Buka konten ini

BEIJING (BP) – Tiongkok tengah mendorong Chongqing menjadi ’’Terusan Suez’’ baru. Kota pegunungan di barat daya negeri itu merupakan simpul perdagangan darat yang digadang-gadang menjadi pesaing utama rute perdagangan laut internasional.
Euro News, Kamis (4/9) melaporkan, Chongqing kini berkembang pesat sebagai pusat logistik strategis. Kota itu menjadi simpul penting yang menghubungkan Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura dengan negara-negara Eropa, termasuk Jerman dan Polandia.
Setiap hari, ratusan kargo dikelola di kota itu. Dengan kereta barang berkecepatan tinggi, waktu pengiriman kargo bisa dipangkas hingga 10–20 hari jika dibandingkan dengan jalur laut tradisional.
’’Kota ini telah muncul dengan cepat sebagai poros strategis dalam jaringan perdagangan Tiongkok. Bisa mendorong pemerintah berinvestasi pada proyek serupa di wilayah barat lain,’’ tulis South China Morning Post.
Sejak beroperasinya kereta cepat ASEAN pada 2023, jarak dari Hanoi ke Chongqing hanya sekitar lima hari perjalanan. Dari sana, barang bisa mencapai Eropa kurang dari 2 pekan. ”Keunggulan jalur darat ini bukan hanya soal kecepatan, melainkan juga kemudahan dalam proses bea cukai,’’ ungkap seorang analis logistik.
Chongqing juga dikenal sebagai pusat produksi global. Sekitar sepertiga laptop dunia dirakit di kota tersebut. Kawasan itu juga menjadi basis penting produksi mobil listrik serta pusat ekspor sekitar seperempat dari total produksi mobil Tiongkok.
Namun, proyek ’’Terusan Suez’’ tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek logistik, tetapi juga sarat pertimbangan geopolitik. Perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat telah membuka mata Beijing akan risiko ketergantungan pada jalur laut di bawah pengaruh Barat. Misalnya, Terusan Suez, Selat Hormuz, dan Selat Malaka.
“Pertanyaannya sekarang, seberapa jauh proyek itu dapat bertahan tanpa dukungan finansial masif dari negara,” ujar seorang pakar perdagangan internasional kepada Euro News. Menurut dia, jika visi tersebut terwujud, jalur darat Chongqing berpotensi mengubah lanskap perdagangan global. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO