Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ada pemain hebat. Ada pemain legendaris. Lalu ada Cristiano Ronaldo. Sosok yang tidak hanya mengubah cara dunia memandang sepak bola, tetapi juga mendefinisikan arti kerja keras, disiplin, dan ambisi.
Selama lebih dari dua dekade, nama Cristiano Ronaldo bukan sekadar menghiasi papan skor. Ia hidup dalam mimpi jutaan anak yang berlari mengejar bola di lapangan tanah, gang sempit, hingga stadion-stadion megah di berbagai penjuru dunia.
Pemilik nama lengkap Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro itu membuktikan bahwa bakat memang penting, tetapi kerja keras adalah pembeda. Dedikasi, disiplin, dan mentalitas pantang menyerah mampu mengalahkan segala keterbatasan dan mengantarkan seseorang mencapai puncak tertinggi.
Ronaldo bukanlah anak ajaib yang sejak kecil diprediksi menjadi pesepak bola terbaik sepanjang masa. Ia hanyalah bocah dari Pulau Madeira, Portugal, yang lahir pada 5 Februari 1985 dan tumbuh dalam keluarga sederhana dengan satu impian besar: menjadi pesepak bola profesional.
Dari mimpi sederhana itulah lahir perjalanan luar biasa yang kemudian mengubah sejarah olahraga paling populer di dunia.
Saat bergabung dengan Manchester United pada usia 18 tahun, Ronaldo dikenal sebagai pemain sayap dengan gocekan memikat. Teknik individunya memukau, tetapi ia juga kerap dikritik karena dianggap terlalu lama memainkan bola dan belum cukup tajam di depan gawang.
Ronaldo memilih menjawab kritik itu dengan kerja keras. Ia tidak ingin dikenang hanya sebagai pemain dengan aksi indah, melainkan sebagai juara dan pemain terbaik dunia.
Latihan tambahan setelah sesi resmi, ribuan tendangan bebas, disiplin menjaga kondisi fisik, serta tekad untuk terus berkembang menjadi bagian dari rutinitasnya setiap hari.
Di bawah asuhan Sir Alex Ferguson, Ronaldo menjelma menjadi mesin gol yang menakutkan. Bersama Manchester United, ia meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk Liga Inggris dan Liga Champions. Puncaknya, pada 2008, ia meraih Ballon d’Or pertamanya.
Satu Ballon d’Or Belum Cukup Pada 2009, Ronaldo menerima tantangan terbesar dalam kariernya dengan bergabung ke Real Madrid melalui transfer yang saat itu memecahkan rekor dunia. Banyak pihak meragukan kemampuannya memenuhi ekspektasi publik Santiago Bernabeu.
Namun, Ronaldo menjawab semuanya dengan cara yang paling sederhana: mencetak gol. Ia mengoleksi lebih dari 450 gol dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Real Madrid. Empat gelar Liga Champions, termasuk tiga trofi secara beruntun, menjadi bukti dominasinya bersama Los Blancos.
Pada periode yang sama, dunia menikmati salah satu rivalitas terbesar sepanjang sejarah olahraga: Cristiano Ronaldo melawan Lionel Messi.
Selama lebih dari satu dekade, keduanya saling memacu untuk menjadi yang terbaik. Rekor demi rekor dipecahkan. Perdebatan mengenai siapa yang paling hebat mungkin tak akan pernah usai, tetapi dunia sepak bola beruntung pernah menyaksikan dua pemain terbaik itu bermain pada era yang sama.
Setelah menaklukkan Inggris dan Spanyol, Ronaldo melanjutkan petualangannya ke Italia bersama Juventus. Saat itu usianya telah melewati 33 tahun dan banyak yang menilai masa emasnya telah berakhir.
Lagi-lagi, Ronaldo membungkam keraguan. Ia membawa Juventus menjuarai Serie A sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak kompetisi. Kariernya kemudian berlanjut dengan kembali ke Manchester United sebelum memilih bergabung dengan Al Nassr di Arab Saudi. Keputusan itu sempat dipandang sebagai akhir kariernya.
Nyatanya, kehadiran Ronaldo justru membuka babak baru sepak bola Arab Saudi dan menarik perhatian dunia. Bagi generasi yang tumbuh pada era 2000-an hingga 2020-an, Ronaldo bukan sekadar pesepak bola. Ia menjadi bagian dari masa kecil dan masa muda mereka.
Gol-gol spektakuler, selebrasi “Siuuu”, sundulan yang seolah melawan gravitasi, hingga mentalitas pantang menyerah telah menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Saat banyak pemain memilih pensiun di usia pertengahan 30-an, Ronaldo tetap bersaing di level tertinggi. Ia terus mencetak gol, memecahkan rekor, dan memimpin tim nasional Portugal.
Perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Ia pernah merasakan kekalahan menyakitkan, gagal di laga-laga besar, hingga menerima kritik tajam karena ambisinya. Namun, justru di situlah sisi manusiawi Ronaldo terlihat.
Ia menang, kalah, menangis, lalu bangkit lagi. Akan selalu lahir pemain-pemain hebat baru. Rekor-rekor pun suatu hari akan dipecahkan. Namun, tidak semua pemain mampu meninggalkan pengaruh yang melampaui statistik. Ronaldo melakukannya.
Ada satu momen dalam olahraga yang selalu sulit diterima penggemar. Bukan ketika tim kesayangan kalah, melainkan ketika mereka sadar sebuah era akan segera berakhir. Momen itu datang ketika Cristiano Ronaldo memastikan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi penampilan terakhirnya di panggung sepak bola terbesar dunia.
Keputusan itu diumumkan sehari sebelum Portugal menghadapi Spanyol. Sejak saat itu, dunia menyadari bahwa kesempatan menyaksikan Ronaldo di Piala Dunia tinggal menghitung hari. Kesempatan terakhir itu akhirnya berakhir pahit.
Portugal harus mengakui keunggulan Spanyol 0-1 setelah kebobolan gol pada penghujung pertandingan. Seusai laga, Ronaldo tak mampu menyembunyikan air matanya di hadapan para pendukung Portugal.
“Ya, wajar saja merasa sedih mengakhiri Piala Dunia seperti ini,” ucap Ronaldo.
Tangis itu menjadi penutup perjalanan panjangnya di Piala Dunia. Sejak menjalani debut bersama Portugal pada 2003, Ronaldo telah melewati berbagai generasi pemain, mengikuti perubahan besar dalam sepak bola, dan tetap bertahan di level tertinggi ketika banyak pemain seusianya telah pensiun.
Ia tampil dalam enam edisi Piala Dunia, mencetak gol di panggung terbesar, memimpin Portugal melewati berbagai masa sulit, serta mempersembahkan gelar Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League.
Memang, perjalanan terakhirnya di Piala Dunia tidak berakhir dengan trofi. Namun, ia telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar: rasa hormat dari lawan, kekaguman dari rekan setim, dan cinta jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Sepak bola menjadi lebih indah karena pernah memiliki seorang Cristiano Ronaldo. Terima kasih, Cristiano Ronaldo. (*/Antara)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK