Buka konten ini

LONDON (BP) – Jannik Sinner membuktikan bahwa kekalahan pahit di French Open pada Mei lalu bukan akhir dari perjalanannya. Petenis nomor satu dunia itu bangkit untuk mempertahankan gelar Wimbledon 2026, dengan mengalahkan Alexander Zverev 6-7 (7), 7-6 (2), 6-3, 6-4 dalam laga final, Senin (13/7) dini hari.
Gelar di London tersebut sekaligus menjadi trofi grand slam kelima dalam karier Sinner. Petenis 24 tahun itu juga menjadi pemain ke-10 pada era terbuka yang mampu mempertahankan gelar tunggal putra Wimbledon.
Namun, dibandingkan musim lalu, gelar kali ini memiliki arti lebih bagi Sinner. Sebab, dia harus melewati masa sulit setelah tersingkir pada babak kedua French Open. Saat itu, Sinner sempat unggul dua set dan memimpin 5-1, tetapi akhirnya kalah dari Juan Manuel Cerundolo.
“Saya merasa gelar ini sangat berarti. Karena setelah Paris, semuanya terasa berat. Tahun lalu juga sulit. Kami bekerja sangat keras dan banyak berkorban untuk berada di posisi ini,” ujar Sinner seusai pertandingan seperti dikutip BBC.
Roland Garros Mengubah Segalanya
Setelah tersingkir lebih cepat di Roland Garros -nama populer French Open- akibat masalah fisik, tim pelatih Sinner melakukan sejumlah penyesuaian. Salah satunya untuk fokus sepenuhnya di Wimbledon dan tidak mengikuti turnamen pemanasan di lapangan rumput.
Selama Wimbledon, Sinner juga memiliki rutinitas khusus saat pergantian set. Dia meninggalkan lapangan untuk mengganti pakaian dan menghabiskan beberapa menit di ruangan ber-AC. Langkah itu dilakukan untuk membantu Sinner menghadapi kondisi cuaca panas ekstrim yang seringkali membuatnya kesulitan.
“Penting untuk diingat bahwa dia tumbuh di Pegunungan Alpen Italia. Semakin sering dia berlatih dalam kondisi panas, semakin baik pula persiapannya,” ujar pelatih Darren Cahill seperti dikutip Punto de Break.
Selain persiapan fisik, Sinner juga terus memperbaiki kualitas servis. Hasilnya terlihat di fase akhir turnamen. Dia tercatat sebagai petenis putra pertama sejak Roger Federer pada Wimbledon 2003 yang menjuarai turnamen tanpa kehilangan servis pada semifinal dan final.
Namun, bagi Cahill, kelebihan terbesar Sinner bukan hanya kualitas tekniknya, tetapi juga kemampuannya merespons kegagalan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO