Buka konten ini

Direktur Politeknik Negeri Batam, Wakil Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia, Ketua IA-ITB Pengda Kepulauan Riau, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Kepri, Anggota Dewan Pembina Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Batam.
SEPANJANG bulan Mei, Indonesia selalu diingatkan pada tiga momentum besar yang sangat penting bagi perjalanan bangsa: Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, dan Hari Kebangkitan Nasional. Ketiganya sesungguhnya saling terhubung. Hari Buruh mengingatkan pentingnya manusia sebagai penggerak produktivitas dan pembangunan ekonomi. Hari Pendidikan Nasional mengingatkan bahwa kualitas manusia tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui pendidikan yang relevan dan bermutu. Sementara Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa kemajuan bangsa hanya mungkin terjadi ketika seluruh kekuatan bangsa mampu bergerak dalam arah yang sama.
Dalam konteks Batam, tiga momentum ini terasa semakin relevan hari ini. Di tengah berbagai ketidakpastian global, Batam justru menunjukkan capaian yang patut diapresiasi. Pertumbuhan ekonominya masih berada di atas rata-rata nasional dan menjadi salah satu yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Kontribusi Batam terhadap ekonomi Kepri juga tetap dominan. Aktivitas industri masih bergerak dinamis, investasi terus tumbuh, dan indikator pembangunan manusia menunjukkan tren yang semakin baik.
Capaian tersebut tentu tidak datang begitu saja. Ia dibangun dari kerja panjang berbagai pihak, pemerintah pusat dan pemeritnah daerah, BP Batam, dunia usaha, institusi pendidikan, serta para pekerja dan masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan kota ini. Namun di balik capaian tersebut, ada satu hal yang mulai perlu menjadi perhatian bersama, dunia sedang berubah jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Ketegangan geopolitik global semakin sering terjadi. Rantai pasok dunia mulai semakin rentan. Teknologi berkembang sangat cepat. Persaingan antarnegara dan antarwilayah dalam menarik investasi juga semakin ketat. Pada saat yang sama, tantangan perkotaan dan industri di Batam juga mulai berubah. Lahan industri semakin terbatas, biaya produksi semakin kompetitif, sementara jumlah pencari kerja yang masuk ke Batam terus meningkat, namun tidak semuanya dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Karena itu, tantangan Batam hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan pertumbuhan tinggi, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut semakin berkualitas, tangguh, dan memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.
Dari Kota Industri Menuju Kota Nilai Tambah
Selama ini Batam tumbuh melalui kekuatan yang relatif jelas: kawasan industri, investasi asing, kemudahan impor bahan baku, dan posisi geografis yang strategis dekat Singapura serta jalur perdagangan internasional. Model ini berhasil dan tetap perlu dijaga. Batam masih membutuhkan investasi asing sebagai bagian penting dari rantai pasok global. Industri manufaktur dan perakitan juga tetap akan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kota ini.
Namun secara perlahan, Batam juga perlu mulai memperkuat struktur industrinya dari dalam. Menariknya, arah tersebut mulai terlihat dalam berbagai kebijakan dan pernyataan strategis pemerintah daerah maupun BP Batam. Beberapa waktu lalu, BP Batam sebagai motor penggerak investasi di Batam menyampaikan bahwa Batam tidak boleh hanya menjadi tempat perakitan, tetapi juga perlu mulai menumbuhkan industri pendukung yang mampu mengolah bahan baku maupun bahan setengah jadi untuk memperkuat sektor penyediaan komponen industri dan rantai pasok strategis. Pandangan ini penting karena menunjukkan bahwa Batam mulai melihat industrialisasi bukan hanya dari sisi besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar nilai tambah yang dapat tumbuh di dalam negeri.
Apalagi beberapa tahun terakhir mulai terlihat bahwa investasi domestik yang masuk ke Batam juga semakin berimbang dengan investasi asing. Ini menjadi sinyal positif bahwa pelaku industri nasional mulai melihat Batam bukan hanya sebagai lokasi produksi, tetapi sebagai bagian dari pengembangan ekosistem industri Indonesia yang lebih besar. Harapannya tentu sederhana tetapi penting: perusahaan multinasional yang berorientasi ekspor menjadi lebih produktif karena didukung rantai pasok lokal yang semakin kuat, sementara industri nasional juga tumbuh dengan nilai tambah yang lebih besar.
Dalam konteks inilah, Batam perlu mulai bergerak dari investment-driven growth menuju innovation-driven dan talent-driven growth. Artinya, Batam tidak cukup hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga perlu menjadi pusat penciptaan nilai (value creation), simpul inovasi teknologi dan industri dan sekaligus penghasil talenta unggul berdaya saing global
Energi, Logistik, dan Ketahanan Kota
Transformasi industri tentu tidak dapat berdiri sendiri. Daya saing Batam ke depan juga akan sangat ditentukan oleh kesiapan energi, logistik, dan ketahanan kotanya. Dalam beberapa tahun terakhir, isu energi semakin terasa nyata bagi dunia industri. Energi bukan lagi sekadar soal pasokan listrik tersedia atau tidak, tetapi sudah menjadi bagian dari daya saing ekonomi. Ketika harga energi global naik, biaya produksi ikut meningkat dan tekanan terhadap industri menjadi nyata. Karena itu, upaya pengembangan energi baru terbarukan seperti PLTS, Wind turbine, pemanfaatan energi berbasis limbah (waste-to-energy), hingga efisiensi energi di kawasan industri perlu mulai dipersiapkan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Demikian pula dengan logistik dan pangan. Sebagai kota kepulauan yang sangat bergantung pada konektivitas dan distribusi, Batam perlu terus memperkuat sistem logistik serta ketahanan pangannya melalui konektivitas regional yang lebih kuat dengan wilayah sekitar Kepri, Sumatera, maupun potensi sumber daya kelautan yang sangat besar.
Fondasi Utama: SDM, Pendidikan, dan Inovasi
Namun pada akhirnya, seluruh agenda besar tersebut akan sangat bergantung pada satu hal yang paling mendasar yaitu kualitas sumber daya manusia. Industri bernilai tambah tinggi tidak mungkin tumbuh tanpa pekerja yang kompeten, adaptif, dan terus belajar. Karena itu, momentum Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional sebenarnya memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Pekerja yang kompeten dan sejahtera lahir dari sistem pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Di sinilah pendidikan menjadi fondasi daya saing bangsa.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya sudah mulai terlihat berbagai upaya positif yang dilakukan Pemerintah Kota Batam dalam memperkuat akses dan kualitas SDM. Misalnya melalui perluasan berbagai program beasiswa melanjutkan ke pendidikan tinggi bagi yang baru-baru ini diluncurkan pemeritah kota Batam. Program-program seperti ini sangat penting karena membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak Batam dan hinterland untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan meningkatkan mobilitas sosialnya.
Selain itu, terobosan seperti platform MANTAB (Manajemen Talenta Batam) yang dikembangkan BP Batam dan terintegrasi dengan SIAP KERJA milik Kemenaker juga menjadi langkah yang cukup strategis dalam membangun sistem talenta yang lebih terhubung dengan kebutuhan investasi dan industri yang terus berkembang. Karena tantangan ke depan bukan hanya menyediakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan bahwa tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Di sisi lain, Batam juga perlu mulai mendorong tumbuhnya lebih banyak SDM yang mampu membangun usaha berbasis teknologi dan inovasi sehingga perlahan lahir lebih banyak pelaku usaha lokal yang menjadi bagian dari industri bernilai tambah tinggi. Dalam konteks ini, hubungan antara dunia usaha, pemerintah, dan institusi pendidikan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya harus tumbuh dalam satu ekosistem pembangunan yang saling terhubung.
Kembali pada Fondasi yang Pernah Ditetapkan
Sesungguhnya Batam sudah pernah memiliki arah pembangunan yang sangat visioner. Kita pernah mengenal gagasan Batam Intelligent Island pada awal tahun 2000-an yang meletakkan fondasi konektivitas digital kota ini jauh lebih awal dibanding banyak daerah lain. Lebih jauh lagi, arah pembangunan tersebut juga telah ditegaskan melalui Peraturan Daerah Kota Batam No. 4 Tahun 2015 tentang pembangunan daerah berbasis daya saing melalui inovasi dan kompetensi. Peraturan daerah ini sesungguhnya sangat relevan untuk menjadi fondasi menentukan arah kebangkitan Batam ke depan. Di dalamnya ditegaskan bahwa pembangunan Batam perlu bertumpu pada peningkatan daya saing melalui inovasi dan penguatan kompetensi sumber daya manusia guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Perda tersebut juga menempatkan pemerintah daerah bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai penggerak ekosistem pembangunan yang mengintegrasikan dunia usaha, pendidikan, dan masyarakat. Fokus pembangunannya mencakup pengembangan SDM kompeten, pemanfaatan teknologi, penguatan kreativitas dan inovasi, hingga pembangunan inkubator bisnis dan technopark sebagai pusat inovasi daerah. Bahkan di dalamnya juga diatur pentingnya dukungan pembiayaan dan kelembagaan, termasuk penguatan peran BLUD, agar ekosistem inovasi daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Jika diperhatikan secara mendalam, substansi perda ini sebenarnya sangat visioner. Karena jauh sebelum isu transformasi ekonomi berbasis inovasi menjadi pembahasan utama hari ini, Batam sesungguhnya sudah memiliki arah pembangunan yang menempatkan kompetensi SDM dan inovasi sebagai fondasi utama daya saing kota. Artinya, Batam sebenarnya tidak kekurangan visi. Yang perlu terus diperkuat hari ini adalah konsistensi, kolaborasi, dan keberanian untuk mulai mempersiapkan masa depan sejak sekarang.
Dengan semakin solidnya hubungan antara BP Batam dan Pemerintah Kota Batam saat ini, momentum sebenarnya sedang terbuka. Ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat arah pembangunan jangka panjang yang lebih terintegrasi, lebih produktif, dan lebih berbasis nilai tambah.
Karena pada akhirnya, kebangkitan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh sejauh mana kota tersebut mampu menyiapkan manusianya untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat dan tidak pasti.
Dan mungkin inilah makna penting kebangkitan kembali bagi Batam hari ini: bukan sekadar tumbuh lebih cepat, tetapi tumbuh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berkelanjutan. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. (*)