Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi dunia. Ancaman penutupan Selat Hormuz dinilai dapat memicu lonjakan tajam harga minyak mentah, bahkan berpotensi menembus USD 100 per barel apabila perang meluas dan berlangsung dalam durasi panjang.
Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa gejolak harga sudah mulai terlihat sejak gelombang serangan pertama ke Iran terjadi. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD 67 per barel sempat terdorong ke level USD 70. Jika ketegangan berlanjut dan distribusi terganggu, harga diperkirakan bisa menembus USD 80 per barel dalam waktu dekat.
Menurut Fahmy, dampak langsung dari peperangan di kawasan Timur Tengah hampir pasti mengerek harga minyak secara signifikan.
Pasalnya, kawasan tersebut merupakan pusat produksi sekaligus jalur distribusi energi global. Ketika konflik mengganggu produksi maupun pengiriman, keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan terganggu. “Dampak langsung dari peperangan itu harga minyak dunia pasti terdorong naik dalam jumlah yang cukup besar,” tegasnya.
Ia menambahkan, Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi jalur utama ekspor-impor minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke berbagai belahan dunia. Jika jalur ini ditutup, distribusi energi global akan tersendat dan pasokan otomatis menyusut.
“Ketika suplai berkurang sementara permintaan tetap, maka harga akan semakin tinggi. Bahkan, jika perang meluas dan berlangsung lama, harga sangat mungkin menembus USD 100 per barel,” ujarnya.
Fahmy menilai skenario terburuk terjadi apabila konflik tidak hanya terbatas pada serangan balasan, tetapi berkembang menjadi perang terbuka dalam jangka panjang. Dalam kondisi tersebut, pasar energi global akan menghadapi tekanan berat, termasuk lonjakan harga dan ketidakpastian distribusi.
IRGC Klaim 560 Tentara AS Tewas dan Luka-luka
Di tengah memanasnya situasi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka-luka akibat serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita Fars, Ahad.
IRGC menyebut pangkalan militer AS di Bahrain diserang dua rudal balistik. Selain itu, sejumlah pangkalan lain dilaporkan digempur tanpa henti. Empat serangan pesawat nirawak juga diarahkan ke pangkalan angkatan laut di Bahrain yang disebut menyebabkan kerusakan serius pada pusat komando dan fasilitas pendukung.
Menurut IRGC, Iran juga menargetkan pangkalan angkatan laut AS Ali Al-Salem di Kuwait dan tiga objek di pangkalan Mohammed Al-Ahmad. Serangan tersebut diklaim mengganggu operasional militer AS di kawasan.
Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam gelombang serangan udara tersebut.
China Kecam Serangan
Pemerintah Tiongkok mengecam keras tindakan militer AS dan Israel yang menewaskan Khamenei. Beijing menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran serta bertentangan dengan tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mendesak agar seluruh operasi militer dihentikan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Pemerintah China juga menyerukan upaya bersama komunitas internasional untuk menjaga stabilitas Timur Tengah dan mencegah dampak global yang lebih luas. (*)
Reporter : JP Group
Editor : RATNA IRTATIK