan konvensional memakan waktu lama. Seorang arsiparis bahkan bisa menghabiskan lebih dari satu jam hanya untuk memproses satu kotak dokumen, menyebabkan antrean pekerjaan menumpuk hingga bertahun-tahun.
Pendiri Historiq, Dean Serrentino, mengatakan platform Una dirancang untuk mempercepat katalogisasi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual.
Ia menjelaskan, selama ini banyak institusi masih menggunakan cara tradisional seperti mencatat dengan tangan. Melalui Una, arsiparis cukup mendeskripsikan dokumen secara lisan, lalu sistem akan mengonversinya menjadi data terstruktur yang langsung masuk ke basis data.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperkaya informasi yang tersimpan.
“Ketika tidak perlu menuliskan semuanya, arsiparis bisa menambahkan lebih banyak konteks historis ke dalam sistem,” ujarnya.
Meski demikian, hasil olahan AI tetap berupa draf awal yang harus diverifikasi manusia guna menjaga akurasi dan konteks sejarah.
Selain itu, Una juga memungkinkan digitalisasi dokumen dilakukan secara bersamaan melalui kamera laptop atau ponsel, sehingga proses dokumentasi dan pengarsipan dapat terintegrasi dalam satu alur kerja.
Historiq sendiri didirikan pada 2025 dengan dukungan pendanaan sebesar 1,25 juta dolar AS dari Rob Waldron, Ketua perusahaan teknologi pendidikan Curriculum Associates. Sejumlah institusi telah mulai mengadopsi teknologi ini. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY