Buka konten ini
JAKARTA (BP) — Tinggal di kawasan perumahan yang dekat dengan jalan tol atau jalan raya besar memang menawarkan kemudahan akses. Namun, di balik keuntungan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama bagi anak-anak.
Paparan polusi udara dari aktivitas kendaraan bermotor atau traffic-related air pollution (TRAP) dapat menjadi ancaman bagi penghuni rumah yang berada di sekitar jalur lalu lintas padat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respiratori Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauru, Sp.A., Subsp.Respi.(K), mengatakan rumah yang berada dekat jalan besar memiliki risiko lebih tinggi terpapar polusi yang berasal dari kendaraan.
”Kalau punya rumah di pinggir jalan layang besar justru meningkatkan risiko polusi udara yang didapat dari debu jalanan atau traffic-related air pollution,” kata dr. Cynthia kepada wartawan, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan, polusi dari kendaraan mengandung berbagai zat berbahaya, seperti materi partikulat berukuran sangat kecil, karbon hitam atau jelaga, nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), hingga volatile organic compounds (VOC).
Selain itu, debu jalanan dan kandungan logam berat dari aktivitas kendaraan juga dapat terhirup oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Menurut dr. Cynthia, dampak polusi udara tidak hanya dirasakan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.
“Bahkan lebih dari itu, bisa mengganggu sejak bayi di dalam kandungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ibu hamil yang sering terpapar polusi udara memiliki risiko lebih besar melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, mengalami kelahiran prematur, hingga gangguan perkembangan fungsi paru.
Pada anak-anak, paparan polusi dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, memicu stres oksidatif, serta meningkatkan risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, polusi udara juga dikaitkan dengan risiko kanker, gangguan sistem saraf, gangguan pembekuan darah, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.
dr. Cynthia menegaskan, sumber polusi yang memengaruhi kesehatan anak tidak hanya berasal dari luar rumah. Kondisi lingkungan tempat tinggal juga turut berperan terhadap tingkat paparan.
Beberapa faktor seperti renovasi rumah, pembakaran sampah di sekitar permukiman, asap rokok, dapur tanpa ventilasi atau exhaust, rumah lembap dan berjamur, hingga paparan polusi selama perjalanan menuju sekolah dapat memperburuk kualitas udara yang dihirup anak.
Akumulasi berbagai sumber polusi tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan berulang, memicu asma pada anak yang memiliki bakat alergi, atau memperparah serangan asma yang sudah dialami.
Selain itu, anak dengan rinitis alergi juga berisiko mengalami kondisi yang lebih berat, termasuk gangguan tidur akibat obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), gangguan konsentrasi dan belajar, hingga risiko mengalami penyakit paru kronis saat dewasa. Karena itu, dr. Cynthia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan kualitas udara di dalam rumah, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil maupun ibu hamil. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO