Buka konten ini

BATAM (BP) – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026 di Kota Batam berlangsung relatif lancar. Namun, persoalan klasik kembali terulang. Jumlah pendaftar di sejumlah SMA dan SMK negeri jauh melampaui daya tampung yang tersedia sehingga ribuan lulusan SMP kembali harus bersaing memperebutkan bangku sekolah negeri.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memang kembali menambah daya tampung di sejumlah sekolah. Namun, tambahan kuota tersebut belum mampu mengimbangi tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri.
Di SMAN 8 Batam, misalnya, jumlah pendaftar mencapai sekitar 750 orang. Sementara daya tampung sekolah hanya 600 siswa.
Wakil Kepala Sekolah sekaligus Ketua SPMB SMAN 8 Batam, Taufik, mengatakan kondisi tahun ini sebenarnya lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya karena jumlah pendaftar mulai terdistribusi ke sekolah lain, terutama setelah beroperasinya SMKN 13 Batam di kawasan Bengkong.
“Tahun lalu satu rombongan belajar berisi 48 siswa. Tahun ini menjadi 40 siswa per rombel dengan total 15 rombel sesuai ketentuan,” kata Taufik kepada Batam Pos, Senin (13/7).
Menurut dia, seluruh tahapan SPMB berjalan sesuai petunjuk teknis Pemerintah Provinsi Keri. Seleksi dilakukan secara daring melalui jalur domisili, prestasi, dan afirmasi, sedangkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) hanya menjadi salah satu komponen pendukung dalam proses seleksi.
Untuk membantu masyarakat, sekolah membuka posko pelayanan yang melayani verifikasi dokumen sekaligus pendampingan bagi orang tua yang mengalami kendala saat mendaftar secara daring.
“Kami membentuk tim verifikasi agar seluruh dokumen calon peserta didik sesuai ketentuan. Posko juga kami siapkan untuk membantu orang tua apabila mengalami kendala saat mendaftar,” ujarnya.
Meski pelaksanaan SPMB dinilai lebih tertib dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Taufik mengaku masih ada masyarakat yang berharap sekolah dapat menerima siswa di luar mekanisme resmi.
“Padahal sekarang semua sudah berbasis sistem. Sekolah tidak bisa lagi menerima siswa di luar ketentuan karena seluruh proses dikelola melalui sistem Dinas Pendidikan Provinsi,” tegasnya.
SMKN 13 Langsung Diserbu
Antusiasme masyarakat juga terlihat di SMKN 13 Batam yang tahun ini untuk pertama kalinya membuka penerimaan peserta didik baru.
Pelaksana Tugas Kepala SMKN 13 Batam, Dedi Indra, mengatakan sekolah tersebut langsung mendapat sambutan positif meski hingga kini belum memiliki gedung permanen.
Awalnya sekolah hanya mendapat kuota 240 siswa atau enam rombongan belajar. Namun, tingginya jumlah pendaftar membuat Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menambah daya tampung menjadi 320 siswa atau delapan rombel.
“Hingga sekarang pendaftar sudah sekitar 290 orang,” katanya.
Menurut Dedi, pada gelombang kedua pemerintah kembali menambah rombongan belajar sehingga daya tampung meningkat menjadi 440 siswa.
Penambahan tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi jumlah lulusan SMP yang belum tertampung di SMK negeri.
“Di Kepri masih ada lebih dari 3.000 siswa yang belum tertampung di SMK. Karena itu pemerintah provinsi menambah rombongan belajar di setiap sekolah, termasuk kami,” ujarnya.
Pada tahap awal, SMKN 13 hanya membuka Program Keahlian Pengelasan. Sementara pada gelombang kedua dibuka Program Teknik Industri (TI) serta Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Karena gedung sekolah masih dibangun, kegiatan belajar mengajar semester pertama akan dilaksanakan sementara di SMAN 8 Batam. Posko pelayanan SPMB juga masih memanfaatkan fasilitas sekolah tersebut.
68 Persen Lulusan SMP Pilih SMK
Minat lulusan SMP di Batam melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, 68 persen calon peserta didik memilih SMK, sedangkan hanya 32 persen yang melanjutkan ke SMA.
Tingginya animo tersebut mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri menambah kapasitas sekolah vokasi dengan membangun gedung permanen SMKN 13 Batam di Tanjung Buntung, Kecamatan Bengkong.
Pembangunan sekolah itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad bersama Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Senin (13/7).
Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, mengatakan tingginya minat terhadap pendidikan vokasi terlihat dari hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Karena itu, pemerintah berupaya menambah daya tampung agar lebih banyak lulusan SMP dapat melanjutkan pendidikan di SMK negeri.
”Berdasarkan data terbaru, sebanyak 68 persen calon peserta didik memilih melanjutkan ke SMK, sedangkan yang memilih SMA sekitar 32 persen. Untuk itu Pemprov hadir membangun SMKN 13 Batam guna memenuhi kebutuhan calon peserta didik di wilayah ini,” ujarnya.
Pemprov Kepri mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 miliar untuk pembangunan gedung SMKN 13 Batam. Pengerjaan fisik akan segera dimulai dan ditargetkan rampung tahun ini sehingga dapat digunakan pada tahun ajaran mendatang.
”Alhamdulillah, pengerjaan akan segera dimulai. Insyaallah tahun ini selesai sehingga tahun depan anak-anak kita sudah bisa belajar di sekolah yang baru,” katanya.
Saat ini SMKN 13 Batam telah memiliki 480 siswa. Sekolah tersebut membuka empat program keahlian, yakni Teknik Pengelasan, Teknik Industri, Informatika, serta Teknik Komputer dan Jaringan.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan pembangunan SMKN 13 merupakan bagian dari komitmen pemerintah memperluas akses pendidikan, khususnya pendidikan vokasi yang semakin diminati masyarakat.
Menurut Ansar, setiap tahun pemerintah daerah terus membangun Unit Sekolah Baru (USB) maupun Ruang Kelas Baru (RKB) untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah peserta didik.
”Pembangunan sekolah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat. Dukungan pemerintah pusat juga sangat penting agar pembangunan sarana pendidikan dapat terus berjalan,” katanya.
Selain membangun sarana pendidikan, Pemprov Kepri juga terus memperkuat pemerataan tenaga pendidik agar kualitas layanan pendidikan semakin baik di seluruh kabupaten dan kota.
Ansar menjelaskan pembangunan SMKN 13 Batam dibiayai melalui skema pinjaman daerah senilai sekitar Rp5 miliar. Ia menargetkan proyek tersebut rampung dan dapat diresmikan pada November 2026.
”Target November sudah bisa diresmikan sehingga fasilitas ini segera dimanfaatkan oleh para siswa,” ujarnya.
Menurut Ansar, tingginya minat masyarakat terhadap SMK menunjukkan pendidikan vokasi semakin dibutuhkan karena mampu menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
”Kepri menyiapkan pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Karena itu animo masyarakat terhadap SMK sangat tinggi,” katanya.
SMAN 5 Hampir Empat Kali Lipat Kuota
Lonjakan pendaftar juga terjadi di SMAN 5 Batam. Kepala SMAN 5 Batam, Jamal Dinata, mengatakan sekolahnya menerima sekitar 874 pendaftar, sedangkan kuota yang tersedia hanya 240 siswa atau 12 rombongan belajar.
“Alhamdulillah pelaksanaan berjalan lancar. Antusiasme masyarakat memang sangat tinggi,” katanya.
Menurut Jamal, hingga kini tidak ada kendala berarti selama proses penerimaan berlangsung. Namun, ia menilai pola pikir masyarakat yang masih mengelompokkan sekolah menjadi favorit dan nonfavorit menjadi tantangan tersendiri.
“Padahal semua sekolah memiliki standar yang sama. Di sekitar SMAN 5 juga ada SMAN 17 dan SMAN 19 yang sama-sama memberikan pelayanan pendidikan,” ujarnya.
SMAN 5 juga menjadi salah satu posko pelayanan SPMB bagi sekolah-sekolah di sekitarnya. Berbeda dengan SMKN 13, sekolah tersebut tidak lagi membuka penerimaan pada gelombang kedua karena seluruh kuota telah terpenuhi.
Tingginya jumlah pendaftar di sejumlah SMA dan SMK negeri menunjukkan minat masyarakat terhadap pendidikan negeri di Batam masih sangat tinggi.
Di sisi lain, kondisi ini kembali menegaskan bahwa kapasitas sekolah negeri belum mampu mengimbangi jumlah lulusan SMP yang terus bertambah setiap tahun.
Penambahan ruang belajar, pembangunan sekolah baru, hingga pemerataan kualitas antarsekolah negeri masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau agar persoalan kelebihan pendaftar tidak terus berulang setiap musim penerimaan peserta didik baru. (*)
Reporter : M. SYA’BAN – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK