Buka konten ini

Tren kecantikan kini mengarah pada facial harmony, menonjolkan keseimbangan wajah untuk hasil cantik yang natural. Pendekatan ini dinilai mampu menonjolkan karakter tanpa mengubah bentuk wajah secara berlebihan.
TREN kecantikan terus berubah seiring perkembangan zaman dan pengaruh media sosial. Namun, di balik berbagai standar yang silih berganti, terdapat satu konsep yang tetap relevan dan menjadi dasar dalam dunia estetika, yakni facial harmony atau harmoni wajah.
Hal ini disampaikan oleh dr. I Gusti Ayu Agung Bella Jayaningrum, Sp.BP-RE, dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksazi, dan estetik di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dalam sesi health talk yang dipandu oleh dr. Vanessa melalui siaran langsung Instagram halloawalbros.
Menurut dr. Bella, facial harmony adalah suatu keselarasan dari wajah. Artinya bukan sekadar mempercantik satu bagian wajah, melainkan menciptakan keselarasan secara menyeluruh.
“Pada hakikatnya wajah itu bukan cuma satu perbagian saja, misalnya mata-mata saja, hidung-hidung saja, dagu-dagu saja, tapi yang kalau kita lihat wajah seseorang merupakan suatu keseluruhan dari wajah tersebut. Tapi perlu diingat bahwa setiap komponen wajah itu alangkah baiknya bisa tampak harmonis, atau memiliki keselarasan yang baik. Jadi semua ada hubungannya, sehingga dari simetrisasi, dari harmonisasi antara struktur wajah bisa menghasilkan penampilan yang lebih atraktif,” ujar dr Bella.

Tidak Ada Standar Kecantikan Mutlak
Lebih lanjut, dr. Bella menegaskan bahwa tidak ada standar kecantikan yang berlaku universal. Setiap ras dan budaya memiliki preferensi masing-masing.
Pada masyarakat Asia, misalnya, tren yang berkembang orang-orang lebih cenderung ingin penampilan yang langsing, hidung mancung, kulit cerah serta mengarah lebih suka wajah yang bentuknya V shape.
Sementara itu, standar kecantikan di negara Barat berbeda, dengan preferensi fitur wajah yang lebih tegas dan warna kulit yang cenderung tan. Misalnya pada ras Caucasian atau orang kulit putih, standar mereka itu beda juga, mereka lebih suka fitur-fitur yang lebih mungil, kemudian kulit mereka juga memfavoritkan yang lebih tan, bahkan kalau ras Afrika, mereka juga pengen kulitnya lebih fair, jadi semua ras itu pasti mereka memiliki ideal beauty standard masing-masing, hanya saja untuk kecantikan itu tidak bisa dipatokkan ke seluruh orang.
“Karena itu, tidak bisa kita menggunakan satu acuan untuk semua orang. Apa yang cocok pada satu individu belum tentu sesuai untuk individu lainnya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti fenomena masyarakat yang ingin meniru penampilan figur publik. Menurutnya, hal tersebut perlu disikapi dengan bijak.
“Sering kali pasien datang membawa referensi artis. Secara teknis mungkin bisa ditiru, tetapi belum tentu memberikan hasil yang harmonis pada wajah pasien,” tambahnya.
Harmoni Lebih Penting dari Kesempurnaan
Dalam praktiknya, banyak pasien merasa kurang percaya diri meskipun secara struktur wajah tidak memiliki kekurangan yang signifikan. Hal ini, kata dr. Bella, sering kali disebabkan oleh ketidakseimbangan proporsi wajah.
“Kadang seseorang merasa hidungnya terlalu besar, padahal masalahnya bukan di hidung, melainkan pada dagu yang kurang proporsional. Ini yang disebut ilusi dalam facial harmony,” paparnya.
Dengan kata lain, memperbaiki satu bagian wajah belum tentu menjadi solusi utama. Analisis menyeluruh menjadi langkah penting sebelum menentukan tindakan.

Faktor Penentu Harmoni Wajah
Harmoni wajah dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya genetik, struktur anatomi, serta proses penuaan (aging). Selain itu, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi keseimbangan wajah seseorang.
“Konsepnya bukan mengubah seseorang menjadi orang lain, tetapi mengoptimalkan potensi kecantikan yang sudah dimiliki,” jelas dr. Bella.
Ia menambahkan bahwa tren saat ini lebih mengarah pada natural beauty, yaitu hasil yang tampak alami dan tidak berlebihan. Bukan lagi plastic look, yang terlihat overdone. “Jadi sekarang untuk menghindari kesan tidak natural atau overdone, makanya kita harus berpatokan dengan facial harmony dari pasien,” ujarnya.
Prosedur Non-Bedah Kian Diminati
Seiring perkembangan teknologi, berbagai tindakan estetika non-bedah kini semakin diminati masyarakat. Di antaranya adalah botoks, filler, dan tanam benang.
Botoks umumnya digunakan untuk mengurangi tanda penuaan serta sebagai perawatan (maintenance). Sementara filler digunakan untuk memperbaiki volume pada area tertentu, seperti dagu atau bawah mata.
“Filler biasanya bertahan antara 6 hingga 12 bulan, tergantung jenis bahan yang digunakan,” terang dr. Bella.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya fenomena filler blindness, yaitu kondisi ketika pasien merasa hasil yang sudah baik masih kurang, sehingga ingin terus menambah tindakan.
“Di sinilah peran dokter untuk memberikan edukasi dan menentukan batas aman,” tegasnya.
Pentingnya Konsultasi dan Keamanan
Dalam setiap tindakan estetika, konsultasi menjadi tahap krusial. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien akan membantu menyelaraskan harapan dengan hasil yang realistis.
Selain itu, aspek keamanan tidak boleh diabaikan. dr. Bella mengingatkan masyarakat untuk memastikan dokter yang dipilih memiliki kompetensi dan terdaftar secara resmi.
“Jangan sampai melakukan tindakan pada pihak yang tidak memiliki keahlian. Risiko komplikasi bisa sangat besar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memilih fasilitas kesehatan dengan standar yang jelas dan tenaga medis yang lengkap.
Bijak Mengikuti Tren
Di era media sosial, tren kecantikan berkembang sangat cepat, mulai dari foxy eyes hingga bentuk wajah tertentu. Namun, tidak semua tren cocok untuk setiap individu.
“Sebagai dokter, kami harus bijak. Tidak semua keinginan pasien bisa langsung diikuti, terutama jika berisiko terhadap kesehatan,” jelasnya.
Pada akhirnya, facial harmony bukan tentang menjadi orang lain, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
“Jika merasa ada yang kurang pada penampilan, silakan konsultasi. Kami akan membantu memberikan solusi yang aman dan sesuai kebutuhan,” tutup dr. Bella. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GALIH ASI SAPUTRO