Buka konten ini
DINAS Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepulauan Riau memastikan hingga saat ini Kota Batam masih aman dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), meski secara nasional muncul kekhawatiran terkait potensi PHK massal akibat tekanan ekonomi global.
Sekretaris Disnakertrans Kepri, John Barus, mengatakan sampai saat ini belum ada tanda-tanda perusahaan di Batam akan melakukan PHK besar-besaran.
“Sesuai perkembangan hingga hari ini (Kemarin), tanda-tanda bakal ada PHK di Kepri, khususnya Batam memang belum ada,” ujar Barus, Minggu (24/5).
Menurut dia, masuknya investasi baru ke Batam justru masih mendorong perekrutan tenaga kerja. Kondisi tersebut dinilai mampu menekan angka pengangguran di Kepri yang saat ini diperkirakan mencapai sekitar 75 ribu orang.
Barus mengatakan sejumlah perusahaan di Batam masih membuka lowongan pekerjaan. Bahkan, dalam waktu dekat juga akan digelar job fair untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. “Perusahaan di Batam masih merekrut pekerja baru. Ini menunjukkan peluang kerja masih terbuka,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah kesiapan sumber daya manusia agar sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang di Batam.
Karena itu, Disnakertrans Kepri terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK).
“Dunia pendidikan juga harus menyesuaikan jurusan dengan kebutuhan dunia kerja, terutama SMK. Ini perlu kolaborasi semua pihak untuk menekan angka pengangguran,” tambahnya.
Di sisi lain, kalangan pengusaha mengakui sektor industri di Batam memang sedang menghadapi tekanan berat akibat perlambatan ekonomi global, kenaikan biaya produksi, hingga gangguan rantai pasok internasional.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Roma Nasir Hutabarat, menilai industri di Batam saat ini belum melemah, namun sedang memasuki fase ujian berat atau pressure test.
“Industri belum melemah, tetapi sedang menghadapi tekanan eksternal yang memaksa penyesuaian,” ujar Roma.
Menurut dia, sektor manufaktur, khususnya elektronik dan komponen, masih menjadi tulang punggung ekonomi Batam. Namun tekanan mulai terasa akibat kenaikan biaya logistik, energi, serta ketidakpastian permintaan global.
Meski demikian, sektor jasa penunjang industri seperti logistik, pergudangan, dan layanan pemeliharaan dinilai masih cukup bertahan.
Roma menilai Batam sedang bergerak menuju transformasi industri dari sektor padat karya menuju industri berbasis keterampilan dan teknologi yang lebih tinggi.
“Batam tidak sedang melemah, tetapi berada di titik krusial transformasi. Ketahanan industri ke depan ditentukan oleh kecepatan adaptasi kebijakan dan kualitas kolaborasi,” katanya.
Senada, Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengatakan dunia usaha saat ini memang belum mengalami perlambatan drastis, namun tidak lagi se-ekspansif tahun sebelumnya.
Menurut dia, tekanan utama datang dari kenaikan biaya bahan baku impor dan gangguan pasokan global, terutama komponen elektronik seperti chip semikonduktor.
“Yang paling terasa sekarang adalah kenaikan biaya pokok produksi. Ini dipicu oleh naiknya harga komponen impor seperti chip elektronik yang mengalami kelangkaan global,” ujarnya.
Selain itu, harga bahan baku plastik, biaya logistik, hingga potensi kenaikan tarif energi juga mulai membebani industri di Batam.
Meski demikian, Rafki memastikan hingga saat ini belum ada laporan signifikan terkait PHK di kalangan perusahaan anggota Apindo.
“Belum ada laporan PHK. Tapi kita tidak bisa menjamin ke depan, karena tekanan ke perusahaan cukup besar dari berbagai sisi,” katanya.
Ia berharap kondisi global segera membaik agar biaya produksi dapat kembali stabil dan permintaan ekspor meningkat.
“Kita masih optimistis, dengan catatan kondisi global bisa membaik. Kalau konflik mereda, biaya produksi bisa turun dan permintaan kembali meningkat,” tutup Rafki. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – AZIS MAULANA
Editor : RATNA IRTATIK