Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di era media sosial, membagikan segala hal tentang kehidupan pribadi seolah menjadi sesuatu yang wajar. Namun, jauh sebelum internet hadir, para filsuf Stoik seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius telah mengajarkan pentingnya menjaga ruang pribadi. Menurut Stoicisme, tidak semua hal perlu diumbar kepada orang lain. Menjaga sebagian aspek kehidupan untuk diri sendiri bukan berarti tertutup, melainkan bentuk kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Menariknya, banyak gagasan Stoik tersebut sejalan dengan temuan psikologi modern. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi dapat meningkatkan stres, memicu ekspektasi sosial, hingga mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat tujuh hal yang dianjurkan filsafat Stoicisme untuk Anda simpan sendiri, beserta penjelasannya dari sudut pandang psikologi.
1. Tujuan Besar dan Rencana Jangka Panjang
Banyak orang merasa terdorong untuk menceritakan target hidup mereka kepada semua orang. Padahal, filsafat Stoik mengajarkan bahwa tindakan lebih penting daripada pengakuan.
Seneca pernah menekankan bahwa kebijaksanaan terlihat dari perbuatan, bukan dari banyaknya kata-kata. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai social reality. Ketika seseorang mengumumkan tujuan besarnya, otak dapat merasakan kepuasan seolah tujuan tersebut sudah mulai tercapai. Akibatnya, motivasi untuk benar-benar bekerja justru bisa menurun.
Menyimpan tujuan untuk diri sendiri membantu seseorang lebih fokus pada proses, bukan pada validasi dari orang lain. Biarkan hasil yang berbicara.
2. Kebaikan yang Anda Lakukan
Stoicisme mendorong manusia untuk berbuat baik karena itu memang benar untuk dilakukan, bukan demi pujian. Di era digital, sering kali seseorang terdorong membagikan setiap bantuan atau amal yang telah dilakukannya. Secara psikologis, ketika penghargaan eksternal menjadi tujuan utama, seseorang lebih mudah kecewa ketika tidak mendapat apresiasi yang diharapkan. Melakukan kebaikan diam-diam justru memperkuat kepuasan batin dan mengurangi ketergantungan pada pengakuan sosial. Sehingga, nilai kebaikan itu sendiri tetap terjaga.
3. Kemarahan saat Emosi Sedang Memuncak
Epictetus mengingatkan bahwa manusia tidak terganggu oleh peristiwa, melainkan oleh cara mereka menafsirkannya. Ketika sedang marah, banyak orang tergoda meluapkan emosi kepada siapa saja atau bahkan menuliskannya di medsos. Psikologi menunjukkan bahwa emosi yang intens dapat mengganggu kemampuan berpikir rasional. Apa yang diucapkan dalam keadaan marah sering kali disesali kemudian.
Karena itu, Stoicisme menganjurkan untuk memberi jarak terhadap emosi. Diam sejenak, merenung, dan merespons setelah pikiran lebih tenang akan menghasilkan keputusan yang lebih bijaksana.
4. Masalah Pribadi yang Tidak Semua Orang Perlu Tahu
Tidak semua orang yang mendengarkan masalah Anda memiliki niat baik atau kemampuan untuk membantu. Sebagian mungkin hanya penasaran, sementara yang lain bisa saja memberikan penilaian yang tidak diperlukan.
Menurut Stoicisme, seseorang sebaiknya selektif dalam memilih tempat berbagi. Psikologi juga menunjukkan bahwa curhat yang berlebihan tanpa solusi dapat memperpanjang stres melalui proses yang disebut rumination, yaitu terus-menerus mengulang masalah dalam pikiran.
Berbagi dengan orang yang tepat, seperti keluarga, sahabat dekat, atau profesional kesehatan mental, jauh lebih bermanfaat dibanding menceritakan semuanya kepada semua orang.
5. Kesuksesan dan Pencapaian secara Berlebihan
Marcus Aurelius mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu terpukau oleh pujian maupun penghinaan
Kesuksesan memang patut disyukuri, tetapi membicarakannya secara berlebihan dapat memicu perbandingan sosial, iri hati, atau bahkan tekanan untuk selalu terlihat berhasil. Psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, dan hal ini dapat memengaruhi hubungan interpersonal.
Kerendahan hati membantu seseorang tetap fokus pada perkembangan diri, bukan pada pencitraan. Orang yang tenang dalam keberhasilan biasanya lebih stabil secara emosional dan tidak mudah goyah oleh pendapat orang lain.
6. Rahasia dan Kelemahan Orang Lain
Salah satu nilai penting dalam Stoicisme adalah keadilan dan penghormatan terhadap sesama manusia. Menyebarkan rahasia orang lain atau membicarakan kelemahan mereka mungkin memberikan kesenangan sesaat, tetapi dapat merusak kepercayaan.
Dalam psikologi, kepercayaan merupakan fondasi utama hubungan yang sehat. Orang yang mampu menjaga rahasia cenderung dianggap lebih dapat diandalkan dan memiliki kualitas hubungan sosial yang lebih baik.
Menahan diri untuk tidak bergosip juga membantu menjaga ketenangan batin, karena energi tidak habis untuk membicarakan kehidupan orang lain.
7. Penderitaan yang Sedang Anda Jalani secara Berlebihan
Stoicisme tidak mengajarkan untuk memendam semua kesedihan. Namun, para filsuf Stoik mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan penderitaan sebagai identitas dirinya.Psikologi modern menemukan bahwa terus-menerus mendefinisikan diri berdasarkan luka atau kesulitan dapat membuat seseorang terjebak dalam pola pikir korban (victim mentality). Hal ini dapat menghambat kemampuan untuk bangkit dan berkembang. Sebaliknya, menerima kenyataan, mencari bantuan ketika diperlukan, dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan akan membantu meningkatkan ketahanan mental (resilience). (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI