
Foto: Dokumentasi pribadi untuk Batam Pos
BATAM (BP) – Gelombang investasi pusat data (data center) yang terus mengalir ke Batam dinilai menjadi momentum penting bagi transformasi ekonomi daerah menuju pusat ekonomi digital Asia Tenggara. Namun, keberhasilan ambisi tersebut tidak hanya ditentukan oleh derasnya arus investasi atau besarnya kapasitas listrik yang tersedia, melainkan juga oleh kemampuan menjaga ketahanan air bersih sebagai fondasi keberlanjutan kawasan.
Pengamat ekonomi Universitas Batam, Dr. Mohamad Gita Indrawan, menilai Batam memiliki modal yang sangat kuat untuk berkembang menjadi salah satu digital hub utama di kawasan. Posisi geografis yang berdekatan dengan Singapura, jaringan kabel serat optik bawah laut, kawasan industri yang matang, serta berbagai insentif investasi menjadi kombinasi keunggulan yang sulit ditandingi daerah lain di Indonesia.
Menurut Gita, transformasi ekonomi Batam saat ini berlangsung secara fundamental. Selama puluhan tahun, struktur perekonomian kota ini bertumpu pada sektor manufaktur yang menyumbang sekitar 56 hingga 60 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kini, arah pembangunan mulai bergeser menuju industri berbasis teknologi tinggi dengan menjadikan Batam sebagai pusat infrastruktur digital regional.
Ia menilai pemerintah sebenarnya telah memiliki fondasi kebijakan yang cukup kuat melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun, Rencana Strategis BP Batam 2025–2029, hingga pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park.
Namun demikian, menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh kebijakan tersebut berjalan dalam satu kerangka pembangunan yang saling terintegrasi, terutama antara pengembangan industri digital, penyediaan energi, pengelolaan sumber daya air, dan perlindungan lingkungan.
“Kerangka kebijakannya sudah ada dan arahnya jelas. Namun integrasi antara pengembangan digital, energi, dan air masih memerlukan penyelarasan yang lebih konkret. Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan ketahanan air tetap terjaga seiring meningkatnya aktivitas industri dan pertumbuhan penduduk,” ujarnya.
Dari sisi daya saing, Batam dinilai berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Selain hanya berjarak sekitar 45 menit dari Singapura, Batam juga dilintasi lebih dari 15 jalur kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan berbagai negara di Asia. Kondisi tersebut diperkuat dengan tarif listrik yang kompetitif, status Free Trade Zone (FTZ), serta berbagai insentif investasi yang selama ini menjadi daya tarik perusahaanperusahaan teknologi global.
Perkembangan industri pusat data pun menunjukkan tren yang sangat pesat. Hingga pertengahan 2026, nilai investasi sektor tersebut telah melampaui Rp120 triliun melalui berbagai proyek berskala besar yang tengah dikembangkan di Batam.
Di Nongsa Digital Park sendiri, sejumlah fasilitas telah beroperasi, sebagian masih dibangun, sementara beberapa lainnya memasuki tahap perencanaan. Menurut Gita, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Batam mulai memperoleh kepercayaan sebagai salah satu lokasi strategis pengembangan infrastruktur digital di kawasan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa industri pusat data merupakan sektor padat modal dengan karakteristik yang berbeda dibandingkan industri manufaktur. Penyerapan tenaga kerja secara langsung memang tidak sebesar sektor produksi, tetapi nilai tambah ekonomi yang dihasilkan justru berasal dari efek berganda terhadap berbagai sektor lain.
Industri konstruksi, energi, telekomunikasi, logistik, jasa teknologi informasi, keamanan siber, pendidikan, hingga pengembangan talenta digital diperkirakan akan menjadi sektor yang paling banyak memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekosistem pusat data tersebut.
Menurut Gita, dampak tersebut mulai terlihat melalui hadirnya berbagai program pengembangan sumber daya manusia seperti Apple Developer Academy, IBM Hybrid Cloud Academy, RMIT University, hingga Epic Games di kawasan Nongsa Digital Park. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut menjadi sinyal bahwa investasi digital tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga mulai mendorong pembangunan ekosistem talenta.
Di sektor energi, ia menilai pemerintah telah mengambil langkah yang tepat melalui penguatan sistem kelistrikan, peningkatan kapasitas pembangkit, pengembangan energi baru terbarukan, hingga rencana pembangunan Green Super Grid yang akan memperkuat keandalan pasokan listrik bagi kawasan industri digital.
Berbeda dengan sektor energi yang terus diperkuat, tantangan penyediaan air memerlukan perhatian yang tidak kalah serius.
Menurut Gita, kebutuhan air pusat data modern memang jauh lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya karena sebagian besar telah menggunakan teknologi closed-loop cooling yang membuat air terus bersirkulasi di dalam sistem pendinginan. Teknologi tersebut mampu menekan kebutuhan air baru secara signifikan dibandingkan sistem pendinginan konvensional.
Namun, efisiensi teknologi tidak serta-merta menghilangkan pentingnya menjaga ketahanan air baku Batam. Sebagai kota kepulauan yang mengandalkan waduk sebagai sumber utama air baku, Batam tetap harus memperhitungkan pertumbuhan kebutuhan air dari sektor rumah tangga, industri manufaktur, kawasan komersial, hingga investasi digital yang terus berkembang.
Karena itu, pembangunan waduk baru, peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air, pemanfaatan air daur ulang untuk kebutuhan industri, hingga pengembangan teknologi desalinasi perlu mulai dipersiapkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Investasi digital memang membawa peluang besar bagi Batam. Namun keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, ketahanan air, dan keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.
Keberhasilan Batam menjadi pusat ekonomi digital Asia Tenggara tidak hanya diukur dari banyaknya pusat data yang berdiri ataupun besarnya nilai investasi yang masuk. Yang lebih penting, bagaimana pertumbuhan itu mampu menciptakan ekosistem yang sehat, memperkuat daya saing daerah, melahirkan talenta digital lokal, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam. (*/EUSEBIUS SARA)