Buka konten ini
BURGENSTOCK (BP) – Upaya mengakhiri konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase baru. Setelah menyepakati nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang membuka jalan menuju perdamaian, kedua negara kini bersiap melanjutkan negosiasi teknis di Swiss guna memastikan seluruh komitmen yang telah disepakati dapat dijalankan.
Kesepakatan yang dimediasi Pakistan dan Qatar itu menjadi salah satu perkembangan geopolitik paling penting pada 2026. Selain menghentikan eskalasi militer yang sempat mengguncang Timur Tengah, memorandum tersebut juga membuka peluang pembahasan lebih luas terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga stabilitas kawasan Teluk.
Dalam draf memorandum yang disepakati pada Minggu (14/6), AS dan Iran berkomitmen menghentikan seluruh operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon. Kedua pihak juga sepakat menahan diri dari penggunaan kekuatan militer serta menghormati integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Kesepakatan tersebut memberi waktu 60 hari bagi Washington dan Teheran untuk merundingkan perjanjian final yang mencakup program nuklir Iran dan kebijakan sanksi ekonomi AS.
Selain itu, Amerika Serikat berjanji mengakhiri blokade laut terhadap Iran secara bertahap dalam waktu 30 hari. Washington juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan mitra regional untuk menyiapkan dana sedikitnya 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.353 triliun guna mendukung rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran.
Dalam isu nuklir, Iran kembali menegaskan tidak akan mengembangkan maupun memiliki senjata nuklir. Sebagai imbalannya, AS berkomitmen mengakhiri berbagai bentuk sanksi yang selama ini diberlakukan terhadap Teheran.
Selama proses menuju kesepakatan akhir berlangsung, kedua negara sepakat mempertahankan status quo. Iran tidak akan memperluas program nuklirnya, sementara AS tidak akan memberlakukan sanksi baru maupun mengerahkan tambahan pasukan ke kawasan.
Pembicaraan Sempat Tertunda
Meski demikian, implementasi memorandum tersebut tidak berjalan mulus. Swiss yang semula dijadwalkan menjadi lokasi peresmian kesepakatan damai pada 19 Juni terpaksa menunda agenda tersebut.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan pembatalan pertemuan tanpa menjelaskan alasan secara rinci. Namun sejumlah sumber menyebut penundaan terjadi akibat belum rampungnya pengaturan teknis serta keberatan Iran terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata yang masih terjadi di Lebanon selatan.
Sumber pemerintah Pakistan menyebut Teheran menilai serangan yang masih berlangsung di wilayah tersebut, terutama yang melibatkan Israel dan Hizbullah, menjadi hambatan serius bagi implementasi memorandum.
Akibat situasi itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang semula dijadwalkan terbang ke Swiss membatalkan perjalanan mereka pada menit-menit terakhir setelah menerima arahan dari pimpinan tertinggi Iran.
Presiden AS Donald Trump tetap optimistis kesepakatan final dapat dicapai dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan memorandum.
“Jika tidak ada kesepakatan dalam 60 hari, kami akan melakukan hal-hal yang tidak akan membuat mereka senang,” ujar Trump saat berada di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland.
Negosiasi Teknis Berlanjut
Meski sempat tertunda, Pakistan selaku mediator memastikan pembicaraan tingkat teknis tetap dilanjutkan di resor pegunungan Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6) waktu setempat.
Lokasi tersebut dipilih karena dinilai mampu menyediakan suasana tertutup dan netral untuk mendukung jalannya negosiasi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei mengatakan delegasi Teheran akan menggunakan forum tersebut untuk menuntut kejelasan langkah konkret AS dalam menjalankan seluruh komitmen yang tertuang dalam memorandum.
Menurut Baghaei, kegagalan memenuhi komitmen dapat membahayakan keseluruhan proses perdamaian yang sedang dibangun.
“Amerika Serikat harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesegera mungkin. Jika tidak, seluruh kesepakatan akan berada dalam bahaya,” tegasnya.
Dari pihak AS, Wakil Presiden JD Vance turut bergabung dalam tim negosiator dan dijadwalkan berada di Swiss selama satu hingga dua hari guna mengikuti pembahasan teknis.
Sebelum perundingan dimulai, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi lebih dahulu bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis di Burgenstock. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda diplomatik yang mendahului negosiasi tertutup antara delegasi AS, Iran, Pakistan, dan Qatar.
Bagi banyak pihak, keberhasilan implementasi memorandum ini tidak hanya menentukan masa depan hubungan Washington dan Teheran, tetapi juga akan menjadi penentu stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan. Jika negosiasi berjalan sesuai rencana, kesepakatan final berpotensi mengakhiri salah satu konflik paling kompleks yang selama ini membebani keamanan global dan pasar energi dunia. (*/ANTARA)
Laporan: JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK