Buka konten ini

AUSTRIA berpotensi menjadi lawan terberat bagi juara bertahan Argentina di fase grup Piala Dunia 2026. Bukan hanya karena Das Team –julukan Austria– menempati peringkat lebih baik (ke-21) dari Aljazair (30) dan Yordania (68) di grup J. Tetapi juga karena Austria bermain dengan pressing agresif atau langsung menekan setelah kehilangan bola.
Itu tak lepas karena Austria ditangani Ralf Rangnick. Sosok yang dikenal sebagai godfather of gegenpressing. Julukan yang datang bukan tanpa alasan. Sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026, Austria mencatat nilai PPDA (passes per defensive action) terendah di antara seluruh tim. Semakin rendah angka tersebut, semakin agresif tekanan yang dilakukan sebuah tim.
Namun, Argentina punya senjata menghadapi taktik tersebut di AT&T Stadium, Arlington, dini hari nanti (siaran langsung TVRI Nasional pukul 00.00 WIB). Data Opta menunjukkan bahwa La Albiceleste –julukan Argentina– mampu menyelesaikan 89 persen operan saat berada di bawah high-intensity pressure. Angka itu merupakan yang terbaik di antara seluruh tim kontestan Piala Dunia 2026.
”Argentina dan Austria sama-sama memenangkan laga pertama. Kemenangan kedua berarti tiket lolos ke fase knockout. Mereka (Austria) tentu akan berupaya mempertahankan skema main terbaiknya,” kata entrenador Argentina Lionel Scaloni seperti dilansir dari TyC Sports. Dalam laga pertama (17/6), Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria menekuk Yordania 3-1.
Opsi Bola Mati
Austria sejatinya tidak hanya mengandalkan pressing. Das Team juga bisa mengancam lewat bola mati. Tepatnya, dari striker jangkung Sasa Kalajdzic yang memiliki tinggi 2 meter. Kehadirannya mengingatkan Argentina saat menghadapi striker Belanda Wout Weghorst (1,97 meter) di perempat final Piala Dunia 2022.
Kala itu, Weghorst mampu mencetak brace, dengan salah satunya tercipta melalui sundulan. Beruntung, Argentina berhasil menang via adu penalti setelah bermain imbang 2-2 di waktu normal dan babak perpanjangan waktu.
Hanya, Kalajdzic belum tentu jadi pilihan starter seperti saat menang 3-1 atas Yordania. Saat itu, Kalajdzic hanya main di babak pertama. Saat turun minum, striker LASK tersebut digantikan oleh striker veteran Marko Arnautovic.
”Aku akan memilih (siapa starter) berdasar kondisi terakhir pemain,” ucap Rangnick di laman resmi OFB (PSSI-nya Austria).
Ganti Starting XI
Bukan hanya Austria yang bisa mengubah starting XI, Argentina juga melakukannya. La Albiceleste hampir pasti tampil tanpa bek kanan Gonzalo Montiel dini hari nanti (23/6). Bek kanan River Plate itu hanya tampil selama 45 menit lawan Aljazair karena mengalami cedera otot paha. Posisinya kemungkinan digantikan Nahuel Molina (Atletico Madrid).
Terlepas dari cedera Montiel, Scaloni memang hampir tidak pernah menurunkan susunan pemain yang sama secara beruntun selama menangani Argentina sejak 2018. Dia fleksibel menyesuaikan dengan karakter tim lawan.
Lalu, siapa yang akan kehilangan tempat lawan Austria? Thiago Almada salah satunya. Posisinya bisa digantikan oleh Nicolas Gonzalez. Sementara, di lini depan, persaingan melibatkan antara Lautaro Martinez dan Julian Alvarez sebagai pendamping kapten tim Lionel Messi.
”(Lautaro) Martinez adalah finisher yang brilian. Sementara Julian (Alvarez) punya penyelesaian akhir, tetapi juga lebih aktif di luar kotak penalti,” tutur Sergio Aguero, mantan striker La Albiceleste, kepada Clarin. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO