Buka konten ini

KONGO (BP) – Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo terus menunjukkan tren peningkatan dan kini telah menyebar ke wilayah baru. Otoritas kesehatan setempat menyatakan wabah masih berada pada fase sangat aktif dan belum mencapai puncaknya.
Menteri Kesehatan RD Kongo, Samuel Roger Kamba, mengatakan peningkatan jumlah kasus tidak sepenuhnya mencerminkan percepatan penularan, tetapi juga dipengaruhi oleh semakin luasnya pengawasan dan penemuan kasus di masyarakat.
”Ketika lebih banyak tenaga kesehatan diterjunkan untuk mencari pasien di masyarakat, jumlah kasus yang ditemukan memang meningkat. Hal itu juga memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai situasi di lapangan,” ujarnya di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, Kamis (9/7).
Berdasarkan data epidemiologi terbaru, RD Kongo telah mencatat 1.792 kasus terkonfirmasi Ebola. Dari jumlah tersebut, 625 orang meninggal dunia, 295 pasien dinyatakan sembuh, sedangkan 764 lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.
Kamba mengatakan masih terlalu dini untuk memperkirakan kapan wabah akan mulai melandai. Menurutnya, petugas kesehatan masih terus menemukan kasus-kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi, sementara tingginya mobilitas penduduk dan tantangan dalam pelibatan masyarakat masih menjadi hambatan pengendalian wabah.
Ia juga mengungkapkan bahwa penyebaran virus kini telah meluas ke luar Provinsi Ituri. Kasus impor terdeteksi di Kisangani, ibu kota Provinsi Tshopo, serta di Wamba, Provinsi Haut-Uele, sehingga memperluas cakupan penanganan wabah.
Otoritas kesehatan masih menyelidiki kasus-kasus yang ditemukan di wilayah baru tersebut. Sejumlah pakar kesehatan menilai penyebaran lintas provinsi meningkatkan risiko meluasnya wabah secara geografis.
Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika terus mengembangkan upaya penanganan melalui uji klinis terapi untuk virus Ebola Bundibugyo, yaitu galur yang menyebabkan wabah kali ini.
Uji klinis yang dimulai pada 2 Juli tersebut mengevaluasi efektivitas antibodi monoklonal MBP134 dan obat antivirus remdesivir, baik digunakan secara terpisah maupun kombinasi.
Selain itu, pekan depan juga akan dimulai uji coba obat antivirus oral obeldesivir terhadap sekitar 800 orang yang memiliki kontak berisiko tinggi dengan pasien Ebola. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY