Buka konten ini
KARIMUN (BP) – Di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, RSUD Tanjungbatu berdiri sebagai benteng terakhir layanan kesehatan. Tiga puskesmas yang tersebar di pulau itu tak melayani pasien di luar jam kerja. Tak satu pun memiliki unit gawat darurat (UGD). Maka, jika ada warga yang jatuh sakit pada malam hari, RSUD Tanjungbatu adalah satu-satunya harapan.
“Pelayanan kesehatan di malam hari hanya tersedia di RSUD. Klinik ada, tapi masyarakat tetap memilih ke RSUD karena lebih lengkap,” kata Direktur RSUD Tanjungbatu, dr. Suharyanto, kepada Batam Pos, Jumat (30/5).
Karena menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan di pulau itu, RSUD Tanjungbatu harus siap siaga sepanjang waktu. Pelayanan umum diberikan pada jam kerja, sementara UGD harus beroperasi selama 24 jam tanpa henti.
Namun, menjalankan tugas itu tidak mudah. Rumah sakit ini hanya memiliki dua dokter tetap, ditambah satu dokter yang dipinjam dari Puskesmas Ungar sejak 27 Mei lalu. Ketiganya harus berbagi tugas di poli dan UGD.
“Ketiga dokter ini sudah bekerja sejak siang di pelayanan poli dan malamnya kembali berjaga di UGD. Mereka juga butuh istirahat,” ujar Suharyanto.
Walau begitu, UGD tetap buka 24 jam. Saat dokter beristirahat, tenaga kesehatan lain berjaga, sementara dokter bersifat on call, siap dipanggil kapan saja.
Kabar baik datang dari Pemerintah Kabupaten Karimun. Mulai 1 Juni, RSUD Tanjungbatu akan menerima tambahan dua dokter umum. Seorang dari RSUD Muhammad Sani, dan seorang lagi dari Puskesmas Meral Barat.
“Mulai Minggu nanti, jumlah dokter bertambah menjadi empat orang. Artinya, semua dokter akan on duty secara bergantian. UGD tak lagi mengandalkan sistem on call. Insya Allah, pelayanan bisa berjalan lebih maksimal,” kata Suharyanto.
Tentang rencana perekrutan dokter baru dengan menggunakan dana BLUD RSUD Tanjungbatu, Suharyanto menyatakan pihaknya masih mengkaji secara cermat. Mereka tengah berkonsultasi dengan instansi terkait agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
“Kami tidak ingin setelah dokter direkrut dan digaji lewat dana BLUD, lalu dianggap melanggar aturan dan disuruh mengembalikan anggarannya. Maka, semua langkah kami pastikan aman secara regulasi,” ujarnya.
Bagi warga Pulau Kundur, keberadaan RSUD Tanjungbatu bukan sekadar fasilitas kesehatan. Ia adalah garis terdepan dan terakhir dalam menjaga hak dasar untuk hidup sehat. Dan di balik ruang UGD yang tak pernah tidur, berderet tenaga medis yang tetap bertugas, meski dengan keterbatasan. (***)
Reporter : Sandi Pramosinto
Editor : GALIH ADI SAPUTRO