Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pemerintah telah menyepakati tarif impor Amerika Serikat (AS) sebesar 19 persen. Termasuk terendah dibandingkan negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Mes-kipun demikian, perlu transformasi secara menyeluruh agar produksi dalam negeri lebih efisien.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali , menuturkan memang tarif Indonesia lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi transformasi besar-besaran di negara-negara kawasan. Salah satunya adalah Vietnam yang telah melakukan perubahan signifikan dan berhasil menciptakan struktur ekonomi yang sangat kompetitif.
Masalahnya, biaya logistik dalam negeri masih tergolong tinggi. “Jadi, meskipun tarif kita terlihat lebih murah, negara-negara tetangga juga mengalami penurunan biaya secara keseluruhan. Kalau kita hanya melihat tarif, seolah-olah kita lebih unggul, padahal belum tentu demikian,” ucap Rhenald di Jakarta, Kamis (24/7)
Sebagai contoh, harga tekstil dari Indonesia per ton bisa mencapai Rp1 juta. Sementara di Malaysia, berkat transformasi yang dilakukan, produk yang sama bisa dijual seharga Rp800 ribu rupiah. Tarif bea masuk Malaysia memang lebih tinggi, sekitar 30 persen dari harga barang, dibandingkan Indonesia yang hanya 19 persen.
“Namun karena harga pokok barang mereka jauh lebih murah, pembeli tetap lebih memilih produk dari sana. Ini menunjukkan bahwa jangan hanya terpaku pada tarif. Struktur biaya di setiap negara sudah berubah. Maka yang harus diperhatikan adalah cost structure secara keseluruhan,” terang founder Rumah Perubahan itu.
BYD Lampaui Tesla
Rhenald menyatakan, pelaku usaha harus menghadapi kenyataan. Perusahaan seperti BYD mampu memproduksi mobil dengan harga sangat kompetitif. Bahkan, dianggap sudah melampaui Tesla dalam hal efisiensi biaya dan produksi.
”Tiongkok kini mempelopori ultra low-cost production. Dan itu yang seharusnya mendorong kita untuk berpikir dan bertindak ke arah serupa. Kalau kita tidak mengikuti, maka daya saing manufaktur nasional bisa terus menurun,” ujarnya.
“Jadi, jangan hanya melihat perbandingan tarif. Yang lebih penting adalah memastikan apakah kita sudah melakukan efisiensi, dan apakah ekosistem kita sudah mendukung produktivitas,” tandasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, perundingan masih terus berlangsung untuk berbicara detil teknis. Serta masih terdapat sejumlah kepentingan yang akan ditindaklanjuti. Termasuk sejumlah komoditas yang bakal dikenakan tarif lebih rendah dari 19 persen.
Yakni, produk sumber daya alam yang tidak diproduksi oleh AS. Diantaranya, kelapa sawit, kopi, kakao, produk agro, dan produk mineral lainnya. “Jadi itu sedang dalam pembahasan dan di-mungkinkan lebih rendah dari 19 persen. Bahkan, dimungkinkan mendekati 0 persen. Seperti kita tahu bersama bahwa Amerika juga melihat Eropa memberikan kita CPO 0 persen dalam IEU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), jadi beberapa itu juga menjadi benchmark,” kata Airlangga di kantornya, Kamis (24/7).
Dia menjelaskan, AS saat ini merupakan salah satu mitra ekspor utama Indonesia. Dengan pangsa ekspor mencapai 11,2 persen. Untuk penanaman modal masuk dalam lima besar di 2024 senilai 3,7 miliar dolar AS (USD).
Pada saat yang sama, AS juga berkomitmen untuk berinvestasi di Indonesia. Antara lain, Exxon Mobil yang berencana membangun carbon capture and storage senilai USD10 miliar. Kemudian, perusahaan software Oracle yang masih berbicara untuk investasi sekitar USD6 miliar. Serta, General Electric dan GE Healthcare bekerja sama dengan Kalbe akan membuat mesin CT scan. Pabriknya berada di Jawa Barat. Untuk tahap awal, akan berinvestasi sekitar USD178 miliar.
“Sehingga apa yang dilakukan pemerintah kerja sama dengan AS adalah menjaga kesimbangan internal dan eksternal. Agar neraca perdagangan terjaga dan momentum ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bisa terjamin,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG